Setelah keluar dari kantor administrasi, trio itu berjalan dalam diam menuju area parkir kampus. Matahari sudah tinggi, udara Banjarmasin terasa panas dan lembap. Suasana hati mereka juga sama panasnya.
"Organisasi Genesis?" Vania memecah keheningan, suaranya terdengar kesal. "Kedengarannya kayak nama villain di film kartun. Mereka pikir mereka siapa?"
"Mereka nyata, Van," Anatasya mengingatkan dengan serius. "Prof. Rahmat sepertinya tahu banyak hal yang tidak kita ketahui. Ancaman ini serius."
Lev mengayuh sepedanya pelan di samping mereka berdua yang berjalan kaki. "Tapi 'Konser Alam Liar' itu ide bagus, lho. Kita bisa latihan mengendalikan summon kita. Lagipula, kita kan nggak mau kejadian bekantan stres terulang lagi."
Vania mendengus. "Ya, ya, tugas kuliah rasa petualangan. Fine. Tapi kita butuh strategi. Bekas itu Rank D, Vania oyen (kucing oren) Rank E, pipitnya Lev juga E. Kita cupu, Lev!"
"Cupu-cupu gini kita berhasil nenangin Bekas pake pisang goreng!" bela Lev.
"Intinya kita butuh upgrade," kata Vania mantap. "Gue butuh summon yang lebih kuat. Yang bisa diajak sparring beneran."
Anatasya mengeluarkan buku catatannya. "Menurut data biologis di Kalimantan Selatan, kita punya banyak pilihan fauna. Ada landak, biawak, ular, sampai buaya muara di daerah rawa-rawa tertentu."
Vania bergidik. "Buaya? Big no! Gue mau yang bisa diajak lari kencang atau bertarung di darat."
"Biawak? Biawak itu Rank C, lumayan kuat," usul Anatasya.
"Boleh juga tuh," Vania mulai membayangkan dirinya berlatih bela diri dengan biawak raksasa.
"Tapi sebelum kita cari biawak, kita harus siapkan 'Konser Alam Liar' kita," Lev mengingatkan. "Profesor bilang di taman nasional terdekat. Taman Nasional Loksado?"
"Loksado kejauhan, itu di Hulu Sungai Selatan," koreksi Anatasya. "Mungkin Taman Hutan Raya Sultan Adam di Mandiangin? Lebih dekat dari Banjarmasin, areanya luas, dan faunanya beragam."
"Deal! Mandiangin!" Vania setuju. "Besok pagi kita ke sana. Hari ini kita riset. Lev, lo riset cara kerja kamera lo. Tasya, lo riset fauna di Mandiangin. Gue... gue mau latihan sama Oyen."
"Latihan apa?" tanya Lev.
"Latihan tempur, dong!" Vania menyeringai. "Oyen punya Skill: Cakaran Lincah. Gue mau lihat sejauh mana kelincahan itu bisa ditingkatkan pakai gelang gue."
Mereka berpisah di gerbang kampus ULM. Lev kembali ke rumah panggungnya untuk mempelajari kamera tua kakeknya, Anatasya pergi ke perpustakaan untuk mendalami ekosistem Mandiangin, dan Vania... Vania langsung menuju lapangan terbuka di belakang asrama.
Di lapangan itu, Vania mengeluarkan kartu kucing orennya. Oyen muncul dengan ekspresi malas khas kucing.
"Oyen, kita latihan!" seru Vania.
Oyen mengeong pelan, lalu menjilati cakarnya, seolah menolak.
Vania mendengus. "Jangan malas! Kita mau ngalahin organisasi jahat, Oy!" Ia mengaktifkan gelangnya. Batu akik merahnya bersinar redup. "Fokus! Cakaran Lincah!"
Vania melempar bola tenis ke udara. Oyen menatap bola itu dengan mata malas. Tapi begitu Vania menyalurkan energi melalui gelang, mata Oyen langsung berubah fokus. Ia melesat secepat kilat, mencakar bola tenis itu hingga terkoyak di udara, lalu kembali mendarat dengan anggun. Kecepatannya jauh melampaui kucing biasa.
"Wow!" Vania terkesima. "Gelang ini keren juga! Oke, Oyen, lagi!"
Mereka berlatih hingga matahari terbenam. Vania menyadari bahwa artefaknya tidak hanya mensummon, tetapi juga memperkuat kemampuan alami sang hewan. Ini adalah kunci.
Di rumahnya, Lev juga menemukan sesuatu. Kamera kakeknya memiliki slot film yang tidak biasa. Ketika dia memasukkan kartu Bekas ke dalam slot itu, ada tulisan kecil muncul di badan kamera: "Status Sinkronisasi Stabil: 80%."
"Jadi kamera ini juga jadi semacam 'rumah' buat summon," gumam Lev. "Kakek memang jenius."
Sementara itu, di perpustakaan, Anatasya menemukan fakta menarik tentang Tahura Sultan Adam. Area itu dulunya adalah habitat asli Harimau Kalimantan yang kini sudah punah. Liontin peraknya bergetar hebat saat ia membaca artikel itu.
Mereka bertiga, di tempat berbeda, telah menemukan petunjuk penting tentang kekuatan mereka masing-masing. Misi Konser Alam Liar bukan lagi sekadar hukuman, melainkan persiapan tempur pertama mereka. Besok di Mandiangin, mereka akan menguji batas kemampuan mereka, tidak menyadari bahwa mata dari Organisasi Genesis sudah mengawasi setiap pergerakan mereka sejak di Siring.
