Keputusan Maimunah untuk berhijrah disambut hangat oleh Zainab dan Adam. Keduanya memberikan dukungan penuh, mendampingi Maimunah dalam prosesnya. Sejak hari itu, Maimunah tidak lagi menjadi gadis yang ceria dan konyol, melainkan gadis yang ceria dan religius. Ia mulai rutin sholat berjamaah di masjid terdekat, mengikuti kajian Islam yang diadakan oleh komunitas Muslim Indonesia di Moskow, dan belajar bahasa Arab.
"Mun, kamu beneran mau hijrah?" tanya Zainab, saat mereka sedang membaca Al-Quran di kamar.
"Iya, Zai," jawab Maimunah, "aku udah nggak mau lagi jadi Maimunah yang dulu. Maimunah yang cuma mikirin cowok, yang suka hal-hal aneh, yang suka bikin masalah."
Zainab tersenyum. "Kamu nggak perlu berubah jadi orang lain, Mun. Kamu cuma perlu jadi versi terbaik dari dirimu sendiri. Kamu tetep bisa ceria, kamu tetep bisa konyol. Tapi, kamu sekarang punya tujuan yang lebih mulia."
Maimunah terharu. Ia merasa, Zainab adalah sahabat terbaiknya.
Adam, di sisi lain, seringkali memberikan nasihat-nasihat islami yang bijaksana pada Maimunah. "Hijrah itu bukan cuma tentang penampilan, Mun," katanya, "tapi tentang hati. Tentang niat. Tentang bagaimana kita memperbaiki diri kita di mata Allah."
Maimunah mengangguk. Ia tahu, Adam benar.
Pada suatu malam, saat mereka sedang duduk di kafe, Maimunah bertanya pada Adam. "Dam, apa kamu nggak pernah ngerasa kesepian?"
"Tentu saja," jawab Adam, "tapi aku percaya, Allah selalu ada di sisiku. Dan aku juga percaya, Allah akan mengirimkan seseorang yang tepat di waktu yang tepat."
Maimunah terdiam. Ia merasa, Adam adalah pria yang sangat beriman.
"Tapi... apa kamu nggak takut, kalau kamu nggak bisa nemuin jodoh?" tanya Maimunah.
"Nggak," jawab Adam, "karena aku yakin, jodoh itu sudah diatur sama Allah. Tugas kita cuma berusaha, berdoa, dan tawakal."
Maimunah merasa, kata-kata Adam menenangkan hatinya. Ia merasa, ia tidak perlu khawatir lagi tentang jodoh. Ia hanya perlu fokus pada hijrahnya.
Namun, di tengah-tengah perbincangan serius mereka, tiba-tiba Maimunah melihat seorang pria tampan dengan jaket tebal dan syal berwarna abu-abu. Pria itu menatap Maimunah dengan senyum lebar.
"Zai, itu..." Maimunah terdiam.
Zainab mengikuti arah pandangan Maimunah. Matanya melebar. "Naufal?"
Pria itu berjalan mendekat. Maimunah merasa jantungnya berdebar kencang. Ia tidak bisa bergerak, tidak bisa berkata-kata.
"Assalamualaikum, Maimunah," sapa pria itu.
"Naufal?" Maimunah bertanya, suaranya bergetar.
"Iya, ini aku," jawab pria itu.
Maimunah terkejut. "Kok kamu bisa di sini?"
"Aku... aku mau minta maaf," kata Naufal, "aku salah. Aku nggak seharusnya nyakitin kamu."
Maimunah terdiam. Ia menatap Naufal, lalu melihat ke arah Adam, yang kini berdiri di samping Maimunah. Adam menatap Naufal dengan tajam.
"Naufal," kata Maimunah, "lebih baik kamu pulang."
"Tapi... aku mau jelasin semuanya," kata Naufal, "aku dan Natasha... cuma teman bisnis. Aku nggak bohong."
"Aku udah nggak peduli," jawab Maimunah, "aku cuma mau fokus sama hijrahku."
Naufal terdiam. Ia merasa, ia telah kehilangan Maimunah. Ia merasa, ia telah membuat kesalahan besar.
Adam melihat Naufal dengan tatapan prihatin. Ia tahu, Naufal masih mencintai Maimunah. Tapi ia juga tahu, Maimunah harus berhati-hati.
Naufal akhirnya pergi. Maimunah kembali ke meja, dan menangis. Kali ini, ia tidak menangis karena sedih. Ia menangis karena merasa, ia telah membuat keputusan yang benar.
"Zai, Dam," kata Maimunah, "aku mau hijrah. Aku mau belajar lebih dalam tentang Islam. Aku nggak mau lagi larut dalam urusan cinta yang nggak jelas."
Zainab dan Adam tersenyum. "Kami akan selalu ada untukmu, Mun," kata Zainab.
Maimunah merasa, ia telah menemukan jalan pulang. Jalan pulang ke Allah.
To be continued...
