Matahari baru saja mulai condong ke barat, memantulkan cahaya keemasan di permukaan Sungai Martapura yang membelah Kota Banjarmasin. Di sebuah rumah bergaya modern minimalis dengan sentuhan ukiran khas Banjar di Jalan Pierre Tendean, suasana seharusnya tenang. Namun, bagi Lev ℛyley, ketenangan adalah kemewahan yang sudah punah sejak istrinya, Anindya Putri, mendapatkan lencana Top Creator untuk kategori perlengkapan rumah tangga di aplikasi belanja oranye.
"Paket untuk Ibu Anindya Putri!"
Suara teriakan kurir dari depan pagar rumah terdengar untuk kedelapan kalinya hari itu. Lev yang sedang fokus memperbaiki bug pada sistem keamanan kliennya, hampir saja menjatuhkan kopi susunya.
"Lagi?" gumam Lev sambil mengusap wajahnya yang lelah. "Ini bahkan belum masuk tanggal satu Ramadhan, tapi tumpukan kardus di depan sudah setinggi menara pandang."
Lev melangkah keluar, melewati ruang tamu yang sudah menyerupai gudang logistik. Di sana, Anindya sedang sibuk dengan ring light dan ponselnya, melakukan siaran langsung di depan kamera.
"Nah, Pian lihat sendiri ya, Bunda-Bunda cantik di Banjarmasin... Mukena sutra ini motifnya sasirangan modern. Cocok banget buat tarawih pertama nanti supaya semangat ibadahnya. Bahannya dingin, sedingin es kelapa di Siring!" ujar Anindya dengan suara ceria yang dibuat-buat namun sangat persuasif.
"Bu, itu kurir kasihan kepanasan di depan," sela Lev sambil menunjuk ke arah pagar.
Anindya menoleh sebentar, memberikan senyum manis yang membuat Lev tidak bisa marah, lalu kembali ke layar. "Aisyah! Tolong ambilkan paketnya, Nak! Kasih tips buat abangnya di atas meja ya!"
Aisyah Humaira, mahasiswi PGSD ULM yang sedang menyusun draf program kerja organisasinya, muncul dari dapur dengan tenang. Sebagai anak pertama, ia adalah benteng pertahanan terakhir kewarasan keluarga ini. Ia mengambil beberapa lembar uang sepuluh ribuan dan melangkah keluar dengan anggun.
"Terima kasih, Bang. Hati-hati di jalan, ini hari panas sekali," ucap Aisyah sopan kepada kurir yang tampak bermandi peluh.
"Sama-sama, Mbak. Ini keluarga Bapak Lev memang juara kalau urusan frekuensi paket," canda sang kurir sebelum menarik gas motornya.
Aisyah membawa masuk kardus berukuran sedang itu. "Mama, ini apa lagi? Kemarin rak piring, tadi pagi kurma ajwa tiga kilo, sekarang apa?"
"Itu hiasan dinding aesthetic bertuliskan 'Ramadhan Kareem' dan satu set toples kaca, Kak," jawab Anindya tanpa rasa bersalah. "Kita harus menciptakan vibes yang positif di rumah supaya Rayyan semangat puasanya."
Di pojok ruangan, Muezza, kucing oranye gemuk kesayangan mereka, sedang asyik mencakar-cakar salah satu kardus kosong. Bagi Muezza, kedatangan paket adalah hari raya setiap hari—lebih banyak kardus berarti lebih banyak tempat tidur baru.
"Lihat, Muezza saja setuju sama Mama," tunjuk Anindya pada kucingnya.
Tak lama, Maryam Safiya turun dari lantai dua dengan earphone melingkar di lehernya. Ia membawa sebuah buku sketsa. "Ma, kalau ada paket lagi, tolong lihatkan apakah ada kiriman dari toko buku antik Jakarta. Maryam pesan replika naskah kuno untuk referensi tugas seni."
"Belanja lagi?" Lev akhirnya bersuara, sambil duduk di antara tumpukan barang. "Keluarga kita ini seperti sedang mempersiapkan diri untuk karantina mandiri satu tahun, padahal cuma buat satu bulan puasa."
Ghina Qalbi, si anak ketiga yang lincah, tiba-tiba muncul dengan kamera ponsel di tangan, merekam ayahnya yang terlihat kewalahan. "Wah, lihat teman-teman! Ini adalah wajah 'Ayah Modern' kita saat melihat tagihan kartu kredit akibat persiapan Ramadhan. Jangan lupa like, comment, dan subscribe ya!"
"Ghina! Jangan dimasukkan ke TikTok!" seru Lev, namun Ghina sudah berlari menjauh sambil tertawa.
Tiba-tiba, si bungsu Rayyan Zuhayr berlari memeluk kaki ayahnya. Di tangannya ada sebuah buku cerita bergambar tentang petualangan di Padang Arafah. "Abah, Rayyan sudah siap puasa! Tapi kata Mama, kalau Rayyan tamat puasanya, nanti boleh beli mainan Lego masjid yang ada di paket warna cokelat besar itu, ya?"
Lev menghela napas panjang, lalu tersenyum tipis. Ia menatap istri dan keempat anaknya yang masing-masing punya cara unik menyambut bulan suci. Meskipun rumahnya kini lebih mirip pusat distribusi barang daripada hunian, ada kehangatan yang tidak bisa dibeli dengan saldo e-wallet manapun.
"Ya sudah," kata Lev sambil berdiri dan menggendong Rayyan. "Tapi ingat ya, tujuan utama kita bulan ini adalah mencari berkah, bukan mencari diskon flash sale. Besok kita mulai tarawih. Abah tidak mau ada yang terlambat karena alasan masih asyik unboxing paket."
Anindya tertawa kecil, mematikan siaran langsungnya, lalu menghampiri suaminya. "Siap, Bapak IT. Tapi besok sore ada paket besar lagi datang, isinya bahan baju lebaran untuk kita berenam... plus baju kecil buat Muezza."
Lev hanya bisa menepuk dahi, sementara Muezza mengeong keras seolah ikut merayakan rencana itu. Di luar, adzan Maghrib berkumandang dari Masjid Raya Sabilal Muhtadin, menandakan bahwa bulan penuh ampunan tinggal hitungan jam lagi akan menyapa Kota Seribu Sungai.
Ramadhan tahun ini di Banjarmasin dipastikan akan menjadi sangat ramai, sangat sibuk, dan tentu saja... penuh dengan paket.
