Langit di atas Pelabuhan Hamburg tidak pernah benar-benar biru. Pagi itu, kabut tebal berwarna kelabu menyelimuti deretan gudang tua dan tiang-tiang kapal yang bersandar di dermaga Elbe. Aroma garam, karat, dan bir murah memenuhi udara, sebuah ciri khas kota pelabuhan Jerman yang sibuk.
Di sudut sebuah kedai bernama The Rusty Anchor, seorang pemuda duduk sendirian di depan meja kayu yang penuh dengan bekas lingkaran gelas. Namanya adalah Lev Ryley. Ia mengenakan jaket kulit yang sudah memudar warnanya dan sebuah topi kapten kapal tua yang ukurannya sedikit terlalu besar, hingga terkadang menutupi matanya jika ia bergerak terlalu cepat.
"Satu roti sosis lagi, Tuan Tua!" teriak Lev sambil menyengir lebar, memperlihatkan deretan gigi putihnya yang kontras dengan wajahnya yang terkena debu pelabuhan.
"Kau sudah makan lima, Nak. Kau punya uang untuk membayarnya?" tanya pemilik kedai, seorang pria tua keturunan Jerman dengan kumis tebal.
Lev merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan sebuah koin emas kuno dengan lambang matahari di tengahnya. "Cukup untuk sosis, dan mungkin cukup untuk membeli satu kapal kecil?"
Si pemilik kedai tertawa terbahak-bahak. "Kapal kecil? Dengan satu koin itu, kau mungkin hanya bisa menyewa sekoci bocor di ujung dermaga empat."
Lev tidak tersinggung. Ia justru ikut tertawa, suara tawanya yang lepas membuat beberapa pelaut di kedai itu menoleh. "Lihat saja, Tuan Tua. Sebelum matahari terbenam, aku akan memiliki kapal yang akan membawa orang-orang paling hebat di dunia melintasi samudra."
Di meja lain, seorang pria berambut pirang rapi dengan kacamata yang bertengger di hidungnya tampak sibuk dengan tumpukan kertas. Dia adalah Bastian Vogel. Tangannya gemetar saat ia menatap angka-angka di atas kertas tersebut. Bastian adalah seorang navigator jenius yang malang; ia baru saja kehilangan seluruh uang tabungannya di meja judi karena mencoba membantu biaya pengobatan adiknya.
"Sial... 5000 Euro dalam satu malam. Aku akan mati sebelum sempat melihat laut lagi," gumam Bastian frustrasi.
Tiba-tiba, sebuah bayangan menutupi mejanya. Lev Ryley berdiri di sana, mengunyah sosis keenamnya dengan santai.
"Navigasi yang bagus," ucap Lev sambil menunjuk salah satu peta bintang yang dibuat Bastian dengan tulisan tangan yang sangat detail. "Tapi sudut kemiringanmu untuk arus Laut Utara sedikit meleset jika kau melewati bulan Oktober."
Bastian mendongak, matanya menyipit di balik kacamata. "Siapa kau? Dan beraninya kau mengkritik perhitunganku? Aku lulusan terbaik sekolah navigasi maritim!"
Lev duduk tanpa diundang, menarik kursi dengan bunyi decit yang keras. "Namaku Lev. Aku sedang mencari orang yang tahu jalan pulang bahkan saat matanya tertutup badai. Kau terlihat seperti orang yang sedang tersesat, tapi peta ini... peta ini menunjukkan kau ingin pergi jauh."
"Aku tidak butuh filosofi bajak laut pemula," ketus Bastian. "Aku butuh uang untuk membayar utang sebelum para penagih utang di dermaga itu mematahkan kakiku."
"Bagaimana jika aku membayarmu dengan dunia?" Lev tersenyum, kali ini matanya terlihat serius, memancarkan aura kepemimpinan yang aneh. "Bergabunglah denganku. Kita akan mencuri kapal paling cepat di pelabuhan ini, dan sebelum para penagih utang itu sampai di sini, kita sudah akan berada di perairan internasional."
Bastian terdiam. Gila, pikirnya. Namun, saat ia melihat sekelompok pria berbadan besar dengan tato jangkar di lengan mereka masuk ke dalam kedai—para penagih utang yang ia takuti—pilihan Bastian menjadi sangat terbatas.
"Kapal mana yang kau maksud?" tanya Bastian pelan, suaranya bergetar.
Lev berdiri, membetulkan letak topi kaptennya, dan menunjuk ke arah jendela yang menghadap ke dermaga militer. Di sana, bersandar sebuah kapal patroli cepat milik otoritas laut dengan cat biru laut yang mengkilap.
"Itu," tunjuk Lev. "The Azure Vagabond. Dia hanya belum tahu kalau namanya sudah berubah."
"Itu bunuh diri!" seru Bastian.
"Bukan," jawab Lev sambil mulai berlari keluar kedai. "Itu awal dari sebuah legenda! Ayo, Navigator! Lari atau kakimu patah!"
Tanpa pilihan lain, Bastian menyambar tas petanya dan berlari mengikuti pemuda konyol bertopi besar itu. Di belakang mereka, teriakan para penagih utang dan pemilik kedai yang belum dibayar sosisnya bersahutan, membelah kabut pagi Hamburg.
Petualangan besar yang akan membawa mereka hingga ke Australia telah resmi dimulai dengan sebuah pencurian kapal paling konyol dalam sejarah Jerman.
Info Penting untuk Pembaca:
Karakter yang diperkenalkan: Lev Ryley (Kapten) dan Bastian Vogel (Navigator).
Tema: Keberanian, komedi situasional, dan awal persahabatan yang terpaksa.
Latar: Hamburg, Jerman (Eropa).
