Ikuti kisah Layla, perawat di Manchester yang berjuang menjaga iman & ayahnya saat Ramadan. Novel Islami penuh tawa & air mata di tengah rivalitas MU vs City.
Sinopsis Utama
Layla Al-Sayed adalah perawat di Royal Manchester Children’s Hospital yang punya satu aturan hidup: "Islam adalah agamaku, Manchester United adalah jiwaku." Baginya, tidak ada yang lebih buruk daripada kalah di Derby Manchester, kecuali mungkin membatalkan puasa sebelum waktunya.
Ramadan tahun ini penuh tantangan. Layla harus merawat ayahnya yang merupakan saksi hidup kejayaan Sir Alex Ferguson, sambil menghadapi sepupunya, Yusuf, yang hobinya mengejek MU setiap kali mereka kalah. Dari sahur dengan jersey retro 1999 hingga salat tarawih di dekat Old Trafford, Layla belajar bahwa kesabaran paling tinggi bukan saat menahan lapar, tapi saat melihat tim lawan mengangkat trofi.
Sinopsis: Under the Red Sky (Ramadan di Teater Impian)
Layla Al-Sayed adalah seorang perawat di Royal Manchester Children’s Hospital yang hidup dengan dua prinsip teguh: menjaga iman di tengah sekularisme Inggris dan menjaga loyalitas pada Manchester United di tengah gempuran "tetangga berisik". Baginya, Manchester bukan sekadar kota industri yang sering hujan; ini adalah rumah di mana suara azan dari Manchester Central Mosque berpadu dengan nyanyian "Glory Glory Man United" dari arah Stretford End.
Ramadan tahun ini terasa berbeda. Layla harus menjalani puasa 18 jam sambil merawat ayahnya, seorang veteran fans MU yang mulai kehilangan ingatan namun tetap hafal setiap gol Eric Cantona. Ujian kesabarannya bukan hanya menahan haus di tengah shift rumah sakit yang padat, tapi juga menghadapi Yusuf, sepupunya yang menyebalkan karena tiba-tiba menjadi fans karbitan rival sekota hanya untuk memancing emosi Layla saat berbuka.
Di antara rintik gerimis di Piccadilly Gardens dan keheningan malam di Old Trafford, Layla menemukan bahwa Ramadan adalah tentang "Fergie Time" spiritual—sebuah perjuangan hingga detik terakhir untuk mendapatkan ampunan Allah.
Novel ini adalah sebuah kisah Slice of Life yang dibalut komedi satir khas Mancunian, tragedi rindu pada keluarga, dan perjalanan seorang wanita muslimah yang membuktikan bahwa menjadi religius dan menjadi fans fanatik sepak bola bisa berjalan beriringan di bawah langit merah Manchester.
Latar Belakang: Mencakup lokasi ikonik seperti Salford, Rusholme (Curry Mile), dan Greater Manchester.
Tone: Emosional (Sad), Menghibur (Comedy), dan Inspiratif (Islamic Values).
