Setelah Elara sadar dan kondisinya membaik, ia menceritakan pengalamannya. Jiwanya memang dikendalikan, namun ia bisa merasakan kehadiran Kael melalui gema kartu. Ia menjelaskan bahwa Malakor adalah korban dari manipulasi yang lebih besar. Ada suara lain, bisikan yang lebih kuno dan gelap, yang mengendalikan Malakor untuk mengumpulkan kekuatan Heart of the Sanctuary. Ini mengonfirmasi apa yang Kael lihat.
Namun, pengungkapan ini bukannya menyatukan mereka, justru menimbulkan keraguan baru.
"Kekuatan kuno?" tanya Lyra, matanya penuh kecurigaan. "Lalu kenapa Heart of the Sanctuary tidak memberikan petunjuk itu dari awal? Kenapa sihir kegelapan baru muncul sekarang?" Lyra tidak bisa melupakan bagaimana Kael membawa mereka ke dalam jebakan, meskipun dengan niat baik. Ketidakpercayaan lamanya terhadap manusia mulai bangkit kembali.
Brokk, dengan ekspresi cemberut, menyuarakan keraguan serupa. "Kau mengatakan kita harus menyatukan semua fraksi? Setelah apa yang terjadi? Mortii menyerang kita, Fae menggunakan sihir mereka untuk memperdaya, dan kau, seorang Human, yang seharusnya menjadi korban, tiba-tiba menjadi 'pahlawan' dengan kekuatan baru? Semua ini terlalu cepat dan aneh."
Kael mencoba menjelaskan, "Aku juga tidak mengerti sepenuhnya, tapi gema jiwa ini nyata. Kekuatan pemaafan yang membebaskan kalian juga nyata!"
"Pemaafan tidak akan mengembalikan keluargaku," jawab Lyra dingin. "Faktanya, kita semua dimanipulasi, Kael. Mungkin kau juga."
"Mungkin benar," Brokk menyahut, tatapannya kini dipenuhi kecurigaan yang sama dengan Lyra. "Bagaimana kami bisa tahu kau tidak terpengaruh oleh kekuatan yang sama dengan Malakor? Kekuatanmu berubah begitu cepat."
Kael merasa hatinya seperti disayat. Ia mengerti keraguan mereka. Ia sendiri pun masih mencari jawaban. Namun, melihat Lyra dan Brokk kembali diselimuti prasangka lama membuat tekadnya goyah. "Aku tidak akan memaksamu. Tapi aku tahu kebenaran ini nyata. Jika kalian tidak mau percaya padaku, itu hak kalian."
"Kau benar, itu hak kami," kata Lyra, bangkit berdiri. Ia mengambil busurnya. "Aku harus kembali ke hutan Fae. Hutan kami telah ternoda oleh kegelapan dan aku harus melindungi kaumku. Aku tidak bisa mengikuti petunjuk dari gema jiwamu yang baru."
Brokk juga berdiri, menatap Kael dengan tatapan yang sulit diartikan. "Suku Neander juga dalam bahaya. Kami harus kembali. Kami akan menghadapi kegelapan dengan cara kami sendiri. Tanpa dirimu."
Elara, yang sudah lebih sadar, meraih tangan Kael. "Kakak..."
Kael menatap kedua temannya yang telah berjuang bersamanya. Ia melihat keraguan yang mendalam di mata mereka, keraguan yang dipupuk oleh sejarah panjang permusuhan. "Baiklah," kata Kael, suaranya pelan dan penuh kesedihan. "Jika itu keputusanmu. Kita akan berpisah di sini."
Lyra mengangguk, lalu berbalik dan berjalan cepat ke arah hutan. Brokk memberikan anggukan terakhir kepada Kael, lalu melangkah pergi menuju pegunungan. Kael ditinggalkan sendirian bersama Elara, menyaksikan dua teman yang baru saja ia peroleh kini meninggalkannya. Aliansi yang baru saja terbentuk, kini telah pecah.
Kael merasa ia telah gagal. Ia menyelamatkan Elara, tetapi gagal menyatukan mereka. Beban pengkhianatan yang baru ini terasa lebih berat dari segalanya. Ia tahu ia harus menemukan bijak misterius itu, tetapi kini ia harus melakukannya sendirian, dengan hanya gema jiwanya yang baru sebagai penuntun. Perjalanan Kael, yang awalnya dimulai dengan dendam, kini berlanjut dengan misi yang jauh lebih berat: menyatukan dunia yang telah terpecah-belah, sambil menghadapi keraguan dan kebencian yang mendalam.
Dapatkan novel fantasi Deck Heroes Legacy dan ikuti petualangan epik Kael dan kawan-kawan setiap minggunya! Jangan lewatkan kisah seru, konflik mendalam, dan intrik antar fraksi yang akan membawa Anda ke dunia yang penuh sihir dan bahaya. [Link Pre-Order / Baca Sekarang].
