Beberapa hari setelah peristiwa di taman Gorky, suasana di asrama terasa lebih sunyi. Maimunah masih mencoba memulihkan diri, namun luka di hatinya belum sepenuhnya sembuh. Dia masih sesekali melamun, tetapi tidak lagi menangis. Zainab dan Adam selalu ada di sisinya, memberikan dukungan. Sergei juga sesekali menelepon, menanyakan kabar Maimunah.
Malam itu, salju turun dengan lebat, membuat Moskow terlihat seperti negeri dongeng. Maimunah duduk di dekat jendela, memandangi butiran salju yang jatuh. Ia merasa dingin, bukan karena udara, tetapi karena perasaannya.
Adam masuk ke kamar Maimunah, membawakan secangkir teh hangat. "Ini, teh jahe. Ayahmu bilang, ini bisa bikin kamu lebih tenang."
Maimunah tersenyum. "Terima kasih, Dam."
Adam duduk di sampingnya. "Gimana perasaanmu?"
"Masih sakit," jawab Maimunah jujur, "tapi aku berusaha ikhlas."
"Itu bagus," kata Adam, "tapi kamu juga harus jujur sama dirimu sendiri. Kalau kamu butuh nangis, nangis aja. Kalau kamu butuh marah, marah aja. Jangan ditahan."
Maimunah menatap Adam. "Tapi, aku takut. Aku takut, aku nggak bisa move on."
"Kamu pasti bisa," kata Adam, "semua itu butuh proses. Kamu nggak perlu buru-buru. Nikmati saja prosesnya."
Maimunah merasa, Adam seperti sosok kakak yang bijaksana. Ia merasa nyaman di dekat Adam.
"Kenapa kamu baik banget sama aku, Dam?" tanya Maimunah.
Adam tersenyum. "Ayahmu nitipin kamu ke aku. Dan kamu, punya hati yang baik. Aku nggak bisa nggak peduli."
"Tapi... apa kamu nggak punya pacar?" tanya Maimunah.
Adam tertawa. "Pacar? Aku nggak punya."
"Kenapa?"
"Karena aku yakin, pacaran itu nggak baik," jawab Adam, "aku lebih suka ta'aruf. Aku mau kenal sama seseorang karena Allah."
Maimunah terdiam. Ia merasa, Adam adalah pria yang baik. Ia tidak seperti Naufal. Naufal, yang dulunya cinta pertama Maimunah, kini menjadi kenangan pahit.
"Dam," panggil Maimunah, "apa kamu percaya, kalau Allah itu punya rencana yang lebih baik?"
"Tentu saja," jawab Adam, "Allah itu Maha Tahu. Dia tahu apa yang terbaik untuk kita."
Maimunah mengangguk. Ia merasa, ia tidak sendirian. Ada Adam, ada Zainab, ada Sergei. Mereka adalah sahabat-sahabat terbaiknya.
"Aku mau berubah," kata Maimunah, "aku mau jadi lebih baik."
"Itu niat yang bagus," kata Adam, "tapi kamu nggak perlu berubah demi orang lain. Kamu harus berubah demi dirimu sendiri. Karena Allah."
Maimunah tersenyum. Ia merasa, ia telah menemukan sesuatu yang lebih berharga daripada cinta. Ia telah menemukan persahabatan sejati, dan ia telah menemukan dirinya sendiri.
Keesokan harinya, Maimunah bangun lebih awal. Ia sholat subuh, lalu membaca Al-Quran. Ia merasa, hatinya menjadi lebih tenang. Ia merasa, ia telah kembali menemukan jati dirinya.
"Zai, ayo kita masak sarapan," ajak Maimunah.
Zainab terkejut. "Kamu masak? Tumben."
"Aku mau coba resep baru," jawab Maimunah, "resep nasi goreng dicampur keju."
Zainab mendesah. "Lagi-lagi eksperimen aneh."
Maimunah tidak peduli. Ia merasa, ia telah kembali menjadi dirinya yang ceria.
Namun, di tengah kesibukan mereka, tiba-tiba ada suara ketukan di pintu. Maimunah membukanya, dan ia terkejut. Di depan pintu, berdiri Naufal.
"Assalamualaikum," sapa Naufal. "Maimunah, aku mau
ngobrol sama kamu."
Jantung Maimunah kembali berdebar. Ia menatap Naufal, lalu melihat ke arah Adam, yang kini berdiri di belakang Maimunah. Adam menatap Naufal dengan tajam.
"Ada apa?" tanya Maimunah, mencoba bersikap tenang.
"Aku... aku minta maaf," kata Naufal, "aku nggak bermaksud bikin kamu sakit hati."
Maimunah terdiam. "Masuk aja," kata Maimunah, "biar nggak dingin."
Naufal masuk. Ia duduk di ruang tamu, dan Maimunah, Zainab, dan Adam duduk di sekelilingnya.
"Aku mau jelasin semuanya," kata Naufal. "Aku dan Natasha itu... cuma teman bisnis."
Maimunah terkejut. "Teman bisnis?"
"Iya," jawab Naufal, "aku nggak bohong. Dia bantu aku dalam proyek di Moskow."
"Lalu kenapa kamu bilang, dia calon istrimu?" tanya Maimunah, suaranya bergetar.
Naufal terdiam. "Itu... cuma salah paham. Aku nggak bermaksud bikin kamu salah paham."
Maimunah merasa, ia tidak bisa percaya lagi pada Naufal. Ia merasa, Naufal sudah mengecewakannya.
"Naufal," kata Maimunah, "lebih baik kamu pulang. Aku nggak mau ngobrol sama kamu lagi."
Naufal terkejut. "Maimunah, dengerin aku dulu."
"Nggak ada yang perlu didengar lagi," kata Maimunah, "aku udah tahu, kamu itu gimana. Kamu cuma bisa nyakitin hati aku."
Naufal menatap Maimunah, matanya berkaca-kaca. Ia merasa, ia telah kehilangan Maimunah.
Adam melihat Maimunah dengan prihatin. Ia tahu, Maimunah masih mencintai Naufal. Tapi ia juga tahu, Maimunah harus berhati-hati.
Naufal akhirnya pergi. Maimunah kembali ke kamar, dan menangis. Kali ini, ia tidak menangis karena sedih. Ia menangis karena merasa, ia telah membuat keputusan yang benar.
"Zai, Dam," kata Maimunah, "aku mau hijrah. Aku mau belajar lebih dalam tentang Islam. Aku nggak mau lagi larut dalam urusan cinta yang nggak jelas."
Zainab dan Adam tersenyum. "Kami akan selalu ada untukmu, Mun," kata Zainab.
Maimunah merasa, ia telah menemukan jalan pulang. Jalan pulang ke Allah.
To be continued...
