Langit di atas Stretford masih berwarna abu-abu pekat saat alarm ponsel Layla Al-Sayed menjerit histeris. Bunyinya bukan nada standar pabrikan, melainkan rekaman riuh penonton di Old Trafford yang menyanyikan “Take Me Home, United Road”.
Layla mengerang, tangannya meraba nakas, menjatuhkan segelas air yang untungnya sudah kosong. Mata perawat itu melirik jam digital: 03:15 AM.
"Ya Allah, sepuluh menit lagi Imsak!" pekiknya.
Ia melompat dari tempat tidur, hampir tersandung syal merah-putih yang tergantung di kursi kerja. Dengan langkah seribu, ia berlari menuju dapur flatnya yang kecil di kawasan Salford. Di sana, ayahnya, Malik, sudah duduk dengan tenang di meja makan, mengenakan jaket tracktop vintage United tahun 1999 yang warnanya sudah agak memudar.
"Kau telat lagi, Layla," gumam Malik tanpa mengalihkan pandangan dari televisi yang menyiarkan ulang gol injury time Ole Gunnar Solskjaer di final Champions League. "Seperti pertahanan United musim ini. Lambat."
Layla meringis sambil menyambar selembar roti gandum dan selai kacang. "Aku shift malam di Royal Manchester Children’s Hospital sampai jam 11 malam, Yah. Kakiku rasanya mau copot."
"Alasan," goda Malik. "Dulu, waktu Sir Alex masih melatih, tidak ada orang Manchester yang bangun telat untuk sahur. Kedisiplinan adalah kunci Treble."
Layla hanya bisa memutar bola mata. Ayahnya mungkin mulai sering lupa di mana meletakkan kunci rumah atau apakah ia sudah minum obat, tapi memori tentang Manchester United tetap tajam seperti silet. Itulah satu-satunya hal yang membuat Malik tetap "ada" di sana, di dunia nyata.
Sambil mengunyah roti dengan terburu-buru, Layla menatap ke luar jendela. Gerimis khas Manchester—jenis gerimis yang tidak cukup besar untuk membuatmu basah kuyup, tapi cukup konsisten untuk membuat hatimu melankolis—mulai turun. Di kejauhan, lampu-lampu kota Manchester berpendar redup.
"Yah," panggil Layla pelan, suaranya melembut. "Ini Ramadan pertama tanpa Ibu. Ayah yakin tidak apa-apa aku tinggal shift siang hari ini?"
Malik terdiam sejenak. Matanya yang mulai keruh menatap kursi kosong di seberang meja, tempat ibunda Layla biasanya duduk menyiapkan teh mint yang harum. "Ibumu adalah fans paling setia, Layla. Dia tidak pernah meninggalkan tribun sebelum peluit panjang ditiup. Begitu juga puasa. Pergilah bekerja, selamatkan anak-anak itu. Ayah akan ditemani Yusuf nanti sore."
Mendengar nama Yusuf, selera makan Layla langsung hilang. Yusuf adalah sepupunya yang tinggal di Rusholme, yang musim lalu tiba-tiba terlihat memakai topi warna biru langit di pusat kota.
"Kalau Yusuf datang membawa atribut 'tetangga berisik' itu ke rumah ini, aku akan membatalkan puasanya dengan paksa," gerutu Layla sambil meneguk air putih terakhir tepat saat alarm ponselnya berbunyi lagi—menandai waktu Imsak.
Layla menghela napas panjang, merapikan hijabnya, dan menatap pantulan dirinya di cermin dapur. Ia mengenakan atasan scrub perawat, namun di baliknya, ia selalu memakai kaos dalam berlogo setan merah. Itulah jimatnya.
"Ramadan dimulai," bisiknya pada diri sendiri. "18 jam tanpa air, tanpa makanan, dan semoga... tanpa kekalahan dari United."
Ia mencium kening ayahnya yang masih asyik menganalisis taktik permainan tahun 90-an, lalu menyambar kunci mobilnya. Saat melangkah keluar pintu, hawa dingin Northern England menusuk tulang, tapi hati Layla hangat. Di bawah langit merah Manchester, perjuangannya baru saja dimulai.
