Suara azan Subuh baru saja meluruh dari menara Masjid Agung Al-Anwar, membelah kabut tipis yang menyelimuti Kota Barabai. Di sebuah rumah sederhana namun asri di pinggiran daerah Murakata, Muhammad Hifni masih berusaha mengumpulkan nyawanya. Sebagai seorang PNS di kantor pemerintahan kabupaten, pagi hari adalah perlombaan antara jam absen digital dan sarapan yang tenang.
Hifni meregangkan otot-ototnya, namun gerakannya terhenti saat ia merasakan sesuatu yang berat dan berbulu di atas perutnya. Mochi, kucing oren dengan berat badan yang melampaui batas kewajaran kucing domestik, sedang mendengkur sukses di sana.
"Mochi... turun. Abah mau mandi," bisik Hifni parau. Mochi hanya membalas dengan satu kedipan malas, lalu kembali menutup mata.
Tiba-tiba, pintu kamar terbuka sedikit. Sebuah kepala kecil dengan rambut dikuncir dua mengintip dari balik pintu. Itu adalah Khalisah Salsabilla, putri semata wayang mereka yang baru menginjak usia enam tahun.
"Abah! Wake up! It's already morning!" seru Khalisah dengan pelafalan yang sangat jernih. Ia melompat ke tempat tidur, mendarat tepat di samping Mochi yang langsung meloncat kaget hingga jatuh dari kasur.
Hifni mengucek matanya, terpana. "Aduh, anak Abah. Morning juga. Tapi jangan pakai lompat ya, perut Abah bukan kasur pegas."
"Mama bilang, time is money, Bah! Kalau Abah telat, nanti boss marah," lanjut Khalisah lagi, kali ini sambil menarik-narik tangan ayahnya.
Hifni tersenyum getir. Inilah hasil didikan istrinya, Rina Rufida. Sebagai PNS di bidang pendidikan dengan latar belakang Bahasa Inggris, Rina memang sangat konsisten menerapkan bilingual di rumah. Rina dan Hifni adalah teman seperjuangan sejak masa sekolah; mereka adalah lulusan SMA tahun 2013. Kenangan saat mereka masih mengenakan seragam putih abu-abu di kelas yang sama seolah baru kemarin sore, padahal sekarang mereka sudah memikul tanggung jawab sebagai abdi negara dan orang tua.
Hifni beranjak ke ruang tengah, di mana aroma nasi kuning khas Barabai sudah menguar. Di sana, Rina sedang sibuk menyiapkan bekal, tampak rapi dengan seragam dinasnya yang disetrika licin.
"Pagi, Bah. Sudah dengar orasi Bahasa Inggris Khalisah pagi ini?" tanya Rina sambil tersenyum simpul.
"Sudah, Rin. Luar biasa. Kadang aku merasa tinggal di London, bukan di Barabai," jawab Hifni sambil duduk di kursi makan. "Tapi Rin, aku tadi mikir pas salat Subuh. Khalisah ini makin jago bahasa asingnya, tapi aku ingin dia juga kuat di 'bahasa langit'. Kamu tahu kan, kita ini lulusan 2013, zaman kita sekolah dulu tantangannya beda sama sekarang. Aku ingin dia punya benteng."
Rina menghentikan aktivitasnya sejenak, menatap suaminya dengan serius. "Maksud Abah, hafalan Al-Qur'annya?"
Hifni mengangguk. "Iya. Dia sudah enam tahun. Bahasa Inggrisnya sudah fluent, sekarang saatnya kita selaraskan dengan akhiratnya. Aku ingin dia mulai menghafal Juz 30. Tapi aku nggak mau dia merasa tertekan."
"Aku setuju, Bah. Tapi kita harus pakai strategi. Khalisah itu persis kamu, kalau dipaksa malah mogok," sahut Rina.
"Iya, makanya aku sudah siapkan rencana 'Diplomasi Hadiah'. Setiap dia selesai satu surah, kita kasih reward. Bukan cuma barang, tapi pengalaman. Gimana?"
Khalisah, yang ternyata mendengarkan dari balik kursi sambil mengelus Mochi, tiba-tiba menyela. "Hadiah? Gift? Kalau Khalisah hafal, boleh minta es krim potong di pasar?"
Hifni tertawa lebar, lalu menggendong putrinya itu. "Boleh! Jangankan es krim potong, nanti kalau hafalannya makin banyak, Abah belikan sepeda yang ada keranjangnya buat bawa Mochi jalan-jalan."
Mochi yang mendengar namanya disebut hanya mengeong pendek, seolah-olah setuju asalkan dia tidak perlu berjalan kaki sendiri.
Pagi itu, di tengah kesibukan mereka sebagai PNS yang akan segera berangkat ke kantor masing-masing, sebuah kesepakatan besar dibuat. Di kota yang dikenal dengan sebutan "Bandung-nya Kalimantan" ini, sebuah perjalanan besar seorang bocah enam tahun dimulai. Bukan tentang seberapa cepat dia menghafal, tapi tentang bagaimana ia mencintai setiap ayat yang ia ucapkan, sefasih ia mengucapkan "I love you, Abah, Mama."
Namun, Hifni dan Rina belum tahu bahwa tantangan sebenarnya bukan hanya pada hafalan Khalisah, melainkan pada waktu mereka yang semakin sempit karena urusan dinas. Dan takdir, seperti biasa, punya caranya sendiri untuk mempertemukan kembali kepingan masa lalu dari tahun 2013 di gerbang sekolah nanti.
