Setelah menemukan harta karun terpenting, yaitu kebaikan di dalam hati mereka, persahabatan Kiko, Momo, Pipi, dan Lala semakin kuat. Mereka sering menghabiskan waktu bersama, bermain di tepi danau, dan melihat tunas-tunas pohon yang mereka tanam semakin tinggi. Namun, kebaikan mereka tidak berhenti di situ. Kebaikan itu terus tumbuh, seperti pohon-pohon yang mereka tanam.
Suatu pagi, saat mereka sedang bermain, mereka melihat seekor burung elang besar yang sedang mengincar seekor tupai kecil. Tupai itu ketakutan dan tidak bisa bergerak. Kiko, Momo, dan Pipi, yang sudah belajar tentang keberanian dari pengalaman mereka, segera mengambil tindakan.
"Kita harus membantu tupai itu!" seru Momo.
"Tapi... bagaimana caranya?" tanya Pipi. "Burung elang itu besar sekali."
"Kita harus membuat burung elang itu pergi," usul Kiko.
Mereka mulai membuat keributan. Kiko melompat-lompat, Momo bergelantungan di dahan-dahan, dan Pipi membuat suara aneh. Lala, yang mengawasi dari danau, melompat-lompat dan membuat ombak besar. Suara-suara aneh dan gerakan-gerakan tak terduga itu membuat burung elang itu bingung dan akhirnya terbang menjauh.
Tupai itu selamat. Ia sangat berterima kasih kepada Kiko, Momo, Pipi, dan Lala. "Terima kasih banyak!" katanya. "Kalian telah menyelamatkan hidupku."
Kiko, Momo, Pipi, dan Lala merasa sangat senang. Mereka berhasil membantu tupai itu. Mereka menyadari, kebaikan tidak selalu harus berupa hal-hal besar. Terkadang, kebaikan bisa berupa hal-hal kecil, seperti membuat keributan untuk menakut-nakuti burung elang.
Beruang Bijak yang menyaksikan dari jauh, tersenyum. "Kalian telah memberikan hadiah terindah untuk hutan," katanya.
"Hadiah apa, Ayah?" tanya Kiko.
"Kalian telah memberikan hadiah persahabatan dan keberanian," jawab Beruang Bijak. "Kalian telah menunjukkan bahwa dengan bersatu, kalian bisa melakukan hal-hal yang luar biasa. Kalian telah menunjukkan bahwa satu perbuatan baik, sekecil apa pun itu, bisa membawa kebahagiaan yang besar."
Kiko, Momo, Pipi, dan Lala saling berpandangan. Mereka merasa bangga. Mereka tidak hanya menanam biji, tetapi juga menanam kebaikan. Dan kebaikan itu, kini tumbuh subur, seindah tunas-tunas pohon yang mereka tanam. Mereka menyadari, kebaikan adalah hadiah terbaik yang bisa diberikan kepada siapa pun, di mana pun.
Pada akhir cerita, Kiko, Momo, Pipi, dan Lala berkumpul bersama. Mereka melihat tunas-tunas pohon yang mereka tanam kini sudah menjadi pohon-pohon kecil yang rindang. Mereka duduk di bawah pohon-pohon itu, dan memandangi keindahan hutan yang kembali hijau. Mereka tahu, kebaikan yang mereka tanam akan terus tumbuh, dan akan membawa kebahagiaan bagi semua makhluk di Hutan Rimba.
