Api perlawanan yang dipimpin Pangeran Antasari membakar seluruh pelosok Banjar. Perlawanan rakyat tidak lagi terpusat di satu tempat, melainkan menyebar ke mana-mana, menjadikan Belanda kewalahan. Pasukan Pangeran Antasari, yang terdiri dari para pemuda yang berani, gerilyawan hutan, dan perompak sungai yang setia, menggunakan taktik gerilya yang mematikan. Mereka menyerang pos-pos Belanda yang terpencil, menyabotase jalur komunikasi, dan memutus pasokan logistik musuh.
Di pertempuran pertama yang menentukan, Pangeran Antasari memimpin penyerangan ke benteng Oranye Nassau, markas Belanda yang terletak strategis. Dengan keberanian dan strategi yang cerdik, pasukannya berhasil merebut benteng itu. Kemenangan ini memberikan dorongan moral yang besar bagi rakyat Banjar, dan membuat Belanda marah.
Namun, Belanda tidak tinggal diam. Mereka mengirimkan pasukan tambahan dengan persenjataan yang lebih modern, dan mereka menggunakan taktik yang lebih brutal. Mereka menyerang desa-desa yang dicurigai mendukung Pangeran Antasari, membakar rumah-rumah, dan membunuh rakyat sipil. Mereka berharap, dengan cara ini, mereka bisa menakut-nakuti rakyat Banjar dan memadamkan semangat perlawanan.
Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Kekejaman Belanda semakin membakar amarah rakyat Banjar. Semangat perlawanan semakin kuat, dan semakin banyak orang yang bergabung dengan pasukan Pangeran Antasari. Mereka bersatu padu, bahu membahu, berjuang untuk kemerdekaan, untuk kehormatan, dan untuk tanah mereka.
Di tengah pertempuran, Pangeran Antasari mendapatkan dukungan tak terduga dari para tokoh Dayak, termasuk Tumenggung Surapati. Pangeran Antasari memahami bahwa perlawanan harus melibatkan seluruh elemen masyarakat di Kalimantan. Persekutuan ini memperkuat pasukannya dan memperluas wilayah perlawanan hingga ke Hulu Sungai Barito, tempat yang belum pernah terjamah oleh kekuasaan kolonial.
Sultan Suriansyah, yang kini sudah sangat tua dan sakit, hanya bisa melihat pertempuran dari kejauhan. Hatinya sedih melihat rakyatnya menderita, tetapi ia juga bangga melihat cucunya, Pangeran Antasari, memimpin perlawanan dengan gagah berani. Ia tahu, ia telah mewariskan semangat perjuangan kepada cucunya, dan ia tahu, warisannya akan terus hidup.
Bab ini berakhir dengan Perang Banjar yang semakin memanas. Pangeran Antasari dan pasukannya terus berjuang, melawan pasukan Belanda yang jauh lebih kuat. Mereka tahu, pertempuran ini akan berlangsung lama, dan mereka tahu, mereka mungkin tidak akan pernah melihat kemenangan. Namun, mereka juga tahu, mereka harus terus berjuang. Untuk kemerdekaan, untuk kehormatan, dan untuk masa depan Banjar yang lebih baik. Mereka adalah pewaris dari Maharaja Samudra, dan mereka akan terus berjuang hingga titik darah penghabisan.
