Kekacauan berlangsung selama lima menit penuh yang terasa seperti satu jam bagi Lev. Kucing oren milik Vania, yang dipanggil "Oyen", ternyata jauh lebih cepat dan lincah daripada yang terlihat. Ia berhasil membuat si Bekantan, yang sekarang mereka sebut "Bekas" (singkatan dari Bekantan Stres), semakin panik dan memanjat pohon pinang tertinggi di area Siring.
Vania terengah-engah di bawah pohon pinang, mencoba menjatuhkan Bekas dengan lemparan sandal jepitnya yang meleset jauh. "Turun lo! Jangan jadi pengecut di atas sana!"
"Vania! Jangan dilempar!" Anatasya berlari mendekati Vania, napasnya tersengal. "Itu memperparah stresnya! Bekantan itu hewan sosial, dia butuh ketenangan, bukan provokasi!"
Lev Ryley tiba di lokasi, wajahnya pucat pasi. Prof. Rahmat sudah memanggil petugas keamanan taman, yang kini sibuk membubarkan kerumunan warga yang penasaran.
"Gimana caranya nenangin dia?" tanya Lev panik, menunjuk ke Bekas yang kini duduk meringkuk di puncak pohon pinang, menggigit kartunya sendiri yang entah bagaimana bisa ia rebut dari tangan Lev tadi.
"Dia gigit kartunya!" seru Lev. "Nanti rusak, Van!"
"Dia butuh makanan yang familiar," ujar Anatasya, matanya menjelajahi sekitarnya. "Bekantan omnivora, tapi preferensinya daun dan buah-buahan tertentu. Bukan sandal jepit."
Vania mendengus. "Di mana kita nyari daun putat di sini? Ini area kota!"
Lev melihat sekeliling. Matanya menangkap sesuatu di seberang jalan, dekat area pedagang kaki lima. "Pisang goreng!"
"Hah?" Vania dan Anatasya menoleh ke arah pandangan Lev.
"Ada penjual pisang goreng di sana. Mungkin pisang bisa menenangkannya? Semua monyet suka pisang, kan?" usul Lev.
Anatasya menggelengkan kepala. "Stereotip, Lev. Bekantan liar jarang makan pisang budidaya. Tapi dalam kondisi stres begini, mungkin insting dasarnya bisa dipancing."
"Ya udah, nggak ada pilihan lain!" Vania langsung berlari menyeberangi jalan tanpa melihat kanan kiri, mengabaikan klakson motor yang berbunyi nyaring. Lev dan Anatasya mengikutinya.
Mereka membeli satu tumpuk besar pisang kepok mentah dari penjual yang kebingungan. "Bu, buat monyet, Bu," kata Vania sambil membayar pisang dengan tergesa-gesa.
Kembali ke bawah pohon pinang, Anatasya mengambil satu sisir pisang dan mengangkatnya tinggi-tinggi. "Bekas! Lihat! Makanan!"
Bekas melirik ke bawah dengan curiga. Teriakan khra-khra khasnya sedikit mereda. Ia melihat pisang, lalu melihat Vania yang masih siap siaga dengan kuda-kuda silatnya.
"Van, tenang dulu napa?" bisik Lev. "Lo malah nakutin dia."
Vania menurunkan tangannya dengan kesal. "Fine. Tapi kalau dia nyerang, jangan salahin gue."
Anatasya dengan sabar memisahkan satu pisang dan melemparkannya ke atas dahan di bawah Bekas. Bekas mengendus pisang itu, ragu-ragu. Kucing oren Oyen muncul dari balik semak-semak, mengeong pelan, seolah ikut prihatin.
Beberapa detik hening. Akhirnya, Bekas mengulurkan tangannya yang panjang, mengambil pisang itu, dan mulai mengunyahnya perlahan. Teriakan marahnya berhenti. Suasana tegang mulai mencair.
"Berhasil!" bisik Lev lega.
"Sekarang, Lev, coba panggil kartunya lagi," instruksi Anatasya. "Ingat, dia ini summon kamu. Ada ikatan energi di antara kalian. Fokus pada ikatan itu, jangan pada ketakutanmu."
Lev menutup matanya, memfokuskan pikirannya. Dia membayangkan kartunya, membayangkan simbol biru emerald, dan membayangkan koneksi antara dirinya dengan Bekas. "Kembali," bisik Lev pelan.
Kartu yang digigit Bekas bersinar redup. Cahaya biru itu merambat di tubuh Bekas, dan dalam sekejap, Bekas lenyap menjadi partikel cahaya, meninggalkan pisang yang belum habis dimakan di dahan pohon.
Kartu Bekantan itu mendarat mulus di tangan Lev. Kali ini, tidak panas lagi. Statusnya berubah menjadi: "Status: Tenang (Lapar)."
Trio itu saling pandang, lalu tertawa lega. Mereka berhasil menyelesaikan misi pertama mereka, meskipun dengan sedikit drama.
Tiba-tiba, sebuah bayangan besar menutupi mereka. Prof. Rahmat berdiri di belakang mereka, dengan tangan terlipat di dada dan ekspresi wajah yang sulit diartikan.
"Jadi," suara Prof. Rahmat terdengar berat, "kalian bertiga... membuat kekacauan terbesar dalam sejarah Siring Nol Kilometer."
Lev, Vania, dan Anatasya hanya bisa menundukkan kepala, siap menerima hukuman atau nilai E untuk mata kuliah fotografi mereka. Petugas keamanan taman menatap mereka dengan tatapan curiga.
Namun, kejadian ini telah menyatukan mereka dalam sebuah rahasia besar. Mereka bukan lagi mahasiswa biasa di Banjarmasin. Mereka adalah Summoner, dan petualangan mereka baru saja dimulai, diawali dengan secuil pisang goreng dan seekor bekantan yang stres.
