Setelah disuguhi logline komedi dari dapur, fokus Vania kembali beralih kepada orang tuanya. Pak Arifin, seorang pensiunan pegawai negeri yang kharismatik, dan Bu Fatma, ibu rumah tangga yang lembut namun tegar, tinggal di rumah mereka yang asri di kawasan Kayu Tangi, area Banjarmasin yang ramai namun tetap terasa damai.
Vania duduk (secara spiritual) di samping ayahnya yang sedang membaca Al-Qur'an di ruang tengah setelah salat Magrib. Cahaya dari mushaf dan cahaya iman Pak Arifin bersinar begitu kuat, memberikan Vania rasa nyaman yang luar biasa di alam barzakh. Pak Arifin melantunkan ayat-ayat suci dengan suara yang tenang, meskipun Vania bisa merasakan ada getaran kesedihan yang coba disembunyikan dalam setiap jeda napasnya.
"Ayah kuat sekali," bisik Vania kepada Syekh, pemandunya, yang selalu hadir di dekatnya.
"Keikhlasan adalah benteng terkuat melawan duka," jawab Syekh. "Orang tuamu menerima takdirmu dengan lapang dada. Itulah amal jariah mereka yang terus mengalirkan ketenangan bagimu."
Vania kemudian mengalihkan pandangannya ke arah dapur, tempat Bu Fatma sedang merapikan piring. Bu Fatma menyenandungkan selawat lirih. Vania melihat bayangan ibunya di cermin dapur, tersenyum lemah. Vania teringat saat-saat ibunya dulu selalu menyiapkan bekal untuknya mengajar. Momen slice of life yang kini hanya tinggal kenangan manis.
Ada satu momen yang membuat hati Vania teriris pilu namun juga menghangat. Bu Fatma mengambil sebuah foto Vania yang dibingkai indah—foto saat Vania diwisuda sarjana dengan senyum lebar khasnya.
"Anakku, Vania," gumam Bu Fatma sambil mengusap bingkai foto itu. "Ibu ikhlas, Nak. Kamu sudah tidak sakit lagi di sana. Tapi Ibu rindu sekali."
Saat kata-kata itu terucap, Vania merasakan gelombang energi positif dan cahaya hangat memancar dari ibunya langsung kepadanya di alam barzakh. Ini adalah bukti nyata koneksi melalui doa dan kasih sayang yang tulus, bukan interaksi fisik.
Vania juga mengamati lingkungan sekitar rumahnya di Kayu Tangi. Tetangga-tetangga yang baik hati sering datang berkunjung, membawakan kue bingka atau amparan tatak khas Banjar, sekadar untuk menemani Pak Arifin dan Bu Fatma mengobrol ringan, memastikan mereka tidak kesepian.
"Masyarakat di sini sangat peduli," kata Vania.
"Itu adalah manifestasi dari ukhuwah Islamiyah," ujar Syekh.
"Mereka saling menjaga, meringankan beban duka dengan kehadiran mereka. Ini juga salah satu bentuk amal shaleh yang cahayanya sampai kepadamu."
Melihat ketabahan dan dukungan dari lingkungan sekitarnya, Vania merasa lebih tenang. Orang tuanya tidak sendirian. Mereka dikelilingi oleh cinta dan keimanan. Walaupun ada rasa rindu yang mencekam, proses pemulihan mereka berjalan secara Islami dan alami. Vania menyadari bahwa kunjungannya—meski tak kasat mata—memberinya perspektif baru tentang kekuatan iman dalam menghadapi kehilangan.
Dia kini tidak hanya mengamati duka, tetapi juga keteguhan hati. Vania berdoa lagi, kali ini bukan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk kekuatan orang tuanya agar selalu istiqamah dalam menerima takdir Allah. Dia siap untuk mengamati petualangan baru dalam kehidupan orang-orang terkasihnya di Banjarmasin.
