Seminggu berlalu sejak pagi konser dadakan Mila. Obrolan meja makan soal tradisi lokal kini berubah menjadi aksi nyata. Kota Banjarbaru, yang sedang giat membangun identitasnya sebagai kota agamis dan modern, bersiap menyambut bulan Rabiul Awal dengan semarak. Di Kompleks Griya Indah, persiapan acara Baayun Maulid sudah memasuki tahap akhir.
Bagi masyarakat Banjar, Baayun Maulid adalah tradisi turun-temurun yang sarat makna Islami. Ratusan ayunan dihias sedemikian rupa, diisi oleh bayi dan balita, diiringi lantunan maulid (puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW) yang khidmat. Ini adalah momen sakral sekaligus ajang silaturahmi terbesar di lingkungan Fikri.
Di rumah keluarga Salman, suasana sedikit kacau. Bukan karena persiapan ayunan, tapi karena perdebatan estetika yang serius antara Aisyah dan Zahra.
“Umi, aku sudah bilang, tema ayunannya harus ‘Glamour Syar’i’,” Zahra bersikeras, sambil menunjukkan mood board di tabletnya yang dipenuhi gambar-gambar fashion show Ria Miranda. “Ayunan Mila harus jadi yang paling stunning di antara yang lain!”
Aisyah mengernyitkan dahi. “Zahra, ini acara maulid, bukan Jakarta Fashion Week. Cukup pakai kain sasirangan yang rapi dan hiasan bunga melati. Sederhana dan bermakna.”
“Tapi Umi, kesederhanaan itu bisa di-packing dengan estetika tinggi. Kak Dian Pelangi saja bisa buat hijab yang syar’i tapi tetap artistik,” Zahra tidak mau kalah.
Di ruang tamu, Fikri dan Rizki sedang sibuk memasang tiang ayunan bambu yang sudah dicat ulang. Fikri, dengan keringat bercucuran, menyela perdebatan ibu dan anak itu.
“Sudah, sudah. Umi sama Kakak ini sama saja ributnya. Yang penting ayunannya kuat, nggak ambruk pas diayunkan.
Estetika nomor dua. Nomor satu keselamatan,” kata Fikri sambil mengelap dahinya.
“Betul, Yah,” timpal Rizki serius. “Dalam ilmu kedokteran, faktor keselamatan adalah prioritas utama. Kita harus pastikan simpul talinya kuat, setara kuatnya chemistry Reza Rahadian dan Christine Hakim di film Perempuan Tanah Jahanam.”
Fikri dan Aisyah saling pandang. Anak sulung mereka memang unik, selalu bisa memasukkan referensi film horor ke dalam presentasi medis.
Sementara itu, Fahmi dan Mila sedang berlatih di halaman belakang. Mila duduk di sebuah kursi plastik yang diikat ke dahan pohon, dan Fahmi mengayunnya pelan sambil melantunkan shalawat dengan irama nasyid yang cepat.
“Shollu ‘ala nurilladzi… Ayun terus, Mi! Gaya kita harus keren kayak videonya Bang Atta Halilintar di YouTube!” seru Fahmi.
Mila tertawa riang, rambutnya yang dikepang dua terayun-ayun. “Aku artisnya, Fahmi! Aku artis Maulid!”
Hari H Baayun Maulid tiba. Kompleks Griya Indah berubah menjadi lautan warna. Ratusan ayunan berjejer rapi di sepanjang jalan utama, dihias dengan pernak-pernik pita, bunga kertas, dan kain sasirangan. Aroma melati dan dupa khas Banjar memenuhi udara. Warga berkumpul, berpakaian rapi ala Melayu dan Islami.
Keluarga Salman membawa ayunan mereka yang sudah tuntas dihias. Hasil kompromi: kain sasirangan motif klasik dengan sedikit sentuhan pita emas ‘ala Zahra. Mila, sebagai 'artis' yang akan diayun, sudah mengenakan baju gamis putih bersih dan kerudung instan yang lucu.
Fikri dan Aisyah menyapa tetangga kanan-kiri. Suasana kehidupan bermasyarakat di Banjarbaru begitu hangat. Ibu-ibu majelis taklim Aisyah sibuk mengatur konsumsi, sementara bapak-bapak, termasuk Fikri, sibuk mempersiapkan sound system untuk lantunan maulid.
“Pak Fikri, sound system-nya sudah dites? Nanti suaranya harus jelas, biar khidmat Maulid kita,” ujar Pak RT.
“Beres, Pak RT! Sound kita hari ini jernih banget, setara kualitas rekaman album Badai Pasti Berlalu-nya Chrisye yang legendaris itu!” jawab Fikri penuh semangat.
Acara dimulai. Lantunan syair maulid mulai berkumandang, merdu dan menyentuh hati. Satu per satu, bayi dan balita diayunkan, didoakan agar menjadi anak yang saleh dan salehah. Momen ini selalu membuat Aisyah terharu.
Saat giliran Mila, Fahmi mengambil peran penting. Dia berdiri di samping ayunan adiknya, mengayun pelan sesuai irama maulid, sambil sesekali melirik kamera ponsel Fikri yang merekam. Dia yakin, video ini berpotensi viral di media sosial.
Di sisi lain, Zahra sibuk memotret ayunan Mila dari berbagai sudut. “Lighting-nya pas banget! Estetik syar’i dapet!” gumamnya puas.
Rizki hanya tersenyum tipis melihat kelakuan adik-adiknya. Dia berdiri di samping ayahnya, menikmati momen kebersamaan Islami ini.
Di tengah kekhidmatan acara Baayun Maulid, terdengar sayup-sayup Fikri ikut melantunkan shalawat. Pak RT di sebelahnya menatap takjub.
“Wah, suara Pak Fikri bagus juga, merdu!” puji Pak RT.
Fikri tersipu malu. “Ah, biasa aja, Pak. Saya cuma coba menjiwai lagunya seperti Ebiet G. Ade kalau lagi manggung di alam terbuka.”
Tawa ringan pun terdengar di antara bapak-bapak.
Acara Baayun Maulid keluarga Salman berjalan sukses besar. Ayunan Mila menjadi salah satu yang paling banyak difoto, dan Fahmi berhasil mendapatkan beberapa angle video yang bagus untuk kontennya. Lebih dari sekadar ajang unjuk estetika atau popularitas selebriti, hari itu menguatkan ikatan mereka pada tradisi Islami Banjarbaru dan pada satu sama lain. Kehidupan bermasyarakat mereka semakin erat, dibumbui kebahagiaan dan tawa khas keluarga Salman.
