Saksikan keajaiban geologis Scala dei Turchi di Sisilia, Italia, bersama Khalisah dan Rabiatun. Bab 2 novel perjalanan Islami ini menyajikan petualangan unik di tebing putih, interaksi budaya, dan tips kuliner halal.
Bab 2: Eksotisme Pasir Putih Scala dei Turchi, Italia
Pesawat low-cost carrier yang membawa Khalisah dan Rabiatun mendarat mulus di Bandara Palermo, Sisilia, Italia, sore harinya. Perjalanan dari Portugal ke Italia memakan waktu dan energi, tetapi antusiasme mereka tak luntur. Setelah mengambil bagasi dan menyewa mobil baru, kali ini Fiat 500 mini berwarna merah cerah pilihan Rabiatun, mereka melaju menuju arah Agrigento.
"Sisilia ini auranya beda banget sama Algarve," komentar Khalisah sambil mengamati kebun jeruk dan lemon di sepanjang jalan.
"Iya, lebih terasa Mediteranianya. Hangat dan sedikit kering," timpal Rabiatun, "mana penginapan kita, Khal? Perutku sudah demo minta diisi pasta."
"Sabar, Bun. Kita menginap di B&B dekat Realmonte. View-nya langsung pantai," jawab Khalisah sambil tersenyum.
Malam itu, mereka menikmati makan malam di sebuah restoran halal yang Khalisah temukan melalui aplikasi online. Mereka menyantap risotto ai frutti di mare (risotto makanan laut) yang lezat, memastikan semua bahan yang digunakan halal sebelum memesan.
Keesokan paginya, setelah shalat Subuh, mereka menuju destinasi bab kedua mereka: Scala dei Turchi, atau "Tangga Turki". Pantai ini bukanlah pantai berpasir biasa, melainkan sebuah formasi tebing batu kapur putih keemasan yang unik, membentuk tangga alami yang menjorok ke laut biru kehijauan.
Matahari pagi menyinari permukaan batu kapur, membuatnya tampak bersinar. Kontras warna putih bersih tebing dengan birunya laut Mediterania adalah pemandangan yang membuat mereka terdiam sejenak, mengagumi kebesaran Allah SWT.
"Masya Allah, ini batu beneran seputih ini?" ujar Rabiatun takjub, menyentuh permukaan tebing yang terasa halus dan hangat.
Mereka mulai mendaki "tangga" alami itu. Permukaannya memang landai dan bisa dipijak, meskipun butuh kehati-hatian karena beberapa bagian licin. Rabiatun, dengan sifat cerianya, mulai "meluncur" turun di permukaan batu yang halus, seolah-olah sedang bermain perosotan raksasa.
"Wuidih! Seru banget, Khal! Ayo coba!" ajak Rabiatun, jilbabnya berkibar ditiup angin laut.
Khalisah tertawa melihat tingkah sahabatnya. "Nggak, ah. Aku mau jaga wibawa sebagai muslimah tangguh. Kamu hati-hati jangan sampai kecebur!"
Beberapa turis lain yang sedang berjemur di puncak tebing ikut tersenyum melihat tingkah Rabiatun. Suasana kehidupan bermasyarakat di sini sangat santai dan terbuka.
Saat di puncak tebing, mereka bertemu dengan sepasang suami istri paruh baya asal Jerman yang sedang berbulan madu kedua mereka. Mereka mulai berbincang ringan. Sang istri penasaran dengan pakaian yang dikenakan Khalisah dan Rabiatun yang santun namun tetap terlihat modis dan nyaman.
"Pakaian Anda sangat unik dan indah. Apakah nyaman digunakan saat traveling panas begini?" tanya sang istri ramah.
Khalisah menjelaskan tentang konsep modest fashion dalam Islam, bahwa mereka bisa tetap menikmati pantai dan alam tanpa harus membuka aurat secara keseluruhan. Mereka juga bertukar cerita tentang destinasi wisata halal yang pernah mereka kunjungi. Sang kakek Jerman terkesan dengan perencanaan perjalanan Khalisah dan mengapresiasi cara mereka menikmati liburan tanpa mengganggu kenyamanan orang lain.
Momen komedi kembali terjadi saat mereka turun dari tebing. Rabiatun, yang terlalu asyik merekam vlog, tidak sengaja tersandung gundukan kecil dan jatuh terduduk persis di depan seorang fotografer profesional yang sedang membidik angle terbaik. Wajah Rabiatun memerah malu, tapi sang fotografer malah tertawa ramah dan membantu Rabiatun berdiri.
"Tidak apa-apa, Nona. Momen Anda jatuh justru membuat foto saya lebih hidup!" ujarnya sambil tertawa.
Di dasar pantai, mereka menemukan kedai kecil yang menjual minuman dingin dan arancini (bola nasi goreng khas Sisilia). Mereka memesan minuman dan bertanya tentang kehalalan arancini tersebut. Pemilik kedai, seorang pria Sisilia ramah bernama Enzo, menjelaskan bahwa dia memiliki varian khusus yang hanya berisi sayuran dan keju, tanpa daging babi atau alkohol.
Mereka menikmati arancini lezat itu sambil mengamati perpaduan unik antara pasir keemasan di bagian bawah tebing dan batu kapur putih di atasnya. Air laut yang jernih menggoda Rabiatun untuk berenang.
"Khal, aku mau nyebur bentar, ya. Udah gatel nih badan," pinta Rabiatun.
Khalisah mengangguk. "Pakai burkini-nya di bilik ganti sana, Bun. Jangan lupa baca doa masuk kamar mandi dan pakai burkini-nya dengan benar, jangan terbalik kayak kemarin," goda Khalisah, mengingat kejadian lucu di Bab 3 (yang akan datang).
Rabiatun cemberut, tapi tetap menuruti. Ia berlari ke bilik ganti, dan tak lama kemudian muncul dengan burkini motif bunga yang cerah. Ia langsung terjun ke air dan berenang dengan riang gembira, menikmati privasi dan kenyamanan pakaian renang santunnya.
Khalisah tersenyum melihat sahabatnya bahagia. Ia merapikan catatan perjalanannya di buku agenda:
Tips Wisata Halal Scala dei Turchi:
*Permukaan tebing licin, hati-hati saat berjalan atau berswafoto.
*Bawa air minum yang cukup, karena di atas tebing cukup panas.
*Makanan halal tersedia di kedai lokal, tanyakan dengan jelas isinya. Enzo's Place recommended.
Pantai ini sangat fotogenik, siapkan kamera terbaik Anda!
Hari mulai sore. Cahaya matahari yang mulai meredup memantulkan warna oranye lembut di permukaan batu kapur putih, menciptakan pemandangan magis yang tiada duanya. Rabiatun keluar dari air dengan segar.
"Lelahnya hilang semua, Khal. Masya Allah, keren banget hari ini," ujarnya penuh semangat.
Mereka meninggalkan Scala dei Turchi dengan hati yang penuh rasa syukur dan kamera penuh foto. Sisilia telah memberikan sambutan yang hangat dan pengalaman yang unik. Perjalanan mereka masih panjang, dan pantai-pantai indah lainnya di Eropa sudah menanti untuk dieksplorasi.
