Pesawat A380 mendarat mulus di Bandara Manchester. Udara sejuk dan sedikit mendung khas Inggris langsung menyambut keluarga Ryley begitu mereka melangkah keluar dari garbarata. Kontras sekali dengan udara panas lembap Banjarmasin.
"Wah, dinginnya beda ya, Yah! Segar!" seru Ghina, langsung merapatkan jaket tipisnya.
Proses imigrasi berjalan lancar, berkat dokumen lengkap yang disiapkan Aisyah. Petugas imigrasi tersenyum melihat enam paspor Indonesia berjejer rapi.
"Welcome to Manchester," sapa petugas ramah.
Setelah mengambil koper-koper mint green mereka, Lev segera mencari taksi besar atau minibus yang bisa menampung enam orang dan tumpukan koper.
"Ayah sudah booking penginapan di daerah Fallowfield. Dekat kampus Manchester dulu," jelas Lev kepada sopir taksi yang berlogat kental Manchester (Mancunian accent).
Perjalanan dari bandara ke pusat kota memakan waktu sekitar 30 menit. Di sepanjang jalan, mata anak-anak tak henti-hentinya menatap keluar jendela. Bangunan-bangunan batu bata merah klasik, jalanan yang bersih, dan suasana kota industri yang hidup terasa sangat asing bagi mereka.
"Kotanya rapi banget ya, Bu. Nggak ada motor klakson-klaksonan," komentar Aisyah.
"Iya, Nak. Di sinilah dulu Ayahmu menuntut ilmu," kenang Anindya, memandang Lev dengan bangga.
Mereka tiba di sebuah penginapan self-catering yang nyaman di Fallowfield. Lokasinya tidak jauh dari kampus University of Manchester, tempat Lev dulu kuliah. Setelah check-in dan menata barang, yang pertama kali dilakukan Anindya adalah menggelar sajadah.
"Sebelum jalan-jalan, kita salat dulu, Jama' qashar Dzuhur dan Ashar," ajaknya. Anindya tak pernah lupa kewajiban sebagai muslimah, di manapun berada.
Setelah istirahat sebentar, sore harinya mereka memutuskan untuk berjalan santai di sekitar area kampus dan mengunjungi apartemen lama Lev.
"Dulu Ayah tinggal di apartemen kecil di sana," tunjuk Lev ke sebuah gedung batu bata tua. "Sering Ayah salat di kamar, kangen masakan Ibu di rumah, terus video call sama Ibumu yang masih di Indonesia."
Anindya tertawa. "Ayahmu ini bucin akut dari dulu. Semangkuk Indomie rebus topping telur pun dikirim fotonya ke Ibu."
Mereka berjalan menyusuri jalan-jalan yang dulu sering dilalui Lev. Suasana kampus masih terasa hidup dengan mahasiswa yang lalu lalang. Maryam sibuk membuat sketsa gedung-gedung tua yang megah dengan arsitektur Gothic Revival. Ghina dan Rayyan asyik berlarian di taman kecil dekat area kampus.
"Ayah, di sini sepi ya? Sepedanya banyak," celetuk Rayyan polos.
"Iya, di sini banyak yang pakai sepeda, Nak. Lebih ramah lingkungan," jawab Lev.
Matahari mulai condong ke barat. Perut mereka mulai keroncongan. Waktunya berburu makanan halal pertama di Manchester.
"Ibu sudah riset, Yah! Kita ke 'Curry Mile' di Rusholme! Pusat makanan halal di Manchester!" seru Anindya penuh semangat. "Katanya viral banget!"
Mereka kembali naik taksi menuju Rusholme. Sepanjang jalan, Lev menceritakan bagaimana dulunya area itu adalah surga bagi mahasiswa internasional yang merindukan masakan rumahan.
Tiba di Curry Mile, suasananya langsung berubah. Deretan restoran Pakistan, India, Timur Tengah, dan kafe-kafe dengan lampu neon terang benderang berjejer di kanan kiri jalan. Aromanya yang khas langsung menusuk hidung mereka.
"Wah, ramai banget!" Aisyah takjub.
Mereka memutuskan untuk makan di sebuah restoran Pakistan yang terlihat ramai. Drama komedi pun dimulai saat memesan makanan. Lev yang mencoba memesan dengan bahasa Inggris aksen British wannabe, dan Anindya yang bingung dengan nama-nama makanan yang asing.
"Mas, mau kari yang nggak pedas buat anak-anak. Terus naan-nya yang besar, ya," kata Anindya ke pelayan berwajah Pakistan yang kebingungan.
Pelayan itu mengerutkan kening. "Ma'am, this is a restaurant. Do you mean 'mild curry' and 'large naan'?"
Lev buru-buru menterjemahkan dan memesan dengan benar. Anindya tersipu malu, sementara anak-anak tertawa geli.
Makanan datang. Porsi besar, aroma rempah yang kuat. Mereka makan dengan lahap, mengobati rasa rindu masakan Asia setelah penerbangan panjang.
"Enak banget, Yah! Mirip gulai kambing di Banjarmasin!" seru Ghina.
Di tengah kehangatan makan malam pertama mereka di Manchester, Lev dan Anindya saling pandang. Di kota industri ini, di mana mimpi Lev dimulai, mereka kini kembali sebagai satu keluarga utuh. Ada rasa syukur yang mendalam di hati mereka. Manchester mungkin kota industri, tapi bagi mereka, kota ini adalah kota kenangan, tempat cinta mereka bersemi, dan kini, tempat petualangan keluarga mereka dimulai.
