Ketegangan di bawah pohon pinang itu mencekam. Prof. Rahmat adalah sosok dosen yang terkenal disiplin dan jarang sekali tersenyum, apalagi setelah insiden bekantan tadi.
"Ikut saya ke kantor administrasi," perintahnya singkat.
Dengan langkah gontai, Lev, Vania, dan Anatasya mengikuti Profesor ke gedung terdekat. Di sepanjang jalan, bisik-bisik warga masih terdengar. "Itu yang bawa monyet ngamuk tadi," kata seseorang. Vania melengos kesal, sementara Lev hanya menunduk malu.
Setibanya di kantor administrasi yang sepi, Prof. Rahmat duduk di belakang meja kerjanya yang penuh dengan kamera dan tumpukan kertas. Ia menyuruh mereka bertiga duduk.
"Saya sudah dengar laporan dari petugas keamanan," mulainya, suaranya tenang tapi dingin. "Kalian membuat kerusuhan di area publik, mengganggu ketertiban, dan membahayakan pengunjung."
"M-maaf, Pak," Lev mencoba menjelaskan. "Kami... kami cuma mau ambil foto kearifan lokal seperti tugas Bapak."
Prof. Rahmat mengangkat alisnya. "Dengan cara melempar sandal dan membuat hewan stres? Vania, saya tahu kamu jago bela diri, tapi itu bukan cara mengabadikan alam."
Vania mendengus, tapi diam.
"Anatasya, kamu ahli biologi. Kamu pasti tahu etika berinteraksi dengan satwa liar," lanjut Profesor.
Anatasya hanya bisa menunduk, malu.
"Tapi," Prof. Rahmat menyatukan jari-jarinya, "hasil foto kalian... unik."
Trio itu mendongak kaget. "Unik, Pak?"
"Saya lihat dari CCTV taman," kata Profesor. "Cahaya biru itu, lenyapnya hewan secara tiba-tiba... ini bukan halusinasi massal." Ia menghela napas. "Saya sudah menduga ini akan terjadi cepat atau lambat di Banjarmasin."
Mereka bertiga bingung. "Maksud Bapak?"
"Saya tahu tentang keberadaan para 'Summoner'," bisik Prof. Rahmat, memastikan tidak ada orang lain yang mendengar. "Kakek Lev, Pak Ryley, adalah teman lama saya. Dia sudah menceritakan semuanya."
Mata Lev membulat. "Kakek tahu soal ini?"
"Ya. Dan karena kekacauan yang kalian buat hari ini, saya tidak akan memberi nilai E atau DO." Prof. Rahmat tersenyum tipis, senyum pertamanya hari itu. "Saya akan memberi kalian tugas khusus sebagai hukuman sekaligus pembelajaran."
"Tugas apa, Pak?" tanya Vania, sedikit curiga.
"Kalian harus mengorganisir sebuah 'Konser Alam Liar' di area taman nasional terdekat," jelas Profesor. "Kalian harus mendokumentasikan interaksi harmonis antara summon kalian dengan lingkungan sekitar, tanpa kekacauan. Ini akan menjadi tugas akhir semester kalian."
"Konser Alam Liar?" ulang Anatasya. "Ide yang brilian, Pak! Ini bisa jadi proyek studi yang hebat!"
"Tepat sekali, Nona Anatasya. Dan ini juga akan menjadi cara kalian belajar mengendalikan kekuatan baru kalian," tambah Prof. Rahmat. "Tapi ingat, bahaya mengintai di luar sana. Organisasi gelap yang ingin mengendalikan para summoner sudah mulai bergerak."
Trio itu saling pandang, merasakan hawa dingin merambat di tulang punggung mereka.
Di Lokasi Lain, Sebuah Gudang Tua di Pinggiran Sungai Barito
Di dalam sebuah ruangan remang-remang, seorang pria bertubuh tegap dengan jas hitam dan lambang ular melilit pohon di kerah bajunya sedang menonton rekaman CCTV Siring Nol Kilometer. Di layar, terlihat jelas insiden Bekantan dan cahaya biru dari kamera Lev.
"Trio baru, Tuan Delta," lapor pria itu kepada sosok bayangan yang duduk di kursi tinggi.
Sosok bayangan itu tertawa kering. "Sepertinya warisan Ryley sudah menemukan pemiliknya. Kamera kuno itu... kunci untuk summon peringkat tinggi."
"Apa yang harus kita lakukan, Tuan?"
"Awasi mereka," perintah Tuan Delta. "Biarkan mereka bermain-main dulu. Mereka masih mentah. Setelah mereka menemukan beberapa summon langka, kita ambil alih semuanya. Kekuatan alam Banjarmasin akan segera menjadi milik Organisasi Genesis."
Sang pria berjas hitam mengangguk patuh. Di luar jendela gudang, klotok melintas di Sungai Barito, tidak menyadari bahwa di dalam gudang itu, takdir Kota Banjarmasin sedang dipertaruhkan.
Kembali ke kantor administrasi, Lev, Vania, dan Anatasya meninggalkan ruangan dengan perasaan campur aduk. Hukuman mereka adalah sebuah petualangan baru, namun ancaman misterius dari Organisasi Genesis sudah membayangi mereka. Era baru para summoner di Kota Seribu Sungai telah dimulai.
