Muhammad Hifni memarkir motor maticnya di area parkir Kantor Dinas Tata Ruang Kabupaten Hulu Sungai Tengah tepat pukul 07.48 WITA. Napasnya sedikit tersengal, untungnya ia berhasil menghindari sanksi administrasi pagi ini. Dengan langkah terburu, ia menuju mesin absen sidik jari yang terletak di lobi utama kantor yang berlantai dua tersebut.
"Alhamdulillah, pas!" gumamnya lega saat layar mesin menampilkan tulisan "HADIR" dengan senyum digital yang ramah. Beberapa rekan kerjanya yang juga baru datang melemparkan senyum dan sapaan khas Barabai.
"Pagi, Pak Hifni! Semangat amat?" sapa Pak Idris, Kepala Seksi Perencanaan, dengan senyum khasnya.
"Pagi juga, Pak Idris. Semangat demi TKD yang utuh, Pak!" balas Hifni sambil tertawa kecil.
Hifni melangkah ke ruangannya di lantai dua, ruang Seksi Pengawasan Bangunan. Ruangan itu berisi empat meja kerja, tiga di antaranya sudah terisi oleh rekan-rekannya: Pak Dadang yang sebentar lagi pensiun, Bu Ani yang cerewet tapi cekatan, dan Rio, staf honorer yang paling melek teknologi di antara mereka.
Hifni menyalakan komputer tuanya. Butuh waktu sekitar lima menit hanya untuk booting. Selama menunggu, ia mengeluarkan bekal makan siangnya dari tas ranselnya—sebuah kotak plastik biru muda berisi nasi goreng buatan Rina yang sudah dingin. Ia melirik isinya, senyum tipis terukir di bibirnya. Bekal ini adalah pengingat cintanya Rina, sekaligus penghematan signifikan dari jajan di luar.
Saat komputer akhirnya menyala, Hifni mulai membuka email kantor. Tumpukan pekerjaan sudah menanti. Hari ini agendanya cukup padat: meninjau proposal izin mendirikan bangunan (IMB) untuk sebuah ruko baru dan menyiapkan laporan triwulan.
Sekitar pukul 09.00 WITA, Rio, staf honorer, mendekati meja Hifni dengan wajah panik. Rio adalah tipikal anak muda milenial Barabai: kreatif, cepat belajar, tapi kadang ceroboh.
"Pak Hifni, gawat, Pak!" seru Rio, nyaris berbisik.
Hifni mengernyitkan dahi. "Gawat kenapa, Yo? Ada proyek bodong?"
"Bukan, Pak. Ini soal email," Rio menunjukkan layar ponselnya dengan tangan gemetar. "Saya salah kirim email, Pak."
"Salah kirim ke siapa? Isinya apa?" Hifni mulai ikut panik. Di kantor PNS, salah kirim email bisa menjadi bencana birokrasi.
"Saya mau kirim data revisi anggaran kegiatan ke bagian keuangan. Tapi, saya salah pencet kontak, Pak!" Rio mengusap wajahnya frustrasi.
"Terus terkirim ke mana?!" desak Hifni.
"Ke grup WA 'Arisan Bapak-Bapak Komplek Harmoni Indah', Pak!"
Hifni melongo. Grup WA itu berisi 20 kepala keluarga di komplek mereka, termasuk Pak RT yang paling kritis dan Haji Saleh pemilik warung LPG melon. Data revisi anggaran adalah dokumen internal yang sangat sensitif.
"Astaghfirullah, Rio! Cepat tarik pesannya!" perintah Hifni.
"Sudah saya tarik, Pak! Tapi... Pak RT sudah baca!" Rio menunjuk screenshot percakapan di grup WA yang menunjukkan centang biru ganda dan balasan dari Pak RT: "Info A1 nih, Pak Rio? Ada revisi anggaran apa nih, kok mendadak?"
Hifni menghela napas panjang. Ujian kesabaran paginya bukan datang dari kemacetan atau bos yang galak, tapi dari kecerobohan stafnya. Pak RT komplek mereka itu mantan pensiunan guru SD yang sangat vokal soal transparansi dana desa dan pemerintahan lokal.
"Ya Allah, Rio. Bisa heboh sekampungan ini Pak RT bahas anggaran kita," Hifni memijat pelipisnya yang mulai berdenyut. "Kamu langsung WA Pak RT, bilang itu salah kirim, datanya fiktif, atau apalah. Pokoknya jangan sampai jadi isu liar!"
Rio mengangguk cepat, langsung mengetik pesan permintaan maaf yang panjang lebar di ponselnya.
