Alarm berbunyi pukul 02.00 WITA. Rumah keluarga Ryley langsung hidup. Bukan dengan energi yang tenang, tapi dengan kepanikan khas keluarga yang akan bepergian subuh.
"Rayyan, bangun, Nak. Kita mau terbang!" Anindya mengguncang pelan tubuh si bungsu yang masih pulas memeluk boneka bekantan.
"Bekantannya harus duduk di jendela, Bu!" gumam Rayyan setengah sadar.
Di luar, mobil sewaan sudah menunggu. Semua koper mint green yang jumlahnya enam buah itu berhasil masuk bagasi dengan perjuangan, berkat keahlian Lev dalam menata barang.
"Paspor, tiket, dompet, ponsel, sudah semua?" tanya Lev untuk kesekian kalinya.
"Sudah, Yah. Aku sudah checklist lima kali," jawab Aisyah, yang terlihat paling tenang di antara semua.
Perjalanan singkat ke Bandara Internasional Syamsudin Noor di Banjarbaru terasa mendebarkan. Ghina dan Rayyan tak henti-hentinya menempelkan wajah mereka ke jendela mobil, menatap jalanan Banjarmasin yang sepi.
"Sampai ketemu dua minggu lagi, Kucing Oren!" teriak Ghina ke arah kucing tetangga yang sedang duduk santai di pagar.
Tiba di bandara, suasana mulai ramai. Setelah check-in dan urusan imigrasi domestik, mereka menunggu penerbangan pertama menuju Jakarta. Penerbangan ini relatif lancar, meski ada sedikit drama saat Rayyan protes karena tidak bisa duduk di jendela saat take-off dan Ghina yang tak mau berhenti bicara sepanjang penerbangan.
Di Bandara Internasional Soekarno-Hatta Jakarta, mereka memiliki waktu transit yang cukup panjang sebelum penerbangan internasional mereka menuju Manchester. Waktu transit ini dimanfaatkan Anindya untuk salat Subuh dan sedikit "riset" di toko duty-free, yang untungnya berhasil dihentikan Lev sebelum terjadi pembelian impulsif.
Pukul 07.00 WIB, mereka mulai memasuki gerbang internasional. Ini adalah momen yang ditunggu-tunggu.
"Yah, di sinilah kalian ketemu, kan?" tanya Aisyah penasaran saat mereka berjalan menuju pesawat Emirates A380 yang super besar.
Lev tersenyum, kilas balik 17 tahun lalu terputar di benaknya. "Iya, Nak. Di pesawat inilah, Ayah yang super gugup mau kuliah ke Manchester, ketemu Ibumu yang cerewetnya minta ampun, tapi cantik."
"Ih, Ayah! Dulu kan Ibu pendiam dan kalem!" protes Anindya sambil tertawa, mengingat pertemuan pertama mereka yang kikuk. Lev yang salah duduk, dan Anindya yang menawarinya permen Alpenliebe. Momen sederhana yang menjadi awal dari segalanya.
Masuk ke dalam pesawat double-decker itu, anak-anak terperangah. Maryam langsung mengeluarkan sketchbook-nya, terinspirasi interior mewah pesawat.
"Pesawatnya besar sekali, Yah! Kayak rumah tingkat!" seru Rayyan.
Mereka duduk berenam, formasi 3-3 di bagian tengah. Lev, Anindya, Rayyan di satu sisi. Aisyah, Maryam, Ghina di sisi lain. Perjalanan panjang sekitar 16 jam dimulai.
Tantangan logistik khas perjalanan jauh bersama balita (dan pra-remaja) langsung terasa. Rayyan mulai rewel setelah 3 jam terbang. Ghina bosan dengan menu makanan pesawat. Maryam asyik nonton film, tapi Aisyah sibuk membantu Ibu menenangkan Rayyan.
Lev dan Anindya harus bergantian menidurkan Rayyan, mengajaknya jalan-jalan kecil di lorong pesawat, dan membujuk Ghina untuk makan.
"Bu, kalau Rayyan rewel terus, gimana nanti di Swiss? Kan dingin," bisik Lev cemas.
"Tenang, Yah. Rayyan cuma kaget. Nanti juga biasa," Anindya menepuk punggung Rayyan yang akhirnya tertidur di pangkuannya.
Di ketinggian puluhan ribu kaki di atas permukaan laut, di antara awan-awan putih, keluarga Ryley menemukan ritme mereka. Ada tawa saat Ghina tak sengaja menumpahkan jus, ada kebersamaan saat mereka salat di area khusus pesawat secara bergantian, dan ada momen haru saat Lev memandang wajah lelah istrinya yang sedang tertidur sambil mendekap si bungsu.
Mereka membuktikan bahwa perjalanan adalah proses adaptasi. Di tengah keterbatasan ruang pesawat, mereka tetap menjaga nilai-nilai Islami mereka, tetap harmonis, dan tetap menemukan hikmah.
Setelah penerbangan yang terasa sangat panjang, pilot mengumumkan bahwa pesawat akan segera mendarat di Manchester Airport (MAN). Jendela pesawat memperlihatkan pemandangan kota industri Inggris yang mulai terlihat.
Anak-anak terbangun, mata mereka berbinar.
"We made it, Yah!" seru Anindya, mencium pipi Lev.
Mereka telah menempuh ribuan kilometer dari Banjarmasin yang panas ke Manchester yang sejuk. Petualangan napak tilas dan keindahan alam Swiss menanti mereka. Nazar cinta di tanah wali, jilid dua, resmi dimulai di tanah Ratu Elizabeth.
