Perjalanan ke Al-Azhar di pagi hari adalah sebuah pengalaman yang penuh makna. Fatimah, sebagai pemandu, menceritakan sejarah panjang universitas tertua di dunia Islam itu dengan penuh kebanggaan. Lev, sebagai arsitek, mengagumi setiap detail bangunan kuno yang penuh sejarah itu. Khadijah, dengan pengetahuannya tentang peradaban Islam, menjelaskan tentang peran Al-Azhar dalam melestarikan ilmu. Dan Aisyah, dengan semangatnya, merekam setiap sudut yang menurutnya estetik untuk konten vlog-nya.
Namun, di tengah perjalanan mereka, sebuah konflik kecil muncul, menguji persahabatan mereka. Setelah berkeliling Al-Azhar selama beberapa jam, mereka merasa lelah dan lapar. Mereka memutuskan untuk mencari makan siang di sebuah restoran di dekat sana.
"Aku mau makan makanan yang benar-benar khas Mesir," kata Aisyah, bersemangat.
"Aku juga," timpal Lev. "Aku ingin coba masakan yang direkomendasikan Fatimah."
Fatimah mengangguk. "Ada satu tempat yang menyajikan nasi briyani yang enak sekali. Itu restoran langganan keluargaku."
Mereka sampai di restoran yang dimaksud. Tempatnya tidak terlalu mewah, tapi ramai pengunjung. Fatimah memesan untuk mereka berempat. Namun, saat makanan datang, Aisyah merasa ada yang salah.
"Ini kok nasinya warna-warni, Fatimah? Bukannya nasi briyani itu nasinya kuning?" tanya Aisyah, sedikit kecewa.
Fatimah mengernyitkan dahi. "Ini juga nasi briyani, Aisyah. Setiap daerah punya cara masak yang berbeda."
"Tapi kan di internet nasi briyani itu nasinya kuning," Aisyah bersikeras.
"Di internet tidak semua hal benar, Aisyah," jawab Fatimah, mulai kesal.
Lev dan Khadijah mencoba menengahi.
"Mungkin Aisyah hanya ingin tahu," kata Khadijah, lembut. "Tidak ada salahnya bertanya."
"Tapi caranya, Khadijah. Seolah-olah aku salah pesan," Fatimah masih tidak terima.
"Aku kan cuma bertanya!" Aisyah meninggikan suara.
Suasana menjadi tegang. Lev, yang merasa bersalah, mencoba mencari cara untuk menenangkan suasana. Ia melihat nasi briyani di piringnya, dan tiba-tiba mendapat ide konyol.
"Gini, gini," kata Lev. "Aku tahu ini nasi briyani yang enak. Aku coba ya."
Lev kemudian mulai makan, tapi dengan gaya yang berlebihan. Ia mengunyah dengan dramatis, matanya melotot, seolah-olah nasi itu adalah hal yang paling lezat yang pernah ia makan.
Aisyah dan Fatimah yang tadinya bertengkar, langsung terdiam, memperhatikan tingkah Lev.
"Ada apa, Lev?" tanya Khadijah, menahan tawa.
"Enak sekali, Khadijah! Nasinya seperti menari di lidahku!" jawab Lev, dengan suara yang dibuat-buat. "Ini nasi briyani terbaik yang pernah aku makan!"
Khadijah, Fatimah, dan Aisyah tidak bisa menahan tawa. Kekonyolan Lev berhasil mencairkan suasana. Fatimah menepuk bahu Lev, tersenyum geli.
"Dasar konyol," kata Fatimah. "Tapi kamu berhasil."
"Sudah, sudah," kata Khadijah. "Sekarang kita makan, ya. Nasi briyani ini sudah menanti kita."
Mereka melanjutkan makan, kali ini dengan suasana yang lebih akrab. Aisyah meminta maaf kepada Fatimah, dan Fatimah pun memaafkannya. Lev, yang berhasil menjadi penengah, merasa lega. Ia tahu, dalam sebuah persahabatan, konflik kecil itu wajar. Yang terpenting, bagaimana mereka bisa menyelesaikannya dengan baik.
"Maaf ya, Fatimah. Aku cuma terlalu bersemangat," kata Aisyah, merasa bersalah.
"Tidak apa-apa," jawab Fatimah. "Aku juga minta maaf karena terlalu sensitif."
"Sudah, sudah," kata Khadijah. "Sekarang kita makan. Nasi briyani ini tidak akan enak kalau kita makan dengan hati yang kesal."
Mereka berempat kemudian makan nasi briyani dengan lahap. Nasi itu memang lezat, dengan rempah-rempah yang meresap sempurna. Lev, yang konyol, merasa bangga karena ia bisa mencicipi nasi briyani terenak, bukan di internet, melainkan di restoran langganan keluarga Fatimah.
Sore itu, setelah makan, mereka berjalan-jalan di sekitar Al-Azhar. Di tengah keramaian, mereka merasa lebih dekat. Konflik kecil tentang nasi briyani justru mempererat persahabatan mereka. Lev tahu, perjalanan ini bukan hanya tentang melihat tempat-tempat indah, tetapi juga tentang belajar bagaimana berinteraksi dengan orang lain, tentang bagaimana menyelesaikan masalah, dan tentang bagaimana menghargai setiap perbedaan.
