Kolak Pisang Istimewa: Kisah Fajar dan Fatimah Belajar Berbagi dengan Nenek Salmah
Malam ini, di teras rumah Nenek Salmah yang sederhana, tercium aroma harum kolak pisang. Nenek Salmah sedang membuat kolak kesukaannya. Fajar dan Fatimah yang sedang berjalan pulang dari masjid usai salat Tarawih, mencium aroma itu dan menoleh.
“Wah, bau kolak pisang,” bisik Fajar. “Nenek Salmah masak kolak.”
Mereka berdua menghampiri Nenek Salmah. "Assalamu'alaikum, Nenek," sapa Fatimah.
"Wa'alaikumussalam," balas Nenek Salmah dengan senyum. "Sedang apa kalian di sini, Nak? Ini Nenek sedang membuat kolak pisang untuk berbuka besok. Kalian mau?"
Fajar dan Fatimah mengangguk senang. Kolak pisang buatan Nenek Salmah memang terkenal lezat seantero kampung.
"Ini ada dua mangkuk untuk kalian," kata Nenek Salmah sambil menyerahkan kolak pisang yang masih hangat.
Fajar dan Fatimah mengucapkan terima kasih. Saat mereka hendak berpamitan, Fajar melihat ada yang aneh. Nenek Salmah membuat kolak pisang yang sangat banyak, bahkan sampai tiga panci besar.
“Nenek, kenapa buat kolak sebanyak ini?” tanya Fajar heran.
Nenek Salmah tersenyum. “Nenek mau bagi-bagi ke anak-anak di kampung ini. Mereka sudah baik sekali sama Nenek.”
Fajar dan Fatimah saling berpandangan. Mereka teringat kebaikan Nenek Salmah. Nenek selalu mendoakan mereka setiap kali mereka membagikan takjil. Nenek Salmah selalu mendoakan kebaikan bagi semua orang.
Tiba-tiba, Fajar merasa tidak enak. “Nenek, biar kami bantu bagikan kolaknya,” tawar Fajar.
Nenek Salmah menggeleng. “Tidak usah, Nak. Kalian sudah bantu Nenek banyak sekali. Ini biar Nenek sendiri yang bagikan.”
Fajar dan Fatimah tidak menyerah. "Kami saja, Nek," kata Fatimah. "Nenek sudah tua, biar kami yang membagikan."
Akhirnya, Nenek Salmah mengalah. Fajar dan Fatimah membawa dua panci kolak pisang dan berkeliling kampung. Mereka membagikan kolak itu ke rumah Rizal, Budi, dan teman-teman lainnya. Setiap orang yang menerima kolak dari mereka merasa senang.
"Kolak Nenek Salmah memang paling enak," kata Rizal.
"Nenek Salmah baik sekali," timpal Budi.
Saat mereka kembali, Nenek Salmah sudah menunggu di teras rumah. "Sudah habis, Nak?" tanya Nenek Salmah.
"Sudah, Nek," jawab Fajar. "Semua orang suka kolak Nenek."
Nenek Salmah tersenyum bahagia. "Terima kasih, Nak. Kalian memang anak-anak yang baik."
Malam itu, Fajar dan Fatimah tidur dengan hati yang tenang. Mereka belajar dari Nenek Salmah, bahwa kebaikan itu tidak mengenal usia. Berbagi dengan tulus, tanpa mengharapkan balasan, akan selalu memberikan kebahagiaan. Kolak pisang istimewa buatan Nenek Salmah bukan hanya lezat di lidah, tapi juga menenangkan di hati.
