Setting: Perjalanan darat dari Aceh ke Sumatera Utara, Parapat, dan Tomok di Pulau Samosir.
Perjalanan dari dataran tinggi Gayo menuju Sumatera Utara memakan waktu cukup panjang. Pemandangan alam yang hijau perlahan berubah menjadi lanskap khas Sumatera Utara yang didominasi perkebunan sawit dan karet. Obrolan di dalam mobil bergeser dari refleksi sejarah Aceh ke antusiasme Faris yang ingin mencoba kuliner Medan yang katanya pedas dan nendang.
"Gue denger-denger, bumbu Arsik ikan mas itu juara banget," kata Faris, matanya melotot penuh nafsu makan.
"Bisa nggak sih sehari aja kamu nggak bahas makanan, Ris?" keluh Aisyah, sambil mencatat kilometer tempuh di odometer mobil. "Ingat kita harus jaga kesehatan pencernaan selama perjalanan jauh ini."
Zahra sibuk mengedit vlog kopinya kemarin, sesekali tertawa sendiri melihat ekspresi masamnya saat menyeruput kopi pahit. Lev hanya fokus menyetir, sesekali bersenandung kecil.
Menjelang sore, mereka tiba di Parapat, sebuah kota kecil di tepi Danau Toba. Saat pandangan pertama kali menyapu danau vulkanik terbesar di Asia Tenggara itu, semua celetukan dan tawa mendadak terhenti.
Danau Toba terhampar luas bagai lautan biru yang tenang, dikelilingi perbukitan hijau yang menjulang. Di tengahnya, Pulau Samosir tampak seperti zamrud yang mengapung.
"Masya Allah," ucap Lev, memarkir mobil di tepi jalan. Mereka berempat keluar, tertegun oleh keindahan alam yang luar biasa agung itu.
"Ini... ini lebih indah dari Raja Ampat di foto-foto," kata Zahra, kameranya tergantung lemas di lehernya. Untuk pertama kalinya, dia lupa merekam.
Faris mengusap matanya, takjub. "Gue nggak nyangka se-megah ini. Gila sih."
Mereka memutuskan untuk menginap semalam di Parapat sebelum menyeberang ke Pulau Samosir keesokan paginya. Malam itu, mereka menikmati makan malam ikan bakar di tepi danau yang diterangi cahaya bulan. Suasana damai terasa sekali.
"Di sini mayoritas non-muslim, tapi kita tetap bisa nemu makanan halal dengan gampang, dan mereka ramah banget," komentar Lev, terkesan dengan keramahan warga lokal Batak Toba. "Toleransi di sini nyata banget."
Pagi harinya, setelah sarapan, mereka menaiki kapal feri menuju Tomok, desa wisata utama di Pulau Samosir.
Perjalanan sekitar 1 jam itu memberikan mereka pemandangan danau yang tiada duanya. Faris dan Lev sibuk berdiskusi soal sejarah geologi danau ini, sementara Aisyah dan Zahra sibuk berfoto dengan latar belakang air danau yang membiru.
Tiba di Tomok, mereka disambut deretan toko cinderamata dan rumah adat Bolon khas Batak yang unik. Mereka langsung merasakan denyut kehidupan bermasyarakat suku Batak yang kental dengan adat istiadatnya.
Tujuan utama mereka adalah melihat pertunjukan tari Tor-tor dan Sigale-gale, boneka kayu yang bisa menari sendirinya, konon untuk menghibur roh leluhur.
Saat berjalan di kompleks makam Raja Sidabutar, mereka bertemu dengan seorang pemandu lokal bernama Pak Tua, seorang pria Batak yang ramah dengan senyum lebar. Pak Tua menjelaskan sejarah dan budaya Batak dengan penuh semangat.
"Meskipun kami punya adat yang kuat, kami juga terbuka dengan agama lain, termasuk Islam," jelas Pak Tua sambil menunjuk sebuah masjid kecil tak jauh dari gereja di desa itu. "Di sini hidup rukun, Nak. Saling menghormati satu sama lain."
Lev terkesan. "Itu yang kita cari, Pak. Pelajaran tentang toleransi."
Aisyah yang pendiam, bertanya, "Pak, bagaimana dengan makanan di sini? Kami harus pastikan halal."
Pak Tua tertawa ramah. "Tenang, Nak. Di desa wisata ini banyak pilihan makanan halal. Kami menghargai tamu. Lagipula, banyak juga saudara kami yang muslim di Samosir ini."
Zahra, yang sudah on-fire lagi dengan kamera vlognya, merekam interaksi tersebut. "Ini dia guys! Bukti nyata Bhinneka Tunggal Ika! Keren banget kan!"
Setelah menonton pertunjukan tari Tor-tor yang energik, mereka menyempatkan diri untuk berbelanja sedikit suvenir. Zahra membeli ulos (kain tenun khas Batak) berwarna cerah, sementara Faris membeli miniatur rumah adat.
Saat waktu Dzuhur tiba, mereka berempat pamit dan mencari masjid terdekat yang ditunjukkan Pak Tua. Masjid itu sederhana, tapi bersih dan terawat. Mereka menunaikan salat di sana, di tengah mayoritas non-muslim, merasakan kedamaian yang mendalam.
Keluar dari masjid, Lev merenung. Perjalanan ini memberinya perspektif baru. Di Banjarmasin, lingkungan mereka sangat homogen, mayoritas muslim. Di sini, di tengah budaya yang berbeda, keislaman mereka justru terasa lebih kuat karena harus beradaptasi dan menunjukkan sikap toleransi yang baik.
"Kita baru di tempat kedua, tapi pelajarannya udah sebanyak ini," kata Lev kepada teman-temannya saat mereka kembali ke pelabuhan.
"Betul, Bro," timpal Faris. "Indonesia ini memang kaya. Bukan cuma alamnya, tapi manusianya."
Mereka meninggalkan Samosir dengan hati penuh inspirasi. Danau Toba bukan hanya menyuguhkan keindahan alam yang viral dan instagramable, tetapi juga pelajaran hidup bermasyarakat yang Islami dan penuh toleransi.
Tujuan selanjutnya: Padang, Sumatera Barat. Menuju kota dengan kuliner paling hits di Indonesia. Dan Faris sudah tidak sabar untuk itu.