Kejadian salah kirim email itu menjadi bumbu komedi di kantor Hifni hari itu. Beberapa rekan kerja yang mendengar celetukan Pak RT di grup WA tak bisa menahan tawa. Bu Ani bahkan nyeletuk, "Wah, Rio ini mata-mata Pak RT rupanya!"
Hifni sendiri berusaha tetap fokus menyelesaikan tugasnya, meskipun pikirannya sedikit terpecah memikirkan potensi drama di komplek perumahan nanti malam. Pak RT adalah tetangganya persis di seberang rumah.
Menjelang makan siang, Hifni dipanggil oleh Kepala Dinas, Bapak Ir. H. Gazali, M.T. Hifni masuk ke ruangan besar ber-AC itu dengan jantung berdebar. Jangan-jangan masalah email Rio sudah sampai ke telinga pimpinan?
"Duduk, Hifni," ujar Pak Gazali dengan suara berat.
Hifni duduk kaku di kursi tamu.
"Saya dengar ada sedikit insiden salah kirim data anggaran internal?" tanya Pak Gazali, matanya tajam menatap Hifni.
Hifni menelan ludah. "Iya, Pak. Mohon maaf, itu kelalaian staf honorer saya, Rio. Sudah kami tangani, Pak. Datanya sudah ditarik dan diklarifikasi."
Pak Gazali menyandarkan punggungnya di kursi kulitnya. "Saya tahu, saya juga ada di grup WA itu."
Hifni hanya bisa menundukkan kepala, malu.
"Tapi," lanjut Pak Gazali, "saya panggil kamu bukan untuk memarahi soal itu. Saya panggil kamu karena laporannya bagus."
Hifni mengangkat kepalanya, bingung.
"Laporan triwulan kamu, yang kamu kumpulkan kemarin, rapi sekali. Detailnya jelas, datanya valid. Terus tingkat partisipasi kamu dalam kegiatan keagamaan di kantor juga saya pantau. Kamu jadi imam salat Zuhur rutin, kan?"
"Alhamdulillah, Pak, sekadar berbagi tugas," jawab Hifni merendah.
Pak Gazali tersenyum. "Integritas dan kinerja yang baik itu paket lengkap, Hifni. Pertahankan. Masalah Rio tadi, jadikan pelajaran. Sistem komunikasi internal kita memang harus diperbaiki."
Hifni keluar dari ruangan Kepala Dinas dengan perasaan campur aduk antara lega, malu, dan sedikit bangga. Ujian kesabarannya pagi ini berakhir dengan apresiasi tak terduga.
Sore harinya, Hifni mampir ke warung Haji Saleh untuk membeli LPG melon pesanan Rina. Seperti dugaannya, Haji Saleh menyambutnya dengan senyum penuh arti.
"Wah, Pak Hifni, dapat salam dari Pak RT!" sapa Haji Saleh sambil menyerahkan tabung gas hijau itu.
"Salam balik, Ji," Hifni tersenyum kecut.
"Pak RT tadi nelpon saya, bahas revisi anggaran katanya. Katanya dana pembangunan jalan mau dialihkan ke pengadaan karpet masjid," ujar Haji Saleh sambil tertawa. "Saya bilang, jangan percaya berita WA, Pak RT. Itu kan Pak Rio salah kirim!"
Hifni hanya bisa menggelengkan kepala. Di Barabai, berita menyebar lebih cepat daripada sinyal 4G.
Setibanya di rumah, Rina menyambutnya dengan senyum. Khalisa langsung berlari memeluk kakinya.
"Abi sudah pulang!" pekik Khalisa riang.
Hifni meletakkan tabung gas di dapur, lalu menceritakan drama email kantor dan kehebohan grup WA komplek kepada Rina. Rina mendengarkan sambil menahan tawa.
"Makanya, Abi. Teknologi itu pedang bermata dua," kata Rina bijak. "Tapi syukurlah kalau Pak Kadis malah mengapresiasi kinerja Abi."
Malam itu, setelah salat Magrib berjamaah di rumah, Hifni membuka grup WA komplek. Pak RT sudah mengirim pesan klarifikasi panjang lebar, mengatakan bahwa data yang dikirim Rio adalah data uji coba. Kehebohan mereda, digantikan stiker emoji tertawa dari bapak-bapak lainnya.
Hifni menatap Rina. Ujian kecil hari ini kembali mengingatkan mereka bahwa hidup PNS di kota kecil ini memang penuh dinamika, tapi selama iman dan kebersamaan keluarga tetap terjaga, setiap masalah pasti bisa diselesaikan dengan tawa dan doa.
