Pagi di Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar, selalu diawali dengan harmoni yang unik. Aroma tanah rawa yang lembap bercampur dengan wangi maskulin dari penggilingan padi "Siam Unus" yang tersohor, menciptakan atmosfer khas yang tak ditemukan di tempat lain di Kalimantan Selatan. Matahari Desember 2025 merayap perlahan, memantulkan cahaya pada butiran embun yang menggelantung di pucuk daun purun. Di sebuah gang yang cukup lebar untuk dua mobil berpapasan, berdirilah dua bangunan yang menjadi saksi bisu betapa indahnya perbedaan jika dibalut dengan ukhuwah Islamiyah.
Keluarga pertama adalah keluarga Zaskia Al-Zahra. Jika Anda memasuki halaman rumah mereka, Anda akan merasa seolah-olah waktu melambat dan tekanan darah Anda menurun seketika. Zaskia, seorang wanita yang memegang teguh prinsip simple living, merancang rumahnya dengan palet warna yang ia sebut sebagai "warna-warna langit senja yang tenang". Dindingnya dilapisi cat berwarna creamy sand, sementara kusen pintunya menggunakan kayu ulin yang dicat putih gading. Pagar rumahnya rendah, terbuat dari kayu yang dicat warna sage green pucat, sangat serasi dengan deretan tanaman lidah mertua dan monstera yang tertata sangat simetris. Bagi Zaskia, rumah adalah cerminan dari hati yang tenang—sebuah tempat di mana mata tidak perlu bekerja keras untuk memproses cahaya, sehingga jiwa bisa lebih fokus berdzikir.
Tepat di seberang jalan, hanya terpisah oleh aspal mulus dan parit kecil khas lahan gambut, berdiri rumah keluarga Anita Khairunnisa. Rumah ini adalah antitesis dari ketenangan Zaskia. Anita percaya bahwa hidup adalah anugerah Allah yang harus dirayakan dengan penuh sukacita, dan baginya, sukacita itu berarti warna-warna yang "berteriak". Dinding rumah Anita dicat dengan warna kuning kunyit yang sangat berani, dipadukan dengan aksen jingga menyala pada bagian pilar. Tak berhenti di situ, Anita baru saja mengganti warna gerbang besinya menjadi warna oranye neon yang bisa memantulkan cahaya lampu jalanan di malam hari. "Supaya malaikat rahmat tidak tersasar mencari rumah kita, karena rumah kita paling terang!" begitu candaan khas Anita yang selalu membuat suaminya hanya bisa mengelus dada sambil tersenyum.
Pagi itu, Zaskia keluar ke teras dengan gamis berwarna taupe dan kerudung instan senada. Ia membawa botol semprotan air untuk memanjakan tanaman-tanamannya. Gerakannya tenang, hampir seperti gerakan meditasi. Namun, ketenangan itu hanya bertahan selama tiga menit.
"Assalamualaikum, Jeng Zaskia yang paling estetik se-Kecamatan Gambut!"
Suara itu melengking tinggi, membelah kesunyian pagi. Anita muncul dari balik gerbang oranyenya. Pagi ini, Anita tampak luar biasa "bertenaga" dengan daster bermotif bunga matahari raksasa berwarna kuning elektrik, dipadukan dengan bando berwarna fuchsia yang bertengger di atas rambutnya yang digulung rapi. Ia membawa sebuah piring besar yang ditutupi tudung saji kecil berwarna merah cabai.
Zaskia menghentikan semprotannya, menarik napas dalam-dalam—menghirup ketenangan yang masih tersisa—lalu menoleh dengan senyum tulus yang selalu ia jaga. "Waalaikumussalam, Jeng Anita. Masya Allah, pagi-pagi sudah segar sekali kelihatannya. Oranye gerbangnya benar-benar... mengalihkan dunia, Jeng."
Anita tertawa lebar, berjalan melintasi jalanan dengan langkah mantap. "Iya dong, Jeng! Ini cat sisa proyek ruko keponakan saya di Banjarbaru, sayang kalau dibuang. Lagipula, biar suasana gang kita ini tidak terlalu pucat. Kalau semuanya pakai warna krem seperti rumah Jeng Zaskia, nanti kurir paket bisa ketiduran di depan pagar karena terlalu mengantuk melihat warnanya!"
Zaskia terkekeh lembut. Ia sudah terbiasa dengan lidah Anita yang tajam namun tanpa maksud menyakiti. "Tentu saja, Jeng. Dunia butuh warna terang untuk bangun, dan butuh warna kalem untuk istirahat. Ini bawa apa, Jeng? Baunya harum sekali sampai ke sini."
Anita menyodorkan piring tersebut. "Ini nah, saya baru saja mengangkat Wadai Bingka kentang dari panggangan. Tapi maaf ya Jeng, bingka saya ini warnanya hijau terang karena pakai banyak sari daun pandan dan sedikit pewarna makanan biar cantik. Bukan hijau pucat seperti baju-baju Jeng Zaskia. Ini dimakan selagi hangat, cocok sekali menemani teh tawar Jeng yang tidak berwarna itu."
Zaskia menerima piring itu dengan tangan kanan, merasakan hangatnya kue tradisional Banjar yang menjadi kebanggaan warga Gambut tersebut. "Terima kasih banyak, Jeng Anita. Masya Allah, ini rezeki pagi. Mari masuk dulu, saya buatkan teh... eh, atau Jeng mau sirup merah? Kebetulan saya punya simpanan untuk tamu."
"Ah, tidak usah Jeng, saya mau lanjut jemur cucian. Itu lho, jemuran saya hari ini isinya seprai warna pelangi, takutnya kalau kelamaan di dalam ember nanti warnanya luntur jadi kalem seperti selera Jeng!" Anita mengedipkan mata, lalu berbalik sambil melambai penuh semangat.
Zaskia menatap punggung tetangganya itu. Ada rasa hangat yang menjalar di hatinya, lebih hangat daripada kue bingka di tangannya. Meskipun mereka berdiri di dua kutub estetika yang berbeda—satu memuja kesunyian visual dan yang lain memuja keriuhan warna—Gambut telah menyatukan mereka dalam frekuensi yang sama: kasih sayang antar tetangga.
Di dalam rumah, Zaskia meletakkan kue bingka hijau terang itu di atas meja makan kayu berwarna natural miliknya. Kue itu tampak sangat kontras, seperti sebuah permata hijau di tengah padang pasir. Zaskia mengambil ponselnya, memotret kue itu, lalu mengirimkannya ke grup WhatsApp keluarga dengan takarir: "Rezeki pagi dari tetangga tercinta. Warna boleh beda, tapi manisnya tetap sama. Alhamdulillah."
Itulah awal dari hari-hari penuh warna—dan penuh tawa—di gang kecil itu. Sebuah tempat di mana pagar sage dan gerbang oranye tidak pernah berdebat tentang siapa yang lebih indah, karena keduanya tahu bahwa pelangi hanya akan muncul jika semua warna bersedia berdampingan.
Catatan Penting untuk Pembaca:
Kisah ini menggambarkan betapa pentingnya menjaga hubungan baik dengan tetangga sebagaimana diajarkan dalam Islam. Anda dapat menemukan panduan lengkap mengenai adab bertetangga melalui laman resmi Kementerian Agama Republik Indonesia atau mempelajari budaya masyarakat Banjar yang religius di Portal Informasi Provinsi Kalimantan Selatan. Tetaplah mengikuti bab-bab selanjutnya untuk melihat bagaimana kedua keluarga ini menghadapi tantangan hidup dengan cara yang unik dan menggelitik!
