Setelah kembali dari Pulau Kembang, mobil sewaan Faris yang berisi empat jiwa penuh semangat itu melaju ke arah Selatan, meninggalkan hiruk pikuk Kota Banjarmasin menuju Kabupaten Tanah Laut. Tujuan mereka, pantai pertama dari 25 daftar: Pantai Takisung.
Perjalanan darat memakan waktu sekitar dua jam lebih. Pemandangan di kanan-kiri berubah drastis dari rawa dan permukiman padat menjadi hamparan sawah hijau dan perbukitan. Zahra yang biasanya cerewet, kali ini tertidur pulas di jok belakang, menyisakan Aisyah, Faris, dan Lev yang asyik dengan obrolan ringan seputar persiapan logistik yang sudah matang berkat Aisyah.
"Alhamdulillah, lancar jaya kita. Aisyah memang top markotop kalau urusan planning," puji Faris sambil fokus menyetir.
Aisyah tersenyum malu-malu di kursi penumpang. "Sudah kewajiban kita merencanakan sesuatu dengan matang, kan, Ris? Ikhtiar maksimal, hasilnya kita serahkan sama Allah."
Akhirnya, papan penunjuk arah bertuliskan 'Objek Wisata Pantai Takisung' menyambut mereka. Suasana pantai yang ramai namun tetap asri langsung terasa. Jajaran pohon kelapa melambai ramah, berpadu dengan deburan ombak yang tenang, seolah menyambut kedatangan para musafir pencari hikmah.
Mereka memarkir mobil dan langsung menuju bibir pantai. Zahra yang sudah bangun langsung heboh lagi. "Wah, pasirnya cokelat keemasan! Keren banget! View-nya lumayan oke nih buat konten endorse jilbab!"
Lev hanya tersenyum melihat tingkah sahabatnya. Dia melangkahkan kakinya ke pasir, merasakan air laut yang dingin menyentuh kulitnya. Ada ketenangan instan yang menjalar dalam hatinya. Pantai ini, dengan kesederhanaannya, terasa lebih hidup daripada kafe modern di Banjarmasin yang sering ia kunjungi.
Saat waktu Ashar tiba, Aisyah segera mengingatkan. "Sudah masuk waktu salat, guys. Kita salat dulu, ya."
Mereka mencari tempat yang sedikit sepi di bawah naungan pohon kelapa. Aisyah menggelar sajadah kecil yang selalu ia bawa, sementara Faris mengumandangkan azan dengan suara merdu. Suasana pantai yang ramai dengan tawa wisatawan lain sejenak terhenti oleh syahdu suara azan. Beberapa pengunjung lain bahkan ikut melirik, terinspirasi.
Lev memimpin salat Ashar berjamaah. Di tengah rukuk dan sujud, sebuah perasaan haru melingkupi hatinya. Dia merasa kecil di hadapan samudra luas ciptaan Allah. Setelah salam, mereka duduk sejenak.
"Betapa banyak nikmat Allah yang sering kita lupakan," ujar Lev, matanya menerawang ke lautan lepas yang berkilauan diterpa sinar matahari sore. "Kita sibuk mengejar duniawi sampai lupa bersyukur atas alam seindah ini, atas kesehatan kita, atas persahabatan kita."
Zahra yang biasanya cerewet pun terdiam. Untuk sesaat, energi cerianya tergantikan oleh kekhusyukan. Ia mengangguk pelan. "Iya, Lev. Di sini rasanya semua masalah di kota jadi nggak penting. Cuma ada kita, pantai, dan rasa syukur."
Faris menambahkan, "Itulah fungsi tadabbur alam, Bro. Melihat ciptaan Allah bikin iman kita naik lagi. Fabiayyi ala irobbikuma tukadziban, maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
Mereka menghabiskan sore di Pantai Takisung dengan refleksi mendalam, diselingi sedikit komedi saat Faris mencoba mengambil foto jump shot tapi malah jatuh tersungkur di pasir. Aisyah dengan telaten membersihkan pasir di baju Faris, sementara Zahra merekam kejadian itu untuk bahan blooper vlognya.
Pantai Takisung mengajarkan mereka makna syukur yang hakiki. Mereka belajar bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada gemerlap kota atau pencapaian materi, melainkan pada ketenangan hati dan kemampuan untuk mengapresiasi setiap anugerah dari Sang Pencipta. Saat sunset mulai menghilang di ufuk barat, mereka meninggalkan Takisung dengan hati yang lebih ringan, siap menyambut pantai kedua: Pantai Batakan.
