Kecurigaan Lev Ryley: Mengapa Vania Larasati Menyembunyikan Penyakitnya dari Kisah Cinta Mereka di Banjarmasin?
Kecurigaan Lev Ryley terhadap kondisi Vania Larasati semakin kuat. Sebagai mahasiswa pustakawan ULM, ia terbiasa mengamati detail-detail kecil yang tersembunyi. Dan kini, ia melihat banyak hal yang berbeda pada Vania. Wajahnya yang biasanya ceria, sering kali terlihat lelah. Senyumnya tidak lagi mampu menutupi gurat-gurat kekhawatiran di matanya. Vania juga semakin sering mengeluh pusing dan kelelahan, meski ia selalu berusaha mengabaikannya.
Lev mulai mencari informasi. Bukan di novel, melainkan di buku-buku kesehatan yang ada di perpustakaan. Ia mencari tahu tentang gejala-gejala yang diceritakan Vania. Ia bahkan bertanya pada beberapa teman dari fakultas kedokteran, secara tidak langsung, tentang kemungkinan penyebabnya.
Vania, di sisi lain, berusaha keras untuk menutupi kondisi kesehatannya dari Lev. Ia tidak ingin Lev khawatir. Ia tahu, kisah cinta mereka sudah melewati banyak tantangan, dan ia tidak ingin menambah beban lagi. Vania mencoba untuk tetap bersikap normal. Ia terus mengajar anak-anak di taman dan melukis. Namun, setiap kali ia memegang kuas, rasa nyeri di perutnya kembali datang, semakin intens.
Suatu hari, saat mereka bertemu di kantin ULM, Lev melihat ada bekas perban kecil di lengan Vania.
"Ini kenapa, Vania?" tanya Lev, menunjuk perban itu.
Vania segera menutupi perban itu dengan tangannya. "Oh, ini? Tidak apa-apa kok. Hanya luka kecil."
"Bukan luka kecil. Itu seperti bekas suntikan," kata Lev, menatap Vania curiga. "Kamu dari rumah sakit?"
Vania terdiam. Matanya menghindari tatapan Lev. "Aku... cuma cek darah biasa. Rutinitas."
"Kamu tidak pernah cek darah rutin sebelumnya," desak Lev. "Kamu tidak pernah takut sama jarum suntik."
Vania akhirnya menyerah. Ia tahu, tidak ada gunanya berbohong pada Lev. Ia mengambil napas dalam-dalam, bersiap mengatakan semuanya. "Aku... ada sedikit masalah kesehatan, Lev. Tapi tidak serius kok."
"Apa itu, Vania?" tanya Lev, suaranya melembut. Ia meraih tangan Vania, menggenggamnya erat. "Kamu bisa cerita padaku. Aku akan ada di sini, bersamamu."
Di tengah-tengah keramaian kantin ULM di Banjarmasin, Vania Larasati merasa takut. Bukan takut karena penyakitnya, melainkan takut kehilangan Lev. Namun, genggaman Lev memberinya keberanian. Ia tahu, ia tidak bisa menghadapi ini sendirian. Inilah babak baru dalam novel romantis mereka. Bukan tentang senja yang indah atau kompromi yang manis, melainkan tentang menghadapi kenyataan pahit yang mungkin akan menghancurkan segalanya.
Pesan untuk Pembaca (SEO):
Lev Ryley akhirnya mengetahui bahwa Vania Larasati menyembunyikan sesuatu.
Apa penyakit yang diderita Vania? Bagaimana kisah cinta mahasiswa ini akan bertahan?
Ikuti terus kelanjutan novel romantis sad ending ini, dan rasakan perjuangan cinta yang sebenarnya. #NovelRomantis #SadEnding #MahasiswaULM #Banjarmasin #KisahCinta #PerjuanganCinta
