Suasana di tepi sungai yang damai seketika berubah mencekam. Dua agen Genesis berdiri tegak, memancarkan aura dingin yang kontras dengan panasnya udara hutan Mandiangin.
Vania Larasati adalah yang pertama bereaksi. Naluri petarungnya mengambil alih. Ia mengaktifkan gelang batu akik merahnya. "Oyen! Siaga tempur!"
Kucing oren itu melompat turun, matanya menyala merah, siap bertarung.
"Kalian salah orang kalau mau main kasar di sini," ancam Vania.
Anatasya dan Lev berdiri di belakang Vania, jantung mereka berdebar kencang. Anatasya mencoba menganalisis situasi. "Mereka cuma berdua, tapi auranya kuat. Mereka pasti summoner berpengalaman."
Salah satu agen, yang terlihat lebih tinggi dan berwajah keras, menyeringai. "Anak-anak ingusan. Serahkan saja kamera itu baik-baik, atau kami ambil dengan paksa."
Agen yang satunya lagi mengeluarkan sebuah kartu berwarna abu-abu. "Spesies: Anjing Doberman (Canis lupus familiaris). Rank: C. Skill: Gigitan Kuat, Kecepatan Lari."
Seekor Doberman besar muncul dengan geraman rendah di samping agen itu. Matanya menyala abu-abu, dikendalikan oleh artefak agen tersebut.
"Rank C juga!" seru Vania. "Lev, siapin Bekas! Tasya, support dari belakang!"
Lev dengan cepat merogoh tasnya, mengeluarkan kartu Bekantan. "Keluar, Bekas!"
Cahaya biru emerald bersinar, dan Bekas si Bekantan muncul kembali di tepi sungai. Ia masih tampak sedikit lelah dari latihan sebelumnya, tapi naluri pertahanan dirinya langsung aktif melihat Doberman yang menggeram.
Agen tinggi memberi perintah singkat. "Doberman, serang!"
Doberman itu melesat cepat ke arah Vania dan Oyen. Kecepatannya luar biasa.
"Oyen, Cakaran Lincah!" Vania memerintah. Oyen melesat ke samping, menghindari gigitan Doberman yang mematikan. Vania sendiri bersiap melakukan tendangan balik.
"Bekas, Teriakan Keras!" perintah Lev. Bekas membuka mulutnya yang besar dan mengeluarkan suara khra-khra-khra! yang memekakkan telinga.
Suara itu sukses mengalihkan perhatian Doberman sesaat. Anatasya memanfaatkan momen itu. Liontin peraknya bersinar hijau. "Lev, fokuskan energimu ke Bekas! Sinkronisasi Stabil!"
"Hah? Gimana caranya?"
"Pikirkan ikatanmu dengannya! Fokus!"
Lev memejamkan mata, memfokuskan pikirannya pada Bekas. Status di kartunya berkedip, dari 80% menjadi 90%, lalu 100%. Seketika, gerakan Bekas menjadi lebih lincah dan terkoordinasi.
Vania dan Oyen bertarung melawan Doberman dengan sengit. Vania menggunakan kemampuan fisik peningkatannya berkat gelang, sementara Oyen menggunakan kelincahannya. Pertarungan fisik murni.
Agen kedua, yang lebih pendiam, menyadari bahaya dari kamera Lev. Ia mengeluarkan senapan bius dan mengarahkannya ke Lev.
"Lev! Awas!" Anatasya berteriak, mendorong Lev hingga terjatuh. Peluru bius meleset dan mengenai pohon di belakang mereka.
"Tasya!" Lev kaget.
"Mereka nggak main-main, Lev!" Anatasya memegang liontinnya yang bersinar lebih terang. "Aku harus bantu!"
Agen pendiam itu menyeringai, lalu mengeluarkan kartunya sendiri. "Spesies: Ular Kobra (Naja sputatrix). Rank: C. Skill: Semprotan Bisa, Gigitan Beracun."
Seekor kobra besar muncul, siap menyerang Anatasya.
"Anatasya, hindar!" Lev panik.
Tapi Anatasya tidak menghindar. Ia berdiri tegak, liontinnya bersinar hijau terang. Ia memfokuskan data biologis yang ia dapatkan dari liontinnya. "Aku tahu kelemahanmu! Fokuskan ke mata!"
Entah bagaimana caranya, Anatasya mengirimkan informasi biologis itu langsung ke pikiran Lev. Lev langsung mengerti.
"Bekas! Gunakan Lompatan Akrobatik! Fokuskan teriakanmu ke mata kobra!" perintah Lev.
Bekas yang sudah sinkron 100% melompat dari satu pohon ke pohon lain dengan lincah, bergerak ke arah agen pendiam. Ia berteriak tepat di depan mata kobra, membuat ular itu panik dan menyemprotkan bisa sembarangan. Agen itu kaget dan mundur.
Pertarungan Vania juga semakin memanas. Doberman agen tinggi itu sangat kuat.
"Kurang ajar!" Vania mengeluarkan kartu biawaknya. "Biawak Monitor! Keluar!"
Si Biawak Monitor muncul dengan mata merah, bergabung dalam pertarungan. Dua lawan satu! Doberman mulai kewalahan.
Agen tinggi, melihat anak buahnya terdesak, menjadi marah. Ia mengeluarkan kartu ketiganya, kartu berwarna emas.
"Spesies: Rajawali Emas (Aquila chrysaetos). Rank: B (Langka). Skill: Cakaran Udara, Penglihatan Tajam."
Seekor rajawali besar muncul di udara, siap menyerang dari atas.
Situasi berbalik. Trio kita terdesak. Bekas masih sibuk mengganggu kobra, sementara Oyen dan Biawak kesulitan melawan Doberman yang mendapat buff dari agennya.
"Gawat!" Lev panik.
"Kita harus kabur!" seru Anatasya.
"Nggak! Gue nggak akan kabur!" Vania berteriak, penuh tekad.
Tapi agen tinggi itu menyeringai. Rajawali Emasnya sudah siap menukik ke arah mereka. Saat itulah, sebuah suara berat terdengar dari hutan.
"Cukup sampai di situ, anak muda."
Prof. Rahmat keluar dari balik pepohonan, membawa tongkat kayu besar. Di belakangnya, seekor Harimau Sumatera besar berjalan anggun. "Spesies: Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). Rank: A (Sangat Langka). Skill: Raja Hutan."
Agen Genesis terkejut. "Profesor Rahmat? Anda..."
"Aku pelindung area ini," kata Prof. Rahmat dengan suara tenang. "Dan kalian melanggar batas."
Harimau Sumatera itu menggeram rendah. Aura Rank A menghantam agen-agen itu. Doberman dan kobra mereka langsung panik dan menghilang kembali ke kartu mereka.
Agen tinggi menatap Prof. Rahmat dengan marah, lalu menatap trio Lev. "Ini belum berakhir. Kami akan kembali untuk kamera itu!"
Agen-agen itu melarikan diri ke dalam hutan, menghilang dari pandangan.
Prof. Rahmat tersenyum tipis ke arah trio yang masih ternganga. "Sepertinya 'Konser Alam Liar' kalian berjalan dengan sangat meriah."
Vania, Lev, dan Anatasya hanya bisa saling pandang. Mereka baru saja bertarung dengan organisasi jahat, diselamatkan oleh dosen mereka yang ternyata seorang summoner legendaris dengan harimau Rank A. Hari di Mandiangin itu mengajarkan mereka bahwa dunia baru mereka jauh lebih berbahaya—dan menakjubkan—daripada yang mereka bayangkan.
