Sejak hijrahnya Maimunah, kehidupan di asrama menjadi lebih teratur atau setidaknya, menurut Zainab. Maimunah memang tidak lagi mengejar Naufal atau melakukan hal-hal konyol yang tidak jelas tujuannya. Namun, kini ia memiliki misi-misi baru yang tidak kalah anehnya.
"Zai, aku dapet ide!" kata Maimunah, suatu sore saat mereka baru pulang dari mengikuti kajian. "Namanya Misi Bintang Kejora."
Zainab, yang sedang menyusun buku-buku kuliahnya, hanya menatap datar. "Apa itu Misi Bintang Kejora?"
"Jadi gini, Zai," Maimunah berbisik, seolah-olah mereka sedang merencanakan kudeta, "Bintang Kejora itu kan terang banget, dan dia muncul di waktu yang pas. Nah, aku mau bikin Misi Bintang Kejora. Kita akan menyebarkan kebaikan, persis kayak bintang kejora yang bersinar terang."
"Tumben ide kamu bagus," komentar Zainab, sambil tersenyum tipis.
"Tentu saja!" Maimunah bangga. "Aku mau kita bagi-bagi makanan ke orang-orang yang membutuhkan di sekitar sini. Dan kita juga bisa bersihin masjid bareng-bareng!"
Zainab mengangguk. "Ide yang bagus, Mun. Tapi, apa hubungannya sama bintang kejora?"
"Ya biar keren aja, Zai," Maimunah nyengir, "kan kedengeran lebih romantis dan islami."
Adam, yang baru saja masuk kamar, tersenyum mendengar rencana Maimunah. "Aku dukung, Mun. Besok kita mulai."
"Asik!" Maimunah bersorak. "Tuh kan, Dam aja dukung. Kalo gitu, besok aku mau masak nasi goreng keju buat dibagiin."
Zainab langsung membelalakkan matanya. "Nasi goreng keju? Mun, jangan aneh-aneh! Nanti mereka muntah!"
"Enggak, Zai! Ini resep baru! Aku yakin enak!" Maimunah membela diri. "Aku yakin, semua orang pasti suka keju. Rasa keju itu kan universal!"
"Universal apanya, Mun!" Zainab protes. "Orang Rusia terbiasa makan nasi goreng dengan sosis, bukan keju!"
"Ya udah, kita tambahin sosis sama bawang bombay," Maimunah ngotot. "Nanti namanya jadi 'Nasi Goreng Keju Moskow'!"
Zainab menggelengkan kepala, menyerah. Ia tahu, tidak ada gunanya berdebat dengan Maimunah jika sudah punya ide gila. "Terserah kamu deh, Mun. Tapi kalau ada yang protes, kamu yang tanggung jawab."
Keesokan harinya, Maimunah benar-benar memasak nasi goreng keju. Aroma keju yang meleleh bercampur dengan bumbu nasi goreng membuat Zainab merinding. "Mun, apa kamu yakin ini bisa dimakan?" tanyanya.
"Bisa, Zai! Tenang aja!" Maimunah menjawab dengan percaya diri.
Mereka berdua, bersama Adam, membawa panci besar berisi nasi goreng keju itu ke pinggir jalan. Mereka membagikannya kepada para tunawisma yang tinggal di jalanan. Sebagian dari mereka melihat nasi goreng itu dengan tatapan aneh, tetapi sebagian lagi menerimanya dengan senang hati.
Seorang pria tua dengan janggut tebal mencicipi nasi goreng itu. Matanya melebar, lalu ia tersenyum. "Enak," katanya dalam bahasa Rusia. "Rasa keju dan sosisnya, unik. Rasanya seperti nasi goreng di bulan."
Maimunah tersenyum lebar. "Tuh kan, Zai! Enak! Aku bilang juga apa! Nasi Goreng Keju Moskow!"
Zainab tidak bisa menahan tawa. Ia merasa lega, misinya Maimunah berhasil.
Namun, di tengah-tengah kebahagiaan mereka, tiba-tiba mereka melihat Naufal. Naufal berjalan mendekat, dengan sebuah buku di tangannya.
"Maimunah," panggil Naufal.
Maimunah menghentikan aktivitasnya. Ia menatap Naufal, lalu Adam, lalu Zainab. Ia merasa, ia harus mengambil keputusan.
"Naufal," kata Maimunah, "aku nggak mau ngobrol sama kamu lagi. Aku cuma mau fokus sama hijrahku."
Naufal terdiam. Ia menatap Maimunah dengan tatapan sendu. "Maimunah, aku... aku minta maaf. Aku salah."
"Nggak apa-apa," jawab Maimunah, "semua ini sudah takdir."
Naufal tidak menyerah. Ia memberikan buku itu pada Maimunah. "Ini buku tentang Islam. Aku mau kamu baca. Aku mau kamu tahu, kalau aku nggak bohong. Aku juga mau hijrah."
Maimunah mengambil buku itu. Ia menatap Naufal. Ia melihat ketulusan di mata Naufal.
"Terima kasih," kata Maimunah.
Naufal tersenyum. "Sama-sama, Mun."
Setelah itu, Naufal pergi. Maimunah menatap buku itu, lalu tersenyum. Ia merasa, ia telah menemukan jalan pulang. Jalan pulang ke Allah.
To be continued...
