Tiga tahun telah berlalu sejak Sultan Suriansyah mengukuhkan kekuasaannya. Kesultanan Banjar berkembang pesat di bawah kepemimpinannya yang bijaksana. Perdagangan di sungai dan laut makmur, mendatangkan kekayaan yang melimpah. Masjid agung di Daha telah berdiri megah, menjadi pusat kegiatan agama dan sosial. Rakyat hidup dalam kedamaian dan kesejahteraan, sebuah kondisi yang nyaris tidak pernah mereka rasakan di bawah kekuasaan Tumenggung.
Namun, kedamaian itu tidak bertahan lama. Kerajaan Kutai, yang cemburu dengan kemajuan Banjar, mengirimkan pasukan besar yang dipimpin oleh seorang panglima yang terkenal kejam bernama Panglima Patih. Pasukan Kutai datang dengan membawa kapal-kapal perang besar dan prajurit yang terlatih.
Sultan Suriansyah, yang telah mendapatkan kabar tentang serangan itu, tidak panik. Ia telah bersiap sejak lama. Ia mengumpulkan para panglimanya, Bagus, Sangkuriang, dan panglima dari Demak. "Panglima Patih adalah musuh yang tangguh," kata Sultan Suriansyah. "Dia adalah ahli strategi perang laut. Kita harus lebih cerdas dari dia."
Bagus, dengan pengalaman gerilyanya, mengusulkan taktik perang hutan. "Kita akan memancing mereka ke dalam hutan, Pangeran," katanya. "Di sana, mereka tidak akan bisa menggunakan kapal-kapal perang mereka. Kita akan mengalahkan mereka dengan taktik gerilya."
Sangkuriang, dengan mata yang liar, tersenyum. "Kita akan berikan mereka kejutan di sungai, Pangeran," katanya. "Mereka mungkin memiliki kapal-kapal besar, tetapi kita memiliki kelincahan dan pengetahuan tentang sungai ini."
Panglima dari Demak, dengan wajah yang tenang, menambahkan, "Kita akan menggunakan strategi gabungan, Sultan. Kita akan menyerang mereka di laut, di sungai, dan di hutan. Kita akan membuat mereka kewalahan."
Sultan Suriansyah mengangguk. Ia percaya pada panglimanya. Mereka adalah kekuatan utama Banjar. Ia pun mengumumkan mobilisasi pasukan, dan seluruh rakyat Banjar bersiap untuk perang. Para pemuda mengangkat senjata, para wanita menyiapkan makanan, dan para ulama memimpin doa.
Pertempuran pun dimulai. Pasukan Kutai, yang datang dengan penuh percaya diri, menyerbu Banjar. Mereka menyerang dari laut dan darat, tetapi mereka tidak menyangka akan mendapatkan perlawanan yang begitu sengit. Pasukan Sangkuriang menyerang kapal-kapal perang Kutai di sungai, menggunakan taktik gerilya air yang mematikan. Mereka menggunakan kapal-kapal kecil yang lincah untuk mengepung kapal-kapal besar Kutai, dan menggunakan panah beracun untuk menembak prajurit Kutai.
Sementara itu, pasukan Bagus menyerang dari hutan, membuat kekacauan di barisan Kutai. Mereka menggunakan taktik perang hutan mereka yang mematikan, menyerang dari balik pepohonan, dan menghilang sebelum musuh sempat bereaksi.
Panglima dari Demak, dengan strategi yang cemerlang, mengepung pasukan Kutai dari segala arah. Mereka menggunakan senjata-senjata canggih dan taktik-taktik modern untuk mengalahkan pasukan Kutai.
Panglima Patih, yang terkejut dengan perlawanan yang sengit, mencoba untuk mengubah taktiknya. Ia memfokuskan serangannya ke Daha, ibu kota Banjar. Ia berharap bisa menguasai Daha dan memaksa Sultan Suriansyah untuk menyerah.
Namun, Sultan Suriansyah sudah siap. Ia telah memperkuat pertahanan Daha, dan ia menunggu Panglima Patih. Pertempuran sengit terjadi di depan gerbang Daha. Panglima Patih, yang terkenal kejam, bertarung dengan ganas. Sultan Suriansyah, dengan pedang di tangannya, menghadapinya secara langsung.
Pertarungan antara Sultan Suriansyah dan Panglima Patih berlangsung sengit. Mereka berdua adalah ahli pedang, tetapi mereka bertarung dengan gaya yang berbeda. Sultan Suriansyah bertarung dengan semangat, dengan keinginan untuk melindungi rakyatnya. Panglima Patih bertarung dengan ambisi, dengan keinginan untuk menguasai Banjar.
Akhirnya, Sultan Suriansyah berhasil mengalahkan Panglima Patih. Kematian Panglima Patih mematahkan semangat pasukan Kutai, dan mereka mundur, meninggalkan medan pertempuran dalam kekalahan.
Bab ini berakhir dengan kemenangan Sultan Suriansyah. Banjar telah terbebas dari ancaman Kutai, dan Sultan Suriansyah telah membuktikan dirinya sebagai seorang pemimpin yang hebat. Namun, ia tahu, tantangan belum berakhir. Akan ada ancaman-ancaman lain yang datang, dan ia harus selalu siap untuk menghadapinya
