Vania mencoba menenangkan diri setelah insiden kencan buta yang memalukan. Ia mematikan ponselnya sepanjang malam, berharap bisa menghindari serangan pertanyaan dari Mia. Namun, ia lupa bahwa Mia punya cara lain untuk menjangkaunya. Pagi-pagi sekali, bel rumahnya berbunyi. Vania membuka pintu dan mendapati Mia dan Sarah sudah berdiri di depan rumahnya dengan wajah penuh rasa bersalah.
"Van, maafkan aku," Mia langsung memeluk Vania. "Aku tidak menyangka akan jadi begini."
"Sudahlah, Mia. Aku sudah memaafkanmu," Vania membalas pelukan Mia. "Tapi, tolong, jangan buat rencana konyol lagi, ya."
"Janji!" Mia mengangkat jari kelingkingnya.
Sarah, yang melihat kondisi Vania, menawarkan untuk pergi ke suatu tempat. "Bagaimana kalau kita ke pasar terapung lagi, Van? Siapa tahu kamu ketemu lagi sama pahlawan bebekmu itu," goda Sarah.
Vania menggeleng. "Tidak mau. Aku sudah cukup malu. Aku tidak mau menumpahkan es kelapa muda ke baju orang lagi."
"Sudahlah, Van. Tenang aja. Kali ini kita pasti berhasil," Mia menyemangati.
Akhirnya, Vania mengalah. Mereka bertiga kembali ke Pasar Terapung Lok Baintan. Vania mengenakan pakaian yang lebih sederhana, berharap tidak ada yang akan mengenalinya. Di sana, mereka kembali mengamati setiap sudut, bertanya kepada setiap pedagang, dan mencari informasi tentang pria misterius yang bernama Lev Ryley.
"Ada yang lihat pria tinggi, rambutnya agak pirang, dan punya lesung pipi?" tanya Mia kepada salah satu pedagang.
Pedagang itu mengernyit. "Kurang tahu, Neng. Di sini banyak turis. Bingung kalau harus hafal satu-satu."
Mia tidak menyerah. Ia terus bertanya kepada setiap orang yang ditemuinya. Sementara itu, Vania dan Sarah hanya mengikuti di belakang, merasa malu.
"Mia, sudah cukup. Kita sudah mutar-mutar seharian, tapi tidak ada hasilnya," kata Vania.
"Sabar, Van. Kita pasti ketemu," jawab Mia.
Saat sedang putus asa, Vania melihat seorang pria duduk di salah satu perahu, sedang menikmati es kelapa muda. Pria itu memunggungi Vania, tapi Vania merasa familiar dengan perawakan dan gaya berpakaiannya. Jantungnya berdebar kencang. Ia merasa yakin itu adalah Lev.
"Itu dia!" seru Vania, berbisik kepada Mia dan Sarah.
"Mana? Mana?!" Mia langsung heboh.
"Yang pakai kaus navy," Vania menunjuk ke arah pria itu.
Mia dan Sarah mengangguk. Mereka berdua langsung berjalan ke arah pria itu, meninggalkan Vania di belakang.
"Hai, Mas!" sapa Mia.
Pria itu menoleh. Wajahnya bukanlah Lev Ryley. Pria itu memiliki perawakan yang mirip, tapi wajahnya sangat berbeda. Ia menatap Mia dengan bingung.
"Maaf, kami kira Anda teman kami," Mia langsung malu.
"Tidak apa-apa," jawab pria itu.
Vania yang melihat kejadian itu, langsung melarikan diri. Ia merasa sangat malu. Ia tidak ingin lagi menghadapi situasi yang memalukan seperti ini.
Saat sedang berjalan tergesa-gesa, ia tidak sengaja menabrak seseorang.
Brak!
Tasnya jatuh, dan isi tasnya berhamburan. Vania langsung berjongkok untuk mengambilnya. Saat ia sedang mengambil isi tasnya, sebuah tangan membantu. Vania mendongak. Di depannya berdiri Lev Ryley.
"Astaga!" Vania terkejut.
Lev tersenyum. "Takdir mempertemukan kita lagi, Ratu Bebek," katanya, sambil menyerahkan buku yang terjatuh.
Vania merasa pipinya memanas. "Maaf, saya tidak sengaja."
"Tidak apa-apa," Lev menggeleng. "Tadi saya lihat Anda dengan teman-teman Anda. Kenapa buru-buru?"
"Saya... saya sedang mencari..." Vania tidak bisa melanjutkan kalimatnya.
"Mencari saya?" tanya Lev, sambil tersenyum.
Vania terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
"Saya sudah tahu," kata Lev. "Saya tahu Anda yang membuat profil di biro jodoh online. Saya juga tahu Anda kencan buta dengan Fikri, teman dari teman Sarah."
Vania terkejut. "Bagaimana Anda bisa tahu?"
"Dunia ini tidak seluas itu, Vania," jawab Lev. "Kebetulan, saya punya teman yang punya kenalan dengan teman Sarah. Dia cerita soal Fikri. Dia juga cerita soal kencan buta yang gagal."
Vania merasa sangat malu. Ia menundukkan kepalanya.
"Jangan malu," kata Lev, suaranya lembut. "Saya suka kejujuran Anda di profil itu. Jujur itu sulit, tapi itu juga yang membuat Anda menarik."
Vania mendongak. Lev menatapnya dengan tulus. Vania merasa hatinya bergetar. Ia tidak tahu harus berkata apa.
"Mungkin kita bisa mulai dari awal," kata Lev. "Bagaimana kalau kita makan siang bersama? Sebagai ucapan terima kasih karena Anda telah membuat hidup saya lebih berwarna."
Vania tersenyum. Ia merasa ada harapan. Mungkin, takdir tidak seburuk yang ia kira. Mungkin, takdir memang ingin mempertemukannya dengan Lev, dengan cara yang paling kocak dan tak terduga. Ia hanya bisa berdoa, semoga setelah ini, tidak ada lagi drama arisan online, bebek, atau es kelapa muda. Ia hanya ingin menikmati pertemuannya dengan Lev, pria misterius yang ternyata adalah ayah dari muridnya sendiri.
