Persiapan logistik memang penting, tapi bagi keluarga Ryley, persiapan spiritual tak kalah krusial. Perjalanan jauh ke negeri orang membutuhkan restu dari Yang Maha Kuasa, dan juga dari lingkungan sosial mereka di Banjarmasin.
Hari itu, Anindya Putri memiliki agenda penting: pertemuan rutin majelis taklim komplek perumahan mereka. Sebagai bendahara yang disegani (dan paling humoris), Anindya merasa wajib meminta doa dan pamit kepada ibu-ibu jamaah.
Sore harinya, ibu-ibu sudah berkumpul di rumah Bu RT. Aroma teh panas dan kue bingka pandan menguar semerbak. Di sesi terakhir, setelah tausiyah dari Ustadzah Fatimah, Anindya mengambil kesempatan.
"Ibu-ibu yang dirahmati Allah," Anindya memulai dengan suara cerianya. "Izinkan saya, Anindya Putri, dan keluarga kecil kami, untuk memohon doa dan pamit. Kami berencana untuk liburan keluarga ke Eropa, tepatnya Manchester dan Swiss, dalam rangka mensyukuri nikmat Allah atas ulang tahun pernikahan kami yang ke-17 dan kelulusan Aisyah."
Ruangan mendadak riuh dengan ucapan "Masya Allah" dan "Tabarakallah".
"Ya Allah, Bu Anindya! Jauhnya!" seru salah satu ibu.
"Iya nih, Bu. Sekalian napak tilas katanya, tempat kami ketemu dulu," Anindya tertawa. "Mohon doanya ya, Bu. Semoga perjalanan kami lancar, selamat, sehat semua, dan kembali membawa banyak hikmah."
Ustadzah Fatimah tersenyum. "Masya Allah, niat yang mulia, Bu Anindya. Perjalanan untuk bersyukur dan menguatkan ikatan keluarga adalah ibadah. Kami doakan semoga Allah SWT mudahkan setiap langkah kaki keluarga Ryley. Ingat, di manapun kita berada, jangan tinggalkan salat, jaga adab, dan tunjukkan akhlak mulia sebagai muslim yang baik."
"Amin," sahut ibu-ibu serempak.
Anindya merasa lega. Restu dari komunitas terdekatnya memberinya ketenangan batin. Sebelum pulang, dia membagikan goodie bag kecil berisi tester produk afiliasinya, membuat ibu-ibu makin happy. Strategi influencer-nya memang jitu.
Di sisi lain kota, di kantor pemerintahan tempat Lev bekerja di bidang IT, suasananya lebih formal tapi tak kalah hangat. Lev sudah mengajukan cuti panjang.
"Cuti dua minggu, Lev? Tumben banget," ujar Pak Bowo, atasan Lev, saat menandatangani formulir cuti.
"Iya, Pak. Mumpung ada momen spesial keluarga. Istri sama anak-anak sudah excited banget," jawab Lev jujur.
"Baguslah, Lev. Kamu ini kan orangnya jujur, rendah hati, dan kerjaanmu rapi. Jarang-jarang ambil cuti panjang. Enjoy liburannya. Masalah server kantor biar saya yang handle sama tim lain," kata Pak Bowo, menepuk pundak Lev.
Lev merasa dihargai. Prinsip-prinsip luhur yang ia pegang teguh sejak dulu, yang ia petik dari perjalanan ziarah para wali, benar-benar tertanam kuat dalam etos kerjanya. Kejujuran dan tanggung jawab selalu membawa berkah.
Sebelum meninggalkan kantor, ia menyempatkan diri mampir ke musala kantor untuk salat Ashar. Di sana, ia bertemu dengan Ustadz Malik, pembimbing rohani di kantornya.
"Mau berangkat ya, Pak Lev?" sapa Ustadz Malik ramah.
"Iya, Ustadz. Mohon doanya. Mau ke Eropa sama keluarga," kata Lev.
Ustadz Malik mengangguk. "Subhanallah. Jangan lupa cari masjid di sana, Pak. Islam itu rahmatan lil 'alamin, ada di mana-mana. Jaga diri, jaga keluarga. Semoga Allah selalu melindungi."
"Amin, Syukron Ustadz," ujar Lev.
Di rumah, persiapan akhir sedang berlangsung. Koper-koper mint green sudah diisi penuh, siap ditimbang. Aisyah sibuk melipat hijab instan, Maryam memasukkan sketchbook barunya ke dalam ransel, Ghina dan Rayyan berebut tempat duduk di kursi belakang mobil yang akan mengantar mereka ke bandara.
Lev tiba di rumah dengan hati yang tenang. Tugas kantor selesai, restu sudah didapat. Semua drama belanja online dan koper terbayar lunas melihat antusiasme di mata istri dan anak-anaknya.
Di bawah langit Banjarmasin yang mulai temaram, keluarga Ryley memanjatkan doa bersama sekali lagi sebelum tidur. Mereka siap. Penerbangan panjang yang menanti mereka esok hari mungkin akan penuh tantangan logistik, tapi dengan restu dan doa yang menyertai, mereka yakin petualangan ini akan menjadi perjalanan penuh hikmah yang tak terlupakan.
