Setelah euforia di Old Trafford mereda, keluarga Ryley memutuskan untuk melanjutkan eksplorasi sisi lain Manchester yang lebih tenang dan sarat sejarah. Tujuan mereka hari ini adalah The John Rylands Library, sebuah perpustakaan megah yang terkenal dengan arsitektur neo-Gothic-nya.
"Ayah, kenapa kita ke perpustakaan?" tanya Rayyan, kurang antusias. Di bayangannya, perpustakaan adalah tempat membosankan yang penuh buku tanpa gambar.
"Rayyan, perpustakaan ini bukan perpustakaan biasa," jelas Lev, sambil menunjukkan foto-foto di ponselnya. "Gedungnya seperti istana. Seperti sekolahnya Harry Potter!"
"Wih, Ayah! Beneran kayak Hogwarts!" seru Ghina, matanya langsung berbinar. Sejak itu, Ghina berjanji akan bersikap seperti murid teladan Harry Potter yang sopan.
Sesampainya di Jalan Deansgate, mata mereka langsung terpana. Bangunan batu bata merah yang menjulang tinggi dengan detail ukiran yang rumit terlihat megah, kontras dengan bangunan modern di sekitarnya. Maryam, si seniman keluarga, langsung mengeluarkan sketchbook-nya, tangannya gatal ingin menggoreskan sketsa.
"Masya Allah, Bu. Keren banget ya arsitekturnya," bisik Anindya, yang juga takjub. "Mirip gereja-gereja kuno di film-film kolosal."
Mereka masuk ke dalam, dan suasana di dalamnya jauh lebih spektakuler dari luar. Plafon yang tinggi, jendela kaca patri berwarna-warni, dan rak-rak buku tua yang berisi ribuan koleksi kuno menciptakan atmosfer magis dan sakral. Ada nuansa hening yang menenangkan, membuat Rayyan dan Ghina pun ikut-ikutan berbisik.
"Dulu, perpustakaan ini dibangun oleh seorang istri, Enriqueta Rylands, untuk mengenang suaminya yang dermawan, John Rylands," jelas Lev, menceritakan kembali kisah yang ia baca. "Masya Allah, cintanya tulus sekali ya, sampai-sampai bikin perpustakaan sebesar ini."
Anindya menyentuh lengan Lev. "Ya, kayak kamu, Yah. Nggak ngasih perpustakaan sih, tapi ngasih koper mint green set."
Lev hanya bisa pasrah dan tersenyum mendengar perbandingan Anindya.
Mereka menjelajahi setiap sudut perpustakaan. Aisyah, dengan rasa ingin tahu seorang mahasiswi, membaca plakat-plakat informasi dan terpesona dengan koleksi manuskrip kuno. Ia teringat akan ajaran Islam tentang pentingnya membaca dan menuntut ilmu.
Di bagian koleksi langka, mereka melihat manuskrip-manuskrip berharga. Lev, yang membaca sebuah informasi dari ponselnya, tiba-tiba memanggil keluarganya.
"Aisyah, lihat ini," kata Lev, menunjuk ke layar. "Ternyata perpustakaan ini punya koleksi naskah kuno yang berkaitan dengan Islam juga, lho. Ada salinan Al-Qur'an kuno yang sangat besar dan papirus dari zaman Mesir awal Islam."
Keluarga Ryley terdiam, merasa takjub. Jauh di negara non-muslim, mereka menemukan jejak kebesaran Islam.
"Jadi, di sini ada naskah Al-Qur'an? Masya Allah," bisik Anindya. "Ini bukti kalau Islam itu ada di mana-mana."
Momen itu menjadi pelajaran berharga bagi anak-anak. Mereka belajar bahwa Islam bukan hanya ada di sekitar mereka di Banjarmasin, tapi juga merupakan bagian dari sejarah dunia yang kaya dan tersebar luas.
Maryam dengan cepat membuat sketsa detail jendela kaca patri yang indah, terinspirasi oleh keagungan tempat itu. Rayyan, yang awalnya bosan, kini ikut-ikutan penasaran. Ia bertanya pada Lev tentang isi buku-buku tebal yang tersimpan rapi.
Sebelum meninggalkan perpustakaan, mereka mampir ke toko suvenir. Lev membelikan Aisyah sebuah buku tentang arsitektur kuno Manchester sebagai hadiah. Anindya tak lupa live Instagram, mengajak para followers-nya untuk mengagumi keindahan perpustakaan tersebut.
"Assalamualaikum followers! Ini John Rylands Library di Manchester! Gedungnya mirip Hogwarts, tapi isinya banyak hikmah! Jangan lupa menuntut ilmu sampai ke negeri Cina, yaa," canda Anindya, mengakhiri live-nya.
Keluar dari perpustakaan, mereka merasa lebih kaya. Bukan karena membeli barang, melainkan karena mendapatkan ilmu dan pengalaman spiritual yang tak ternilai harganya. Mereka tahu, pengalaman ini akan menjadi salah satu cerita favorit yang akan mereka kenang dan ceritakan kembali, sama seperti cerita ziarah wali di tanah air. Setelah Old Trafford yang penuh gairah, kini giliran John Rylands yang memberikan ketenangan dan hikmah. Manchester mulai menunjukkan sisi-sisi lain dari keunikannya.
