Banjarbaru, 20 Februari 2026
Lev Ryley masih terduduk di kedai kopi yang sama di Minggu Raya. Di luar, jalanan Ahmad Yani km 34 mulai padat oleh kendaraan. Di hadapannya, sebuah foto polaroid yang sudah mulai menguning menampilkan sosok Vania yang sedang tertawa di depan Lapangan Murjani. Foto itu diambil tepat bulan ini, sebelas tahun yang lalu.
Lev mengusap permukaan foto itu. "Februari itu... saat semua perlahan mulai berubah, Van," bisiknya. Pikirannya kembali tersedot ke masa lalu, ke sebuah sore yang mengubah segalanya.
Banjarbaru, Februari 2015
Kota Banjarbaru sedang berada di puncak musim hujan. Udara lembap menyelimuti kampus, memaksa para mahasiswa untuk lebih banyak berdiam diri di kantin atau musala. Bagi Lev dan Vania, masa-masa ini adalah masa paling indah. Mereka baru saja melewati satu bulan sejak pertemuan pertama mereka di perpustakaan, dan kedekatan mereka kini telah sampai pada tahap pembicaraan serius antar keluarga.
Sore itu, mereka duduk di sebuah saung kayu di area belakang kampus. Vania sedang sibuk mencatat jadwal kegiatan bakti sosial yang akan mereka adakan di Panti Asuhan daerah Landasan Ulin.
"Lev, coba lihat ini," ujar Vania sambil menyodorkan buku agendanya.
Namun, perhatian Lev tidak tertuju pada tulisan tangan Vania yang rapi. Matanya terpaku pada pergelangan tangan gadis itu yang sedikit terbuka saat ia menyodorkan buku. Di sana, di atas kulit kuning langsat yang biasanya bersih, terdapat memar kebiruan yang cukup besar.
"Vania, tanganmu kenapa? Kamu jatuh?" tanya Lev dengan nada khawatir yang tidak bisa disembunyikan.
Vania menarik tangannya dengan cepat, mencoba menutupi memar itu dengan lengan bajunya. Ia tertawa kecil, tawa yang terdengar sedikit dipaksakan. "Ah, ini? Mungkin cuma terbentur meja kemarin. Aku memang agak ceroboh, kan?"
Lev terdiam. Ia tahu Vania orang yang aktif, tapi memar itu tampak tidak wajar. Warnanya gelap, seolah-olah darah menggumpal di bawah sana tanpa sebab yang jelas. Namun, ia memilih untuk percaya. Ia tidak ingin merusak suasana sore yang tenang itu.
Seminggu kemudian, tanda-tanda itu mulai bertambah. Vania yang biasanya sangat bersemangat saat diskusi dakwah, mulai sering terlihat pucat. Bibirnya yang biasanya kemerahan tampak sedikit memutih. Saat mereka sedang berjalan kaki menuju gerbang kampus, Vania tiba-tiba berhenti dan bersandar pada sebuah pohon beringin besar.
"Capek, Van?" tanya Lev lembut.
Vania mengatur napasnya. Keringat dingin sebesar biji jagung tampak di keningnya padahal cuaca sedang mendung. "Hanya sedikit pusing, Lev. Mungkin karena kurang tidur mengerjakan tugas akhir semester."
"Kita ke klinik, ya?" ajak Lev.
Vania menggeleng kuat. "Tidak perlu. Cukup istirahat saja di rumah. Besok kan kita sudah janji mau melihat-lihat mahar di toko emas dekat pasar Martapura."
Melihat binar harapan di mata Vania saat menyebut kata 'mahar', Lev mengurungkan niatnya untuk memaksa. Ia tidak ingin memadamkan kebahagiaan gadis itu. Mereka pun melanjutkan rencana mereka, meskipun Lev bisa merasakan bahwa langkah kaki Vania tidak seringan biasanya.
Malam harinya, Lev tidak bisa tidur. Ia membuka kitab Tibb an-Nabawi (Kedokteran Nabi) dan mencari-cari tentang gejala tubuh yang mudah lelah dan memar. Ia mencoba mencari ketenangan dalam doa, memohon kepada Sang Maha Penyembuh agar kekhawatirannya hanyalah prasangka belaka.
Namun, takdir Allah memiliki jalannya sendiri.
Dua hari kemudian, saat sedang mengikuti perkuliahan, Lev menerima telepon dari ibu Vania. Suara di seberang sana terdengar gemetar dan penuh isak tangis.
"Lev... Vania, Nak... Vania pingsan di kamar mandi. Sekarang kami di RSUD Idaman. Dia muntah darah, Lev..."
Dunia seolah runtuh menimpa pundak Lev. Buku yang ia pegang jatuh ke lantai tanpa ia sadari. Tanpa memedulikan dosen yang sedang mengajar, ia berlari keluar kelas. Di bawah guyuran hujan lebat yang membasahi bumi Banjarbaru, Lev memacu motornya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit.
Di dalam hatinya, ia terus merapalkan doa yang sama berulang kali. "Ya Allah, hamba mohon... jangan sekarang. Kami baru saja memulai semuanya."
Ia tidak menyadari bahwa memar di lengan Vania adalah awal dari sebuah badai yang akan menyapu bersih semua rencana masa depannya. Di koridor rumah sakit yang berbau karbol, Lev Ryley akan segera menghadapi kenyataan paling pahit dalam hidupnya: bahwa cinta yang ia jaga, sedang bertarung nyawa melawan musuh yang tidak terlihat mata.
