Menghadapi Efek Kemoterapi: Kisah Lev Ryley dan Vania di Tengah Perjuangan Kanker di Banjarmasin.
Ketenangan yang mereka temukan di Bukit Rimpi tidak bertahan lama. Sepulangnya dari sana, kondisi Vania Larasati menurun drastis. Efek kemoterapi mulai terasa semakin berat. Rasa mual, lemas, dan sakit yang tak kunjung hilang menghampiri Vania. Rambutnya, yang sebelumnya hanya rontok, kini hampir habis. Wajahnya yang dulu cerah, kini terlihat semakin pucat dan kuyu.
Lev Ryley, mahasiswa pustakawan ULM, berusaha sekuat tenaga untuk menemani dan memberikan semangat. Ia mengumpulkan semua keberanian yang ia punya. Ia mulai mencari literatur tentang efek kemoterapi, tentang bagaimana cara terbaik merawat pasien, dan bagaimana memberikan dukungan emosional yang tepat. Lev membaca setiap kalimat dengan saksama, seolah-olah Vania adalah buku paling berharga yang pernah ia rawat.
Vania semakin sering berada di rumah sakit di Banjarmasin. Ruangan yang semula terasa asing, kini terasa seperti rumah kedua. Lev selalu ada di sana, membacakan buku untuk Vania, bercerita tentang hal-hal lucu yang ia temui di kampus, dan memutar lagu-lagu favorit mereka.
Suatu sore, Vania melihat pantulan dirinya di kaca. Tanpa rambut, dengan tubuh yang kurus. Air matanya mengalir. "Lev... aku terlihat jelek."
Lev segera memeluk Vania. "Tidak, Vania. Kamu tetap cantik. Kecantikanmu tidak ada di rambut, tapi di hatimu. Hati yang kuat. Hati yang selalu memberiku semangat," bisik Lev, menahan tangisnya sendiri.
Vania bersandar di bahu Lev. "Aku lelah, Lev."
"Aku tahu. Tapi kita harus kuat. Kita akan hadapi ini bersama," janji Lev.
Mereka mulai membatasi kunjungan teman-teman. Vania merasa malu dengan kondisinya yang semakin memburuk. Ia tidak ingin orang lain melihatnya seperti ini. Hanya Lev yang ia izinkan untuk terus berada di sisinya.
Hubungan mereka kini menjadi lebih dalam. Tidak lagi tentang kencan atau liburan, melainkan tentang perjuangan melawan penyakit mematikan. Kisah cinta mahasiswa ULM ini diuji dengan cara yang paling kejam. Namun, di tengah badai yang menerpa, cinta mereka tetap bertahan.
Malam itu, di kamar rumah sakit yang sunyi di Banjarmasin, Lev melihat Vania terlelap. Ia meraih buku sketsa Vania. Lukisan Bukit Rimpi masih di sana, dengan pensil warna yang belum terselesaikan. Di bawah lukisan itu, Vania menulis sebuah kalimat, dengan tulisan yang tidak lagi rapi.
"Bukit Rimpi yang tenang, tapi aku tidak. Maaf, Lev."
Air mata Lev jatuh, membasahi halaman buku sketsa itu. Kisah cinta mereka kini memasuki babak yang paling berat. Mereka tahu, waktu tidak berpihak pada mereka. Namun, mereka akan terus berjuang, hingga akhir.
Pesan untuk Pembaca (SEO):
Bagaimana Lev Ryley dan Vania Larasati menghadapi efek kemoterapi yang semakin berat?
Apakah kisah cinta mahasiswa ULM ini akan berakhir di sini?
Ikuti terus kelanjutan novel romantis sad ending ini, dan saksikan keteguhan cinta sejati. #NovelRomantisSadEnding #VaniaKanker #MahasiswaULM #Banjarmasin #KisahCinta #PerjuanganCinta
