Martapura, Februari 1795 Masehi
Suasana di kantor administrasi Kesultanan Banjar mendadak riuh. Muhammad Hifni, sang juru tulis yang biasanya setenang permukaan Sungai Martapura, hari ini tampak gelisah. Di tangannya ada selembar surat permohonan izin panjang yang ditulis dengan tinta terbaik.
"Hifni, kau yakin? Pergi ke Mekah itu bukan seperti pergi memancing ke hulu sungai," ujar Gusti pimpinan kantornya, sambil mengelus janggut. "Kapal dagang itu penuh dengan risiko. Bajak laut, badai, sampai penyakit cacar air. Dan kau mau membawa istri serta anakmu yang masih balita?"
Hifni membenarkan posisi pecinya yang sedikit miring. "Gusti, rindu kami pada Baitullah sudah lebih besar dari rasa takut pada ombak. Lagipula, jika saya tidak berangkat sekarang, mungkin tabungan saya hanya akan habis untuk membeli kursi kayu baru pesanan istri saya."
Pimpinan itu tertawa terbahak-bahak. "Baiklah, kuberikan izin. Tapi ingat, kalau kau kembali nanti, aku ingin oleh-oleh tasbih kayu zaitun asli!"
Hifni pulang dengan perasaan lega sekaligus ngeri. Begitu sampai di rumah, pemandangan di ruang tengah membuatnya tercengang. Rina Rufida, istrinya, sedang duduk di lantai dikelilingi oleh tumpukan barang yang luar biasa banyak.
"Rina, kita akan naik kapal laut, bukan pindah rumah ke tengah hutan!" seru Hifni kaget.
Rina menoleh sambil memegang sebuah ulekan batu besar. "Abah, dengar dulu. This is important. Di kapal nanti makanannya pasti hambar. Aku dengar pelaut-pelaut itu hanya makan roti kering dan daging asin yang kerasnya minta ampun. Bagaimana kita bisa bertahan tanpa sambal acan (terasi)?"
Hifni menatap ulekan batu itu dengan ngeri. "Tapi itu batu, Rina! Berat! Kapal bisa tenggelam kalau semua jemaah membawa ulekan."
"Oh, don't worry," jawab Rina dengan gaya bahasa Inggrisnya yang khas. "Aku sudah menghitungnya. Ulekan ini akan jadi penyeimbang berat di dalam peti kayu kita. Lagipula, Khalisa tidak bisa makan kalau tidak ada rasa pedas sedikit."
Khalisa, si kecil berumur 5 tahun, sedang sibuk memasukkan mainan kuda-kudaan kayunya ke dalam karung goni. "Abah, nanti kalau di kapal naga itu lapar, Khalisa beri sambal Ummi saja ya? Biar naganya kepedasan dan tidak jadi makan kita."
Hifni hanya bisa menepuk jidat. Keluarga kecil ini memang unik. Di satu sisi, ada Hifni yang terlalu logis tapi pelupa, dan di sisi lain ada Rina yang sangat visioner (baca: repot) dengan segala perlengkapan "survivor"-nya.
Malam itu, mereka mulai menyortir barang. Rina bersikeras membawa kain sarung tambahan untuk ditukar dengan barang-barang di pelabuhan persinggahan.
"Kita harus belajar berdagang sedikit, Abah. Siapa tahu di Aceh atau Malaka nanti kita butuh bekal tambahan. Business and worship, kenapa tidak?" ujar Rina sambil melipat pakaian dengan rapi.
Hifni menatap istrinya dengan kagum. Di balik sifat jenakanya, Rina adalah tiang kekuatan yang luar biasa. Ia tahu perjalanan ini akan sangat berat bagi seorang wanita di tahun 1795, namun Rina tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun.
Hifni membuka catatan hariannya—buku yang nantinya ditemukan Zain di tahun 2026—dan menuliskan satu baris kalimat:
“Malam ini, persiapan fisik mulai matang, meski ulekan batu Rina mungkin akan menjadi beban terberat sekaligus penyelamat selera makan kami di tengah samudera.”
Kembali ke Februari 2026
Zain yang sedang membaca bab ini di loteng tertawa sendiri hingga bahunya berguncang. "Ya ampun, Nenek Rina membawa ulekan batu ke Mekah pada tahun 1795? Benar-benar legendaris!"
Zain lalu mengambil ponselnya, memotret halaman catatan itu, dan mengunggahnya ke media sosial dengan caption: “Ternyata rahasia haji mabrur kakek buyutku dimulai dari sebuah ulekan sambal. #History #Martapura1795 #HajiStory”
Postingan itu langsung viral. Orang-orang mulai penasaran, bagaimana nasib ulekan itu saat badai di Selat Malaka nanti?
Spoiler Bab 3 (Maret 2026):
Kehebohan saat keluarga Hifni mulai naik perahu kecil menuju pelabuhan besar.
Rina Rufida mencoba mempraktikkan bahasa Inggrisnya kepada seorang mualaf asal Eropa yang ia temui di dermaga.
Khalisa hampir menjatuhkan bekal penting ke sungai.
Pertanyaan untuk Pembaca: "Kalau kalian pindah ke luar negeri atau perjalanan jauh, barang unik apa yang wajib dibawa?" (Tulis di kolom komentar!)
Sampai jumpa di Bab 3 pada bulan Maret 2026!
