Fajar menyingsing di atas Kota Banjarmasin. Udara masih terasa sejuk, dan kabut tipis menyelimuti permukaan sungai. Trio summoner amatir kita sudah siap di depan rumah panggung Lev.
Vania mengenakan pakaian training lengkap dengan sepatu boots mendaki. Anatasya dengan pakaian lapangan khas ahli biologi, dan Lev dengan rompi fotografer yang sudah lusuh, memanggul ransel dan tas kamera.
"Bensin penuh, bekal cukup, strategi siap tempur!" seru Vania penuh semangat. Ia sudah men-summon Oyen, yang duduk manis di bahunya seperti bajak laut.
"Strategi kita adalah observasi dan dokumentasi, Van," Anatasya mengingatkan. "Bukan tempur."
"Ya, observasi sambil tempur, kan sama aja," Vania melengos.
Mereka menyewa mobil untuk menuju Tahura Sultan Adam di Mandiangin, perjalanan sekitar satu jam dari Banjarmasin. Setibanya di sana, suasana hutan lindung yang rindang dan udara pegunungan yang segar langsung menyambut mereka. Jauh berbeda dari hiruk pikuk kota.
"Wah, hawanya enak banget," komentar Lev, langsung mengeluarkan kameranya.
Mereka mulai menjelajahi jalur pendakian yang tersedia. Anatasya sibuk mengidentifikasi flora dan fauna di sekitarnya. "Ini habitat yang ideal untuk reptil dan beberapa jenis primata," jelasnya. "Target kita, biawak, kemungkinan besar ada di sekitar sungai kecil di dasar lembah sana."
Mereka berjalan mengikuti arah petunjuk Anatasya. Setelah sekitar dua kilometer berjalan menurun, mereka menemukan sebuah sungai kecil yang jernih dengan bebatuan besar.
"Ini tempatnya," kata Vania, matanya berbinar. Ia langsung menyuruh Oyen turun dari bahunya. "Oyen, cariin temen baru kita, dong!"
Oyen si kucing oren, meski malas, ternyata memiliki indra penciuman yang tajam sebagai summon. Ia mengendus tanah, lalu melesat ke arah semak-semak lebat di tepi sungai.
Beberapa detik kemudian, terdengar suara keributan dari semak-semak. Srak sruk!
"Ayo, Lev, siap-siap!" Vania bersiap dengan kuda-kudanya.
Dari semak-semak, Oyen melompat keluar, diikuti oleh seekor biawak besar—sekitar satu meter panjangnya yang tampak terkejut dengan kehadiran mereka. Biawak itu berwarna coklat kehitaman, dengan lidah bercabang menjulur keluar.
"Spesies: Biawak Monitor (Varanus salvator). Rank: C (Umum Kuat). Skill: Gigitan Mematikan, Berenang Cepat."
Notifikasi itu muncul otomatis di pikiran Lev dan Vania. Anatasya mengaktifkan liontinnya untuk menganalisis data biologis sang biawak secara real-time.
"Rank C! Lumayan!" seru Vania.
Si Biawak yang terkejut mulai mendesis dan berlari menjauhi mereka.
"Jangan kabur! Sini lo!" Vania mengejar biawak itu. "Lev, cepet foto!"
Lev mengarahkan kameranya ke biawak yang berlarian di tepi sungai. Klik! Cahaya biru kembali berkedip, dan kartu biawak berhasil didapatkan Lev. Sang Biawak menghilang dari pandangan nyata, kini terperangkap dalam kartu baru milik Lev.
"Yes! Dapat!" Lev mengangkat kartunya tinggi-tinggi.
"Sekarang summon dia, Van! Kita coba tes kekuatannya!" Vania sudah tidak sabar.
"Ini summon gue, Van," Lev protes.
"Ya pinjam sebentar! Gue mau ngetes gelang gue!" Vania merebut kartu biawak dari tangan Lev. "Keluar, Biawak!"
Cahaya merah dari gelang Vania bersinar, berinteraksi dengan kartu biawak. Si Biawak Monitor muncul kembali, kali ini dengan mata yang menyala merah, menandakan ia dikendalikan oleh gelang Vania.
Vania menyeringai. "Ayo latihan, kawan!"
Mereka berlatih di area terbuka dekat sungai. Vania memerintahkan Biawak untuk melakukan gerakan tangkas, menghindari batu, dan bahkan pura-pura bertarung dengan Oyen (yang tampak kesal karena disuruh kerja paksa). Kelincahan biawak itu meningkat drastis di bawah pengaruh gelang Vania.
Lev sibuk memotret momen-momen itu untuk tugas Konser Alam Liar, sementara Anatasya mencatat data.
"Luar biasa," gumam Anatasya. "Gelang Vania bisa meningkatkan statistik fisik summon hingga 40%! Ini cheat banget!"
Mereka larut dalam latihan dan dokumentasi. Tak sadar, mereka sudah menghabiskan waktu berjam-jam di sana. Vania akhirnya menghentikan latihannya.
"Cukup, cukup. Gue capek, si biawak juga pasti capek," kata Vania sambil mengembalikan kartu biawak ke Lev.
"Statusnya Stable (Lelah)," baca Lev dari kartunya. "Kerja bagus, Van."
Mereka memutuskan untuk beristirahat sebentar dan makan siang di pinggir sungai. Suasananya tenang, hanya terdengar suara air mengalir dan kicauan burung di kejauhan.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Tiba-tiba, Oyen yang sedang tidur siang di pangkuan Vania, mendesis keras. Bulu di tubuhnya berdiri tegak.
"Ada apa, Oy?" Vania membelai kepala Oyen.
"Perasaan gue nggak enak," bisik Anatasya, liontinnya terasa sangat panas sekarang.
"Ada orang lain di sini," kata Lev, matanya mengawasi semak-semak di seberang sungai.
Dari balik pepohonan, dua sosok pria berjas hitam muncul. Lambang ular melilit pohon terlihat jelas di kerah baju mereka. Mata mereka terpaku pada Lev, pada kamera tua yang tergantung di lehernya.
"Target ditemukan," kata salah satu pria dengan suara dingin.
Vania langsung berdiri, mode siaga penuh. "Organisasi Genesis..."
"Serahkan kamera itu, anak muda," perintah pria satunya lagi. "Dan kami akan membiarkan kalian pergi."
Petualangan nyata mereka baru saja dimulai. Hutan Mandiangin yang tenang kini menjadi arena pertarungan pertama mereka melawan ancaman nyata dari dunia bayangan para Summoner.
