Adzan Subuh baru saja selesai berkumandang, merobek keheningan subuh di Kota Puruk Cahu, ibu kota Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah. Kota kecil yang dijuluki "Kota Emas" ini masih diselimuti kabut tipis sisa hujan semalam. Di sebuah kompleks perumahan dinas yang rapi, lampu kamar di rumah nomor 24 sudah menyala terang.
Muhammad Hifni (30), dengan gerakan cekatan namun tenang, melipat sajadah hijau lumutnya setelah menyelesaikan shalat fardhu. Wajahnya yang teduh memancarkan sisa-sisa khusyuk. Dia melirik jam dinding di ruang tengah: Pukul 04.45 WITA.
"Rina, sudah bangun, Sayang?" bisik Hifni lembut di ambang pintu kamar utama.
Rina Rufida (30), istrinya, sudah duduk di tepi ranjang, merapikan mukena putihnya. "Sudah, Mas. Barusan selesai witir. Nisa masih nyenyak sekali."
Di ranjang sebelah mereka, Khalisa Salsabilla yang berusia lima tahun tidur meringkuk lucu, memeluk boneka panda kesayangannya. Wajah polosnya terlihat damai.
"Alhamdulillah," ujar Hifni sambil tersenyum. "Mas mandi dulu, setelah itu kita siap-siap. Jadwal padat hari ini."
Hifni adalah seorang PNS di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Penelitian dan Pengembangan (Bappedalitbang) Kabupaten Murung Raya. Posisinya sebagai Kepala Sub Bagian Tata Usaha menuntutnya untuk selalu rapi, terstruktur, dan siap sedia menghadapi tumpukan proposal serta rapat koordinasi. Gaji pas-pasan khas PNS muda, tapi berkah dirasa cukup berkat manajemen keuangan keluarga yang diatur apik oleh Rina.
Sementara Rina, juga seorang PNS di bidang pendidikan—lebih spesifiknya dosen muda di Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Puruk Cahu yang merangkap guru honorer Bahasa Inggris di salah satu SMA unggulan—punya jadwal yang tak kalah padat. Rina adalah tipe wanita karier yang tidak pernah melupakan kodratnya sebagai ibu dan istri.
Pagi itu, rutinitas mereka berjalan seperti biasa. Setelah Hifni selesai mandi, giliran Rina yang masuk ke kamar mandi. Hifni menggunakan waktu luang itu untuk mengecek status WhatsApp grup kantor yang sudah ramai sejak subuh, sambil sesekali melirik Khalisa, memastikan putrinya tetap nyaman.
Pukul 05.30 WITA, dapur mulai hidup. Rina, dengan apron motif bunga-bunga, mulai meracik sarapan. Aroma nasi goreng terasi khas Banjar—sentuhan dari masa lalu mereka di Banjarmasin—mulai memenuhi ruangan.
"Mas, tolong bangunkan Khalisa ya. Bilang kalau nasi gorengnya sudah siap," pinta Rina dari dapur.
Hifni masuk ke kamar dan mendekati Khalisa. "Anak salehah Ayah, bangun yuk. Ada sarapan enak buatan Bunda."
Khalisa menggeliat manja. Mata bulatnya mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya terbuka penuh. Senyum manis langsung merekah. "Ayah! Pagi!"
"Pagi, Sayang. Yuk cuci muka, shalat subuh dulu baru makan," ajak Hifni penuh kasih.
Keluarga kecil ini duduk di meja makan tepat pukul 06.00 WITA. Kehidupan di Puruk Cahu yang tenang ini memberikan mereka waktu luang yang cukup untuk memulai hari tanpa terburu-buru, sesuatu yang mungkin sulit didapat jika mereka memilih bertahan di kota besar seperti Banjarmasin atau Jakarta.
"Bunda, Khalisa mau nanya," celetuk Khalisa di tengah sarapan, dengan mulut penuh nasi goreng.
"Telan dulu makanannya, Nak," tegur Rina lembut. "Mau tanya apa?"
"Kenapa Ayah sama Bunda harus kerja terus? Biar dapat uang?"
Hifni dan Rina saling pandang, tersenyum geli mendengar pertanyaan kritis khas anak umur lima tahun.
"Biar dapat uang iya, Sayang," jawab Hifni. "Tapi lebih dari itu, Ayah dan Bunda bekerja untuk mengabdi. Ayah bantu Bapak Bupati membangun kota kita ini, biar jalanannya bagus, biar banyak orang pintar. Bunda bantu anak-anak mahasiswa sama anak SMA biar mereka pintar bahasa Inggris, biar bisa keliling dunia."
"Oh, jadi biar Puruk Cahu hebat ya, Ayah?"
"Pintar anak Ayah!" puji Hifni sambil mengusap kepala Khalisa yang berkerudung instan kecil berwarna merah muda.
Pukul 06.45 WITA, ketiganya sudah siap berangkat. Hifni dengan seragam khaki PNS-nya yang rapi, Rina dengan setelan batik khas dosen yang elegan, dan Khalisa dengan seragam TK Islam terpadu miliknya.
Mereka berangkat menggunakan mobil dinas Hifni yang sederhana. Di sepanjang perjalanan menuju sekolah Khalisa dan kemudian menuju kantor yang lokasinya berdekatan di pusat pemerintahan, Hifni dan Rina menikmati suasana pagi Puruk Cahu. Kota yang sedang berkembang, dengan denyut nadi pembangunan yang terasa nyata.
"Mas, jangan lupa nanti rapat jam sepuluh di ruang Sekda," Rina mengingatkan saat Hifni menurunkan Rina di depan gerbang sekolah tempatnya mengajar sementara, sebelum Rina ke kampus STIA.
"Siap, Bos Rina!" Hifni memberi hormat lucu yang mengundang tawa Rina.
Setelah mencium tangan Hifni dan pipi Khalisa, Rina melangkah masuk ke sekolah. Hifni melanjutkan perjalanan ke kantornya.
Pagi di Puruk Cahu tahun 2025 itu terasa sempurna bagi keluarga kecil ini. Mereka mungkin hanya sepasang PNS biasa di daerah terpencil Kalimantan, jauh dari hiruk pikuk ibu kota provinsi, tetapi mereka memiliki harta paling berharga: kebahagiaan, tujuan hidup yang jelas, dan cinta yang tulus. Babak pertama kehidupan mereka di Bumi Peradaban baru saja dimulai, menjanjikan kisah yang penuh berkah dan tantangan.
