Matahari terik membakar hutan lebat, menusuk celah-celah dedaunan dan memanaskan udara lembap di perkemahan Antasari. Di tenda utama, dengan peta yang terbentang di atas tikar, Antasari sedang berdiskusi dengan Tumenggung Pandan dan Tumenggung Surapati. Taktik baru untuk menyerang jalur pasokan Belanda di sungai sedang disusun, detail-detailnya dibahas dengan cermat. Namun, di luar tenda, bisik-bisik ketidakpuasan mulai merayap.
Sejak penobatan Antasari sebagai Khalifatul Mukminin, ia mendapatkan pengikut yang luar biasa setia, tetapi juga memicu iri hati di kalangan bangsawan dan kepala suku tertentu. Tidak semua orang dengan tulus menerima kepemimpinannya. Ada yang merasa gelar itu terlalu besar untuk seorang pangeran yang dianggap terbuang, yang sebelumnya memilih hidup di luar istana. Ada pula yang merasa kekuasaan mereka tergerus, tergantikan oleh wibawa Antasari yang semakin menguat.
Di antara mereka yang paling merasa terancam adalah Pangeran Surianata. Surianata, seorang bangsawan berpengaruh yang sebelumnya mendukung perlawanan, kini mulai menunjukkan tanda-tanda pembangkangan. Awalnya, ia hanya sering mangkir dari pertemuan-pertemuan penting, beralasan sakit atau urusan keluarga. Lambat laun, ia mulai menyebarkan keraguan di antara para pengikutnya, menuding Antasari terlalu ambisius dan hanya memanfaatkan rakyat untuk kepentingannya sendiri.
Antasari mengetahui hal ini dari laporan-laporan mata-mata yang setia. Ia tidak ingin bertindak gegabah, mengingat Surianata adalah tokoh penting dengan banyak pengikut. Ia mencoba berdiplomasi, mengirim utusan untuk berbicara dengan Surianata, tetapi utusan itu kembali dengan tangan hampa dan pesan dingin: “Pangeran Antasari kini telah menjadi raja, dan saya bukan lagi pengikutnya.”
Malam itu, di tepi sungai yang gelap, sebuah perahu kecil merapat. Di dalamnya, seorang kurir bayaran dari Surianata memberikan sebuah pesan kepada seorang mata-mata Belanda. Pesan itu berisi informasi penting tentang lokasi markas Antasari dan rencana serangan berikutnya. Bagi Surianata, ini bukan lagi masalah dukungan, melainkan masalah harga diri dan kekuasaan. Ia ingin melihat Antasari jatuh, agar ia dapat mengambil alih kendali perlawanan, atau setidaknya memulihkan pengaruhnya.
Beberapa hari kemudian, saat fajar menyingsing, serangan mendadak terjadi. Bukan dari arah yang diperkirakan, melainkan dari sisi perkemahan yang paling lengah. Pasukan Belanda datang dengan jumlah besar, menyerbu dengan senapan dan meriam, membuat kaget pasukan Antasari. Kekacauan pecah. Anak panah beracun terbang, mandau beradu dengan bayonet, dan teriakan perang bergema di tengah hutan.
Antasari berteriak memberi perintah, berusaha mengorganisasi pasukannya yang panik. Tumenggung Pandan dan prajurit Dayaknya bergerak cepat, membalas serangan dengan taktik gerilya yang mereka kuasai. Tumenggung Surapati memimpin barisan Banjar, bertempur dengan gagah berani. Namun, jumlah pasukan Belanda jauh lebih besar, dan mereka datang dengan informasi yang sangat akurat.
Di tengah pertempuran, seorang prajurit melapor kepada Antasari, “Pangeran Surianata! Kami melihatnya bersama pasukan Belanda!”
Dada Antasari seperti dihantam godam. Pengkhianatan. Perasaan itu lebih menyakitkan daripada tusukan pedang. Ia tak menyangka Surianata akan menjual perjuangan mereka demi keuntungan pribadi. Namun, ia tidak punya waktu untuk meratapi. Ia harus menyelamatkan pasukannya.
Dengan keputusan yang berat, Antasari memerintahkan mundur. Mereka mundur ke pedalaman hutan yang lebih dalam, meninggalkan perkemahan yang kini terbakar habis. Antasari memimpin para prajurit yang tersisa, wajahnya dipenuhi amarah dan kesedihan. Di dalam hatinya, ia berjanji bahwa pengkhianatan ini tidak akan pernah ia lupakan.
Malam itu, setelah berhasil lolos dari kepungan Belanda, Antasari duduk di depan api unggun yang kecil, sendirian. Ia menatap nyala api yang menari-nari, memikirkan apa yang salah. Pengkhianatan ini adalah pengingat bahwa musuh tidak hanya berada di luar, dengan seragam biru mereka, tetapi juga bisa berada di dalam, dengan senyum palsu di wajah mereka.
"Haram menyerah," bisiknya, suaranya parau. "Baja sampai ke ujung."
Kali ini, kata-kata itu bukan hanya sekadar slogan, melainkan sumpah yang diucapkan dengan darah dan air mata. Perjuangan kini bukan hanya melawan Belanda, tetapi juga melawan pengkhianatan di antara bangsa sendiri. Dan Antasari tahu, ini adalah pertempuran terberat yang harus ia hadapi.
