Hari ketiga di Manchester, tantangan terbesar muncul: perut keroncongan yang menuntut variasi rasa. Meskipun sudah makan di restoran Pakistan tempo hari, Anindya, sang bendahara pengajian yang juga food influencer lokal, merasa belum puas. Misi hari ini adalah menaklukkan Curry Mile di Rusholme secara lebih mendalam.
"Yah, masa di Curry Mile cuma nyoba satu restoran doang? Rugi dong kita! Katanya tempat viral!" Anindya memulai negosiasi sarapan.
Lev menghela napas, tersenyum pasrah. "Iya, Bu, iya. Tapi kali ini Ayah yang pilih restorannya, ya? Ayah rindu masakan yang agak mirip Indonesia."
Mereka kembali naik trem ke Rusholme. Suasana Curry Mile di pagi menjelang siang hari lebih tenang dibanding malam hari, tapi aroma rempah sudah mulai tercium di udara. Deretan restoran, toko kelontong Asia, dan toko pakaian muslim berjejer rapi.
"Ibu mau coba yang Pakistan lagi, Yah. Sambalnya nendang!" usul Anindya.
"Nggak, Bu. Ayah mau coba yang kebab Turki itu," balas Lev.
Perdebatan kecil pun terjadi. Maryam, si pendiam, mengeluarkan ponselnya dan mencari rekomendasi restoran halal di area itu. "Ada yang bilang restoran Persia juga enak, Yah. Atau Middle Eastern. Variasinya banyak."
"Nah, ide bagus!" seru Aisyah. "Kita coba Middle Eastern aja. Shawarma kayaknya enak deh."
Akhirnya, suara mayoritas menang. Mereka memilih sebuah restoran Middle Eastern yang tampak bersih dan memiliki ulasan bagus. Di dalam restoran, suasananya hangat. Pelayan menyambut mereka dengan ramah.
Menu makanan disajikan. Ghina dan Rayyan sibuk menunjuk gambar kebab dan nasi biryani. Drama pemilihan menu pun dimulai. Anindya, dengan logat Banjarmasinnya yang kental, mencoba memesan Hummus dan Falafel.
"Mas, Hummus-nya yang nggak terlalu banyak bawang putih ya, nanti mulut bau. Terus Falafel-nya digoreng garing," pesannya ke pelayan yang ramah, yang hanya tersenyum.
Lev, yang kali ini memilih untuk diam, hanya memesan Shawarma Platter untuk dirinya sendiri. Aisyah membantu menerjemahkan permintaan spesifik Anindya yang kadang di luar nalar.
Makanan datang dengan porsi besar dan presentasi yang cantik. Meja mereka penuh dengan piring berisi nasi biryani, kebab, hummus, falafel, dan roti naan. Semuanya halal dan menggugah selera.
"Wih, warnanya cantik banget nasinya!" seru Rayyan, siap menyantap.
Mereka makan dengan lahap. Rasa rempah yang kaya, daging yang lembut, dan hummus yang gurih membuat lidah mereka bergoyang.
"Enak banget, Bu! Mirip masakan arab yang di Martapura," puji Ghina di sela-sela makan.
Di tengah makan, Anindya tak lupa live Instagram-nya. Ia merekam makanan, suasana restoran, dan wajah bahagia anak-anaknya.
"Halo followers! Ini di Curry Mile Manchester! Masya Allah, makanannya enak-enak semua, halal pula! Jangan takut kelaparan ya kalau ke sini. Yuk, spill lokasinya!" Anindya berinteraksi dengan ribuan penontonnya.
Lev hanya bisa menggelengkan kepala melihat istrinya. Tapi ia ikut senang. Melihat keluarganya bahagia dan bisa menikmati makanan di negeri orang dengan tenang adalah kebahagiaan tersendiri baginya.
Setelah kenyang, mereka melanjutkan jalan-jalan di sekitar Curry Mile. Anindya mampir ke toko pakaian muslim dan membeli beberapa hijab instan dengan motif bunga khas Inggris. Lev menemukan toko kelontong Asia dan membeli beberapa bungkus kerupuk udang yang langka di Inggris.
"Buat camilan di hotel, Bu," alasannya.
Matahari sudah mulai turun. Anindya merasa misi kuliner dan sosialisasinya di Curry Mile sukses besar. Mereka kembali ke penginapan dengan perut kenyang dan hati senang.
Di perjalanan pulang, Aisyah, Maryam, Ghina, dan Rayyan tertidur pulas di dalam taksi, lelah setelah seharian beraktivitas. Lev dan Anindya saling pandang, tersenyum. Perjalanan ini bukan hanya tentang melihat tempat terkenal atau belanja, tapi tentang menciptakan kenangan, tawa, dan kebersamaan di setiap langkahnya. Manchester, kota industri yang kini terasa sedikit lebih hangat bagi keluarga Ryley.
