Temukan sisi tenang Ibiza di Cala Conta (Cala Comte) bersama Khalisah dan Rabiatun. Bab 3 ini menyajikan keindahan pantai tersembunyi, air jernih, momen komedi burkini terbalik, dan inspirasi traveling ramah Muslimah.
Bab 3: Ketenangan di Cala Conta, Ibiza, Spanyol
Dari Sisilia, perjalanan Khalisah dan Rabiatun berlanjut ke Ibiza, Spanyol. Pulau ini identik dengan pesta, klub malam, dan kehidupan malam yang hingar bingar. Namun, Khalisah, dengan risetnya yang mendalam, tahu persis di mana menemukan ketenangan dan keindahan alam yang otentik. Destinasi mereka adalah Cala Conta, atau yang sering disebut Cala Comte, sebuah pantai yang terkenal dengan airnya yang sebening kristal dan pemandangan matahari terbenam terbaik di seluruh Spanyol.
"Ibiza, here we come! Siapa bilang muslimah nggak bisa ke Ibiza?" seru Rabiatun antusias saat mereka mendarat di bandara Ibiza.
Khalisah tersenyum. "Kita tunjukkan kalau Ibiza juga punya sisi tenang dan ramah untuk kita."
Mereka menginap di sebuah finca (rumah pertanian tradisional Ibiza) yang sudah diubah menjadi penginapan butik yang tenang, jauh dari keramaian kota utama. Setibanya di Cala Conta sore harinya, mereka langsung terpesona. Pantai ini terdiri dari beberapa teluk kecil dengan pasir putih lembut, air lautnya memiliki gradasi warna biru muda hingga biru tua yang memukau. Beberapa pulau kecil tak berpenghuni terlihat di kejauhan, menambah eksotisme pemandangan.
Suasana di sana sangat santai. Orang-orang sibuk berjemur, berenang, atau sekadar menikmati birunya laut. Khalisah dan Rabiatun menemukan sudut yang agak tersembunyi di balik bebatuan, tempat yang pas untuk mereka menggelar tikar dan menikmati suasana dengan privasi.
"Subhanallah, airnya jernih banget, Khal. Sampai kelihatan ikan-ikan kecil di dasar," ujar Rabiatun, matanya berbinar-binar.
Mereka memutuskan untuk berenang. Kali ini, mereka sudah terbiasa dengan rutinitas burkini mereka. Namun, di sinilah momen komedi yang ditunggu-tunggu terjadi.
Rabiatun, yang terburu-buru ingin segera menceburkan diri ke air, mengenakan burkini-nya dengan sedikit tergesa. Saat ia berlari kecil menuju air, Khalisah yang sedang merapikan barang bawaan menyadari ada yang aneh.
"Bun! Tunggu!" panggil Khalisah sambil menahan tawa.
Rabiatun menoleh dengan bingung. "Ada apa, Khal? Ikannya keburu pada kabur, nih!"
"Burkini kamu... terbalik!" kata Khalisah, akhirnya tidak bisa menahan tawa renyahnya.
Rabiatun mematung. Ia menatap dirinya sendiri. Benar saja, ritsleting depan burkini-nya ada di belakang, dan bagian topinya terlihat aneh di bagian depan. Beberapa pasang mata turis di sekitar mereka ikut tersenyum melihat kejadian lucu tersebut. Wajah Rabiatun langsung memerah padam.
"Ya ampun! Malu banget!" pekiknya, lalu berlari cepat kembali ke bilik ganti terdekat sambil menahan tawa malunya.
Khalisah tertawa terpingkal-pingkal. Momen slice of life yang murni dan tak terencana ini menjadi salah satu kenangan terlucu mereka. Setelah Rabiatun kembali dengan burkini yang sudah benar, mereka berdua tertawa lagi bersama, melupakan rasa malu sesaat tadi.
Mereka berenang dan snorkeling sebentar. Airnya yang jernih memudahkan mereka mengamati kehidupan bawah laut tanpa perlu menyelam terlalu dalam. Rasanya damai sekali.
Saat sore mulai menjelang, suasana pantai berubah. Lebih banyak orang berdatangan, bukan untuk berjemur, tapi untuk menyaksikan ritual harian yang paling terkenal di Cala Conta: matahari terbenam. Mereka duduk di atas tikar, mengeringkan badan setelah berenang.
Langit mulai berubah warna. Dari biru muda menjadi oranye keemasan, merah muda, hingga ungu tua. Matahari perlahan turun ke cakrawala, di belakang pulau-pulau kecil di laut. Pemandangan itu begitu magis, membuat semua orang di pantai terdiam, sibuk dengan pikiran dan kekaguman masing-masing.
Bagi Khalisah dan Rabiatun, momen itu adalah waktu refleksi yang mendalam. Mereka berdua terdiam, mengagumi keagungan Sang Pencipta yang melukis langit dengan begitu sempurna setiap harinya, tanpa pernah lelah.
"Keindahan dunia ini cuma sebagian kecil dari surga, ya, Khal," bisik Rabiatun, matanya berkaca-kaca terharu.
"Iya, Bun. Dan semua ini adalah bukti nyata kebesaran Allah. Kita beruntung bisa melihatnya langsung," balas Khalisah.
Malam itu, mereka menikmati makan malam di sebuah restoran dekat pantai yang menyajikan hidangan vegetarian paella yang halal dan lezat. Interaksi dengan pelayan lokal yang ramah membuat mereka semakin merasa nyaman di Ibiza. Mereka menemukan bahwa di balik citra hedonis pulau itu, masih banyak kehidupan bermasyarakat yang normal, ramah, dan menghargai ketenangan alam.
Khalisah menutup babak di Ibiza dengan beberapa catatan di agendanya:
Review dan Tips Cala Conta:
*Hidden gem terbaik di Ibiza untuk ketenangan.
*Sunset-nya adalah yang terbaik di Eropa, wajib ditonton.
*Air jernih, cocok untuk snorkeling.
*Momen burkini terbalik: priceless.
*Ada pilihan makanan halal/vegetarian di restoran lokal.
Mereka kembali ke penginapan dengan hati yang damai dan penuh inspirasi. Ibiza telah memberikan mereka pengalaman yang tak terduga, membuktikan bahwa setiap tempat memiliki sisi keindahan yang menunggu untuk ditemukan, bahkan di tempat yang paling tidak terduga sekalipun. Petualangan mereka berlanjut, menuju pantai besar dan aman di Yunani.
