Anindya Putri, nama barunya, merasa jiwanya dipenuhi kedamaian yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Namun, kedamaian itu tidak bertahan lama. Ujian pertama datang dari orang-orang terdekatnya, teman-teman yang selama ini menemaninya di Manchester.
Semuanya dimulai saat Jessica, teman dekat Anindya, mengundang Anindya ke pesta ulang tahunnya. Pesta yang diadakan di sebuah pub yang ramai dan hingar-bingar. Anindya menolak dengan sopan, beralasan ada tugas yang harus diselesaikan.
"Ayolah, Anin," bujuk Jessica, menggunakan panggilan barunya yang ia pelajari dari Adam. "Ini ulang tahunku, lho. Kamu kok jadi begini sih? Dulu Karina enggak pernah nolak."
Anindya merasa dadanya sesak. "Aku... lagi kurang enak badan, Jes. Maaf, ya."
Jessica mendengus kesal. "Alasan! Kamu itu kenapa sih? Sejak kenal sama Adam, kamu jadi aneh. Kamu dicuci otak, ya?"
Kata-kata Jessica terasa seperti tamparan keras di wajah Anindya. Ia tahu Jessica tidak bermaksud jahat, tapi ia juga tidak bisa menerima tuduhan itu. "Enggak, Jessica. Adam enggak pernah memaksa aku. Ini keputusan aku sendiri."
"Keputusan apa?" tanya David, yang kebetulan lewat dan mendengar percakapan mereka. "Keputusan pakai baju gombrong, enggak ikut nongkrong, dan tiba-tiba jadi religius? Karina, ini bukan kamu!"
Anindya merasa air matanya sudah di ujung mata. Ia menatap teman-temannya satu per satu. Di mata mereka, ia melihat kebingungan, kekecewaan, dan bahkan sedikit penghinaan. Mereka tidak mengerti. Mereka melihat perubahan fisiknya, tapi tidak melihat perubahan hatinya.
"Aku... aku hanya mencari ketenangan," bisik Anindya.
"Ketenangan kok sampai jadi aneh begini?" cibir Maya, teman dari Singapura. "Kalau kamu memang mau cari ketenangan, harusnya kamu tetap bisa jadi diri sendiri."
"Justru ini diriku yang sebenarnya," kata Anindya, dengan suara yang bergetar. "Diriku yang selama ini hilang."
Percakapan itu berakhir dengan Anindya meninggalkan mereka. Ia berjalan cepat, berusaha menahan air mata yang terus mendesak keluar. Ia merasa sakit, bukan karena kata-kata mereka, tetapi karena ia tahu, perjalanannya ini akan mengikis pertemanannya.
Malam itu, di apartemennya, Anindya menangis sejadi-jadinya. Ia merasa sendirian, seolah ia telah kehilangan segalanya. Namun, di tengah tangisnya, ia teringat pada doa yang ia panjatkan dalam salat. Ia teringat pada janji Allah yang akan selalu menyertai hamba-Nya. Perlahan, tangisnya mereda, digantikan oleh kedamaian yang menenangkan.
Ia mengambil ponselnya, membuka pesan dari Adam. "Karina, ujian pasti akan datang. Tapi ingat, Allah tidak akan membebani hamba-Nya di luar batas kemampuannya. Tetaplah istiqamah."
Anindya tersenyum. Ia tahu, Adam benar. Ini adalah ujian. Ujian yang harus ia lewati untuk membuktikan seberapa besar keyakinannya. Ia tidak akan menyerah. Di tengah keterasingan ini, ia menemukan kekuatan baru. Kekuatan dari keyakinan yang ia anut.
Anindya menyadari, ia mungkin akan kehilangan teman-teman lamanya, tetapi ia juga akan mendapatkan teman-teman baru. Teman-teman yang sejalan dengan jalannya, yang akan membantunya di setiap langkah. Ujian ini, ia yakin, akan membuatnya menjadi pribadi yang lebih kuat. Ia telah memilih jalan hidayah, dan ia akan melangkah di jalan itu, meski harus sendirian.
