Pagi di Manchester datang dengan udara yang lebih cerah dari kemarin, meskipun suhu tetap sejuk. Setelah salat Subuh berjamaah di penginapan, keluarga Ryley siap untuk petualangan besar pertama mereka di kota ini. Destinasi utama yang paling ditunggu-tunggu oleh dua pria di keluarga itu: Stadion Old Trafford, markas besar klub sepak bola legendaris Manchester United.
"Siap-siap ya, Yah! Rayyan sudah pakai baju merah nih!" seru Rayyan, si bungsu berusia 6 tahun, yang sudah mengenakan kaus merah MU KW super dari Banjarmasin.
Lev tak kalah antusias. Ia mengenakan syal MU yang sudah ia simpan sejak lama. "Hari ini kita ziarah ke 'Teater Impian', Nak! Tempat suci bagi pecinta bola!" serunya, melebih-lebihkan.
Anindya, Aisyah, Maryam, dan Ghina hanya bisa geleng-geleng kepala melihat antusiasme ayah dan anak itu. Anindya, dengan outfit hari itu yang sudah dikoordinasikan warnanya (merah dan hitam, pas dengan tema MU), sibuk mengecek baterai ponselnya.
"Ibu harus live Instagram dari sana! Biar followers tahu Ibu sudah sampai di tempat viral!"
Mereka naik trem (Manchester Metrolink) menuju stasiun Old Trafford. Perjalanan yang lancar dan nyaman. Begitu turun dari trem, kemegahan stadion Old Trafford langsung terlihat.
"Allahu Akbar! Besar sekali, Yah!" mata Rayyan membulat sempurna. Ia sampai terpaku di tempatnya.
Lev tersenyum bangga. "Inilah, Nak, 'Teater Impian' itu."
Anindya langsung mengambil posisi, mengarahkan ponselnya ke arah stadion dan memulai live Instagram-nya. "Halo followers kesayangan Ibu! Alhamdulillah, kami sudah sampai di stadion legendaris Old Trafford di Manchester! Masya Allah, keren banget kan? Jangan lupa like, komen, dan share ya!"
Aisyah dan Maryam sibuk mengambil foto dengan kamera ponsel mereka. Ghina, si lincah, sudah berlari-lari kecil di plaza depan stadion, mencari sudut terbaik untuk berpose melompat.
Mereka memutuskan untuk mengambil paket stadion tur. Di dalam stadion, suasana makin sakral bagi Lev dan Rayyan. Mereka berjalan di pinggir lapangan, duduk di bangku pemain, dan mengunjungi ruang ganti. Lev menceritakan sejarah klub, dari era Sir Matt Busby hingga kini, penuh dengan semangat.
"Dulu, Ayah cuma bisa nonton dari TV tabung di Banjarmasin. Sekarang bisa injak rumputnya langsung," bisiknya haru kepada Anindya.
Maryam diam-diam mengeluarkan sketchbook-nya dan mulai menggambar suasana ruang ganti pemain yang penuh dengan jersey merah ikonik. Maryam memang lebih suka mengamati detail daripada sekadar berfoto.
Setelah tur selesai, misi utama Anindya dimulai: Misi Belanja Merchandise di Megastore MU, atau yang biasa disebut The Theatre of Dreams Store.
"Oke Yah, Ibu sudah janji ngirit di Swiss, jadi di sini kita agak borong dikit ya!" Anindya sudah siap dengan tas belanja lipatnya.
Lev, yang tadinya high karena stadion, mendadak low. "Borong dikit apanya, Bu? Harga jersey di sini kan lumayan."
Drama tawar-menawar (yang sebenarnya tidak bisa tawar-menawar di toko resmi) pun dimulai. Anindya menemukan jersey baru yang lucu untuk Ghina dan Maryam.
"Yah, ini kan lucu, ada nama pemainnya. Cuma 70 Poundsterling kok," Anindya mencoba membujuk Lev.
"Tujuh puluh Poundsterling itu hampir satu setengah juta, Bu! Buat kaus doang!" Lev histeris.
Aisyah, sang negosiator ulung, akhirnya turun tangan. "Bu, Ayah, mending beli syal atau topi aja. Lebih fungsional dan lebih murah. Lagian kita ke Swiss kan butuh syal."
Akhirnya, mereka sepakat. Lev membelikan Rayyan jersey incarannya (dengan diskon anggota yang ia punya dari zaman dulu), dan sisanya membeli syal dan topi untuk semua anggota keluarga. Anindya tetap happy, karena syalnya bisa jadi properti foto yang viral.
"Deal, Ayah. Syal ini estetik banget warnanya," kata Anindya sambil tersenyum puas.
Sebelum meninggalkan area stadion, Anindya tak lupa live Instagram lagi dengan latar belakang patung Holy Trinity (Best, Law, dan Charlton).
"Bu, jangan lupa hashtag #NazarCintaDiTanahWaliJilid2 #OldTraffordViral #KeluargaIslamiDiManchester," saran Aisyah, ikut meramaikan konten ibunya.
Hari itu, Old Trafford bukan hanya menjadi saksi bisu sejarah sepak bola Inggris, tapi juga saksi bisu kehebohan keluarga Ryley dari Banjarmasin. Penuh tawa, sedikit drama tawar-menawar yang mustahil, dan banyak foto viral. Misi pertama di Manchester sukses besar.
