Ikuti petualangan Lev Ryley dalam novel bajak laut modern dengan bumbu komedi, romansa, dan persahabatan sejati. Menjelajahi lautan dari Eropa hingga Australia bersama 11 kru unik.
Kapal The Azure Vagabond—yang sebenarnya masih memiliki logo kepolisian Hamburg di lambungnya—membelah ombak Selat Inggris dengan kecepatan tinggi. Di kemudi, Bastian Vogel tampak pucat pasi. Tangannya mencengkeram kemudi begitu erat hingga buku jarinya memutih.
"Lev! Ini gila! Kita baru saja melewati tiga kapal patroli Prancis dan kau malah menyuruhku mendekat ke muara sungai Seine?" teriak Bastian di atas deru angin.
Lev Ryley, sang kapten, sedang duduk santai di atas pagar kapal, menyeimbangkan tubuhnya dengan luar biasa seolah gravitasi tidak berlaku baginya. Ia sedang asyik memakan apel curian dari dapur kapal. "Tenanglah, Bastian! Paris adalah kota cinta, bukan? Siapa tahu kita menemukan cinta... atau setidaknya seseorang yang bisa menggunakan pedang dengan benar."
Setelah menyelinap melalui rute air yang rumit, mereka akhirnya menepi di dermaga tersembunyi di pinggiran Paris. Lev melompat turun sebelum kapal benar-benar berhenti. Tujuannya satu: sebuah bar bawah tanah yang terkenal sebagai tempat berkumpulnya para tentara bayaran dan petarung kelas atas.
Di dalam bar bernama L’Épée d’Argent (Pedang Perak), suasana terasa berat dengan aroma anggur merah dan asap cerutu. Di tengah ruangan, seorang pria dengan rambut cokelat gelap dan rahang tegas duduk sendirian. Ia mengenakan kemeja putih yang sedikit kotor, namun pedang panjang yang bersandar di mejanya tampak sangat terawat dan berkilau. Ia adalah Arthur Thorne, mantan ksatria kehormatan dari Inggris yang mengasingkan diri setelah menolak perintah raja yang korup.
"Tiga orang di belakangmu akan menyerang dalam hitungan detik, Tuan Ksatria," ucap sebuah suara wanita dari sudut gelap bar.
Arthur tidak menoleh. "Aku tahu, Clara."
Clara Lefebvre, seorang wanita dengan kacamata baca dan buku catatan tebal di pangkuannya, menyesap kopinya. Ia adalah seorang arkeolog yang sering menghabiskan waktu di bar itu untuk mencari informasi tentang reruntuhan kuno.
Tiba-tiba, tiga preman lokal menerjang Arthur dengan pisau terhunus. Dengan gerakan yang hampir tidak terlihat oleh mata telanjang, Arthur memutar pedangnya—masih di dalam sarungnya—dan menghantam ulu hati mereka satu per satu. Brak! Brak! Brak! Ketiganya tumbang dalam sekejap.
"Luar biasa!" teriak Lev yang tiba-tiba muncul di pintu masuk, bertepuk tangan dengan antusias. "Kau punya teknik yang hebat, Tuan Serius. Dan kau, Nona berkacamata, instingmu tajam sekali!"
Arthur menatap Lev dengan dingin. "Siapa kau, anak kecil? Ini bukan tempat untuk bermain bajak laut."
Lev mendekat, mengabaikan tatapan mengancam orang-orang di bar. Ia duduk tepat di depan Arthur dan Clara. "Aku Lev Ryley. Aku sedang membangun kru paling bebas di dunia. Aku butuh otot sehebat kau, Arthur, dan otak secemerlang kau, Clara."
Clara mengangkat sebelah alisnya, tertarik. "Bagaimana kau tahu namaku?"
"Aku melihat namamu di sampul buku catatanmu itu. 'Properti Clara Lefebvre: Rahasia Samudra Atlantik'. Kedengarannya seperti sesuatu yang harus ada di kapalku," jawab Lev sambil menyengir tanpa dosa.
Arthur mendengus. "Aku tidak tertarik pada petualangan konyol. Aku sudah selesai dengan sumpah setia."
"Ini bukan sumpah setia pada raja atau negara," potong Lev, suaranya mendadak rendah dan berwibawa. "Ini janji pada dirimu sendiri untuk melihat apa yang ada di ujung cakrawala. Bukankah kau bosan hanya memukul preman mabuk di sini?"
Tiba-tiba, pintu bar didobrak terbuka. Pasukan keamanan Paris masuk, mencari "pencuri kapal dari Hamburg". Bastian muncul di belakang mereka dengan wajah memelas, tangannya terikat.
"Itu dia! Kapten gila itu!" teriak komandan pasukan menunjuk Lev.
Lev berdiri, membetulkan topi kaptennya. "Arthur, Clara... jika kalian ingin tetap di sini, silakan jelaskan pada mereka kenapa kalian minum bersama buronan internasional. Tapi jika kalian ikut denganku, aku janji makan malam ini akan sangat seru!"
Arthur menatap pedangnya, lalu menatap Lev. Sebuah senyum tipis—pertama kalinya dalam bertahun-tahun—muncul di wajahnya. Ia berdiri dan menghunuskan pedang peraknya. "Baiklah, Kapten. Setidaknya ini lebih baik daripada mati karena bosan."
Clara menutup bukunya dengan keras. "Aku butuh transportasi ke situs kuno di Afrika. Anggap saja ini kontrak kerja."
"Sempurna!" seru Lev. Dengan kombinasi tebasan pedang Arthur yang mematikan dan analisis rute pelarian dari Clara, mereka menerjang keluar bar, menyelamatkan Bastian, dan kembali ke The Azure Vagabond di bawah hujan peluru dan botol anggur yang pecah.
Kapal itu kini memiliki empat anggota. Laut Mediterania dan kru-kru dari Italia sudah menunggu di depan mata.
Poin Menarik Bab ini:
Karakter Baru: Arthur Thorne (Swordsman) dan Clara Lefebvre (Arkeolog).
Genre: Aksi yang dipadukan dengan komedi khas Lev yang tidak tahu malu.
Latar: Paris, Prancis.
