Sementara Imran bergulat dengan dilema nutrisi ala The Rock, Zahra, si sulung, menghadapi krisis eksistensialnya sendiri di kampus kedokteran ternama di Paris.
Sebagai mahasiswa kedokteran tahun ketiga yang cerdas, Zahra disanjung karena otaknya yang tajam. Namun, di balik jas laboratorium putihnya, tersembunyi hasrat besar terhadap dunia mode haute couture. Dia mengagumi desainer top dunia dan cara para selebriti berjalan di karpet merah Met Gala atau Festival Film Cannes. Masalahnya: gaya busana selebriti sering kali bertentangan langsung dengan prinsip modest fashion yang ia yakini dan praktikkan.
Minggu depan, fakultas kedokteran akan mengadakan acara gala tahunan untuk penggalangan dana amal. Ini adalah acara sosial terbesar tahun ini, dihadiri oleh profesor terkemuka, donatur kaya, dan—rumornya—beberapa figur publik dan selebriti lokal Paris.
Zahra ditunjuk sebagai salah satu panitia penyambutan tamu, yang berarti dia harus tampil menonjol dan elegan.
"Aku harus menemukan gaun," ratapnya pada sore itu, berbicara melalui video call dengan ibunya, Aisha, yang sedang sibuk menata manekin di butiknya.
"Gaun seperti apa, Nak?" tanya Aisha, sabar.
"Gaun yang... sempurna," jawab Zahra dramatis. "Gaun yang bilang, 'Halo, saya Zahra, calon dokter cerdas, dan saya juga bisa terlihat se-chic Gigi Hadid di acara karpet merah, tapi tetap menutup aurat dengan sempurna.'"
Aisha tersenyum. "Kamu mau gaun haute couture yang syar'i. Tantangan yang menarik."
Zahra sudah menjelajahi lusinan toko di area perbelanjaan kelas atas Paris. Semuanya mengecewakan. Gaun malamnya terlalu terbuka, terlalu ketat, atau terlalu transparan. Dia menemukan satu gaun indah dari desainer terkenal, tapi belahan pahanya mencapai pinggang dan punggungnya terbuka lebar.
"Mereka tidak paham konsep elegan tanpa ekspos," keluhnya pada Tariq malam itu di ruang keluarga, sementara Tariq sibuk menonton pertandingan ulang sepak bola.
"Mungkin kamu bisa pakai jas lab putihmu saja, Zah. Dijamin modest," usul Tariq santai, tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
Zahra melempar bantal sofa padanya. "Ini acara gala, Tariq! Ada martabatnya!"
Keesokan harinya, Zahra memutuskan untuk mendatangi ibunya di butik. Aisha adalah ahlinya. Butik "La Modestie Parisienne" adalah surga bagi wanita Muslim modern di Paris yang ingin tampil stylish namun tetap sesuai kaidah agama.
"Aku butuh keajaiban, Ibu," kata Zahra, matanya sayu.
Aisha tersenyum misterius. "Keajaiban butuh usaha. Kamu mau gaun selebriti? Kita buat gaun selebriti."
Aisha mengeluarkan beberapa sketsa dan kain satin duchess berwarna navy blue yang mewah. Mereka mulai berkolaborasi. Aisha sebagai penjahit ulung dan Zahra sebagai direktur kreatif yang terinspirasi dari gaya selebriti favoritnya.
Selama beberapa hari berikutnya, apartemen Al-Fikri berubah menjadi studio mode dadakan. Mesin jahit berbunyi hingga larut malam. Imran mencoba membantu dengan memegang meteran, tapi malah membuat Aisha pusing. Tariq diminta menyetrika kain, tapi dia lebih sering melirik skor pertandingan di ponselnya.
Puncak komedi terjadi dua hari sebelum acara gala. Gaun itu sudah 90% jadi, tapi Zahra merasa ada yang kurang. Kurang "glamour karpet merah".
"Harus ada payetnya, Bu! Di bagian manset dan kerah tinggi. Sedikit kilau!"
Malam itu juga, Imran, Aisha, dan Zahra duduk di ruang tamu dengan ribuan payet kecil berwarna perak. Mereka menempelkannya satu per satu dengan lem kain khusus.
Imran, yang awalnya mengeluh karena harus meninggalkan podcast The Rock, akhirnya ikut serius.
"The Rock pasti akan menyukai etos kerja kita," gumamnya sambil dengan hati-hati menempelkan payet. "Fokus, presisi, dan hasil akhir yang luar biasa."
"Ini bukan proyek arsitektur, Ayah," kata Zahra sambil tertawa.
"Sama saja! Membangun gaun yang sempurna sama mulianya dengan membangun gedung pencakar langit!"
Malam acara gala tiba. Di apartemen, ketegangan terasa. Zahra berdiri di depan cermin besar, mengenakan gaun navy blue rancangan ibu dan ayahnya.
Gaun itu memiliki potongan A-line klasik, elegan, dengan kerah tinggi yang dihiasi payet perak halus, manset berkilau, dan aksen cape yang menjuntai anggun di punggungnya. Gaun itu menutupi auratnya dengan sempurna, modest, tapi juga memancarkan aura haute couture yang Zahra dambakan.
Ketika Zahra turun ke ruang tamu, Imran, Aisha, Tariq, Layla, dan Omar menatapnya dengan mulut terbuka.
"Masya Allah," bisik Imran, matanya berkaca-kaca. "Kamu... kamu terlihat seperti seorang ratu, Nak."
Aisha tersenyum bangga. "Gaun itu menemukan pemiliknya."
Tariq, yang biasanya cuek, menyiulkan suitan pelan. "Oke, Zah. Level up. Lebih keren dari Messi di final Liga Champions."
Zahra tersenyum lebar. Dia merasa percaya diri, cantik, dan yang terpenting, menjadi dirinya sendiri. Dia tidak perlu meniru gaya selebriti secara membabi buta. Dia bisa menciptakan gayanya sendiri yang memadukan keimanan dan estetika.
Saat Imran mengantar Zahra ke tempat acara, dia teringat akan ucapan Aisha tentang keseimbangan. Malam ini, putrinya telah menemukan keseimbangan itu dalam sehelai gaun. Di Paris yang gemerlap, Zahra Al-Fikri siap bersinar, tidak hanya sebagai calon dokter yang cerdas, tetapi juga sebagai ikon modest fashion buatannya sendiri.
