Sembari Zayn disibukkan dengan negosiasi bisnis bernilai jutaan dolar di kantornya, Laila Al-Fassi memiliki misi yang sama pentingnya di rumah: menyusun shopping list mingguan. Di kediaman Al-Fassi, daftar belanja bukan berisi minyak goreng atau sabun cuci, melainkan daftar keinginan yang melibatkan beberapa butik paling eksklusif di dunia.
Laila duduk di ruang kerjanya yang didekorasi minimalis, dengan meja kerja kaca Eames dan kursi kulit putih Herman Miller Aeron. Di depannya terbentang Vogue Arabia edisi terbaru dan sebuah buku catatan Montblanc dengan pulpen Meisterstück bertinta emas.
"Oke, fokus, Laila," gumamnya pada dirinya sendiri. Dia membuka lemari pakaiannya yang seukuran kamar tidur standar. Ratusan tas tangan desainer tersusun rapi berdasarkan merek dan warna, diterangi oleh lampu LED yang dirancang khusus untuk mencegah kulit tas mengering. Ada barisan tas Chanel Classic Flap dalam berbagai warna, koleksi Prada Galleria, Balenciaga Hourglass, dan deretan tas Dior Lady Dior yang ikonik.
Tapi ada yang kurang. Laila merasa ada lubang di hatinya—atau lebih tepatnya, di rak paling atas lemarinya.
"Aku butuh sesuatu yang fresh. Sesuatu yang timeless, tapi musim ini," bisiknya.
Dia mulai menulis:
Shopping List Laila A.F.:
Hermès: Birkin 30 (warna Étain atau Togo Leather) ATAU Kelly 28 (warna Gold). Cek ketersediaan di Paris via agen pribadiku. Prioritas!
Tiffany & Co.: Lihat koleksi HardWear terbaru. Mungkin gelang emas putih dengan berlian.
Bottega Veneta: Tas Jodie mini dalam warna Parakeet (hijau cerah).
Jimmy Choo/Christian Louboutin: Sepatu pump baru untuk acara amal minggu depan.
Perawatan Kulit: Crème de la Mer habis. Pesan 3 jar ukuran besar.
Laila tersenyum puas melihat daftar itu. Sederhana dan efisien.
Saat itulah Amira masuk ke ruangan ibunya, membawa tabletnya. "Umi, urgent!" serunya.
"Ada apa, sayang? Ada diskon Swarovski?" canda Laila.
"Bukan, Umi. Fitting gaun pernikahanku (dalam novel ini nanti) di Paris dimajukan. Aku harus segera memutuskan desain akhir dengan head designer Zuhair Murad. Masalahnya, aku masih bimbang antara bahan tulle atau organza sutra untuk bagian roknya."
Laila meletakkan pulpen Montblanc-nya dan memberikan perhatian penuh. Ini masalah serius. "Tentu saja organza sutra, Amira! Tulle itu untuk anak remaja. Kita bicara couture di sini. Kita butuh sesuatu yang mengalir elegan saat kamu berjalan di karpet."
"Benar juga, Umi. Aku akan email mereka sekarang." Amira pamit keluar, krisis fashion-nya teratasi.
Tak lama kemudian, Tariq yang baru pulang sekolah dengan diantar sopir, masuk ke ruang kerja ibunya. Ransel RIMOWA-nya dibanting pelan ke sofa.
"Umi, aku berhasil! Aku dapat link eksklusif untuk draw Nike SB Dunk Low ‘Paris’ edisi sangat terbatas. Tapi harus dibayar dalam 3 jam. Harganya lumayan," lapor Tariq, matanya berbinar. Sepatu itu bernilai ribuan dolar di pasar resell.
Laila menghela napas, tersenyum. "Baiklah, Umi transfer dananya. Tapi kamu harus janji pakai sepatu itu, jangan cuma disimpan di kotak kaca seperti pajangan museum."
"Siap, Umi!" Tariq mencium pipi ibunya dan kabur ke kamarnya.
Laila kembali fokus pada daftar belanjanya. Kehidupan di rumah Al-Fassi berputar cepat di sekitar hal-hal material, tetapi di balik semua merek mewah itu, ada dinamika keluarga yang hangat dan penuh dukungan.
Laila mengambil ponsel satelitnya yang canggih dan menghubungi agen belanja pribadinya di Paris. "Halo, Monsieur Dubois? Ini Laila Al-Fassi. Saya punya permintaan untuk Birkin... ya, yang warna Étain. Bisakah Anda mengurusnya sebelum akhir minggu ini? Jazakallah Khairan (Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan)."
Misi belanja hari ini dimulai. Bagi Laila, ini bukan tentang pemborosan semata, ini adalah tentang apresiasi terhadap seni, keahlian, dan kualitas tertinggi yang ditawarkan dunia. Sebuah filosofi hidup yang mahal, tapi sangat membahagiakan.
