Usia tua dan duka mendalam karena melihat penderitaan rakyat akibat kekejaman Belanda akhirnya merenggut nyawa Sultan Suriansyah. Beliau wafat dengan tenang di tempat persembunyiannya, dikelilingi oleh Gendut, Khatib Dayyan, dan para pembesar setia yang masih bertahan. Meskipun raga beliau telah tiada, semangat dan tekadnya hidup dalam diri cucu kesayangannya, Pangeran Antasari.
Berita wafatnya Sultan Suriansyah menyebar dengan cepat, menjadi pukulan telak bagi pasukan Banjar. Banyak yang merasa kehilangan, merasa obor perjuangan telah padam. Namun, Pangeran Antasari tidak membiarkan kesedihan menguasai. Di hadapan para pejuang yang berduka, ia berdiri tegak, dengan mata memancarkan tekad yang sama seperti kakeknya.
"Ayahku, sang Maharaja Samudra, telah menyelesaikan tugasnya," kata Pangeran Antasari, suaranya lantang dan penuh wibawa. "Beliau mendirikan Kesultanan ini, dan beliau mempertahankannya hingga akhir hayat. Sekarang, obor perjuangan ada di tangan kita. Kita tidak boleh membiarkannya padam. Kita akan terus berjuang, bukan untuk takhta, tetapi untuk rakyat kita, untuk tanah kita, dan untuk kehormatan kita!"
Kata-kata Pangeran Antasari membakar semangat para pejuang. Mereka yang semula berduka, kini bangkit dengan semangat baru. Mereka bersumpah setia kepada Pangeran Antasari, dan bersumpah akan terus berjuang sampai titik darah penghabisan. Di tengah duka, mereka menemukan kekuatan baru, kekuatan yang berasal dari warisan sang Maharaja Samudra.
Belanda, yang mengetahui wafatnya Sultan Suriansyah, merasa senang. Mereka yakin, tanpa pemimpin, perlawanan akan segera padam. Jenderal Verhoeven segera meluncurkan serangan besar-besaran ke wilayah Banjar, berharap bisa mengakhiri perang dengan cepat.
Namun, ia salah. Perang Banjar justru semakin memanas. Pangeran Antasari, yang kini menjadi pemimpin utama, memimpin perlawanan dengan taktik yang lebih cerdas dan lebih brutal. Ia menggunakan pengetahuan gerilya dari Bagus, taktik perang air dari Sangkuriang, dan strategi militer modern dari pasukan Demak. Ia menyerang pos-pos Belanda yang terpencil, menyergap konvoi logistik musuh, dan membuat kekacauan di barisan Belanda.
Belanda semakin frustrasi. Mereka tidak bisa mengalahkan Pangeran Antasari, yang selalu bergerak cepat dan tidak pernah bisa diprediksi. Mereka mencoba untuk mengepungnya, tetapi Pangeran Antasari selalu berhasil melarikan diri, dengan bantuan dari Tumenggung Surapati dan para pejuang Dayak.
Bab ini berakhir dengan Perang Banjar yang semakin memanas. Obor perjuangan telah diestafetkan dari sang pendiri, Sultan Suriansyah, kepada sang penerus, Pangeran Antasari. Kisah Maharaja Samudra telah usai, tetapi kisahnya telah menginspirasi lahirnya pahlawan-pahlawan baru, yang akan terus berjuang untuk kemerdekaan Banjar. Meskipun Pangeran Antasari dan pasukannya menghadapi kekuatan yang jauh lebih besar, mereka tidak pernah menyerah. Mereka adalah pewaris dari semangat juang sang Maharaja Samudra, dan mereka akan terus berjuang hingga akhir.
