"Astaga!"
Suara pekikan Lev menggema di lobi hostel yang sepi. Pria paruh baya yang membaca buku di ranjangnya hanya menoleh sekilas, lalu kembali fokus pada bacaannya. Lev tidak peduli. Matanya membulat, menatap koper berwarna birunya yang terlihat asing. Ini bukan kopernya. Kopernya lebih kecil, dengan stiker ikon masjid Banjarmasin yang ditempelnya sendiri. Koper ini lebih besar, dengan beberapa stiker dari klub sepak bola Rusia. Jantung Lev berdegup kencang. Ia panik.
Semua barang-barang pentingnya ada di koper itu. Pakaiannya, obat-obatannya, bahkan bumbu cabai kesayangannya. Koper itu adalah 'rumah' sementaranya selama di Rusia.
Ia berlari ke meja resepsionis. "Koper... koffer... saya... bukan ini!" katanya, mencoba mempraktikkan kosakata yang baru saja ia pelajari dari kamus Sofia. Ia menunjuk koper yang salah, lalu menunjuk dirinya sendiri.
Petugas resepsionis, seorang wanita muda yang sibuk dengan ponselnya, menatap Lev dengan acuh tak acuh. "Problema, ya?" tanyanya, lebih seperti sebuah pernyataan daripada pertanyaan.
Lev mengangguk cepat. "Ya! Problema! Koper saya... hilang! Bukan ini."
Petugas resepsionis itu menghela napas panjang, tampak lelah. "Kau ambil di stasiun, kan? Ya sudah, itu salahmu. Kau harus hubungi stasiun. Tapi mereka tidak akan mengerti bahasamu. Ini Rusia."
Kata-kata petugas itu bagai palu godam yang menghantam kepala Lev. Ia merasa putus asa. Ia kembali ke kamar dengan langkah gontai. Apa yang harus ia lakukan? Koper itu satu-satunya barang yang ia miliki. Dan kini, ia terjebak dengan koper orang lain di kota asing.
Lev mengambil ponselnya, dan tanpa ragu, ia menekan nomor Sofia. Ia tahu ini sudah larut malam di Perm, tapi ia tidak punya pilihan lain. Setelah beberapa kali berdering, suara Sofia yang serak terdengar dari seberang.
"Zdrastvuyte, Lev? Kenapa telepon malam-malam?"
"Sofia! Koper saya hilang!" Lev langsung curhat tanpa basa-basi.
"Koper? Maksudmu, kamu salah ambil koper di stasiun?" tanya Sofia, suaranya terdengar lebih sadar.
"Ya! Dan petugas di sini tidak mau membantu!" Lev menjelaskan dengan nada yang frustrasi, mencampuradukkan bahasa Inggris dan Rusia.
Sofia tertawa kecil dari seberang. "Ya ampun, Lev. Pahlawan batik kita ini ada-ada saja. Tenang, tarik napas dulu. Apa yang terjadi? Coba ceritakan pelan-pelan."
Dengan bimbingan Sofia, Lev menceritakan semua yang terjadi. Mulai dari ia yang panik di lobi, sampai petugas resepsionis yang cuek. Sofia mendengarkan dengan sabar, kadang tertawa, kadang memberikan ide.
"Oke. Begini. Besok pagi, kamu kembali ke stasiun. Hubungi bagian penyimpanan barang hilang. Tapi jangan pakai bahasa isyarat. Tunggu sebentar," kata Sofia. Lev mendengar suara Sofia mengetik sesuatu di keyboard. "Saya kirimkan kamu kalimatnya dalam bahasa Rusia. Kamu tinggal tunjukkan saja ke petugasnya. Dan kirimkan saya foto koper yang salah ini, siapa tahu kita bisa melacaknya."
Lev merasa lega. Ia tidak sendirian. Ia punya Sofia.
Keesokan harinya, Lev kembali ke stasiun Chelyabinsk. Ia membawa koper yang salah bersamanya. Ia mencari bagian Lost and Found, lalu menunjukkan tulisan dari Sofia di layar ponselnya kepada petugas.
Petugas yang tampaknya lebih ramah dari resepsionis hostel, membaca pesan itu, lalu mengangguk-angguk. Ia memeriksa nomor stiker bagasi yang ada di koper Lev. Ternyata, pemilik koper Lev sudah melapor. Koper Lev sudah ditemukan di stasiun lain.
Namun, ada masalah lain. Koper itu harus dikirim kembali ke Chelyabinsk. Prosesnya butuh waktu, dan biaya.
Lev kembali menelepon Sofia. "Sofia, butuh biaya untuk kirim kopernya."
Sofia terdiam sejenak. "Baik. Jangan khawatir. Kamu atur saja. Nanti aku kirim uangnya. Kamu kan pahlawanku, masa aku biarkan pahlawanku tanpa kostum," canda Sofia.
Lev merasa tidak enak. "Tidak usah, Sofia. Saya bisa bayar sendiri."
"Lev. Jangan mulai. Ini bagian dari petualangan, kan? Kamu sudah menolong banyak orang, sekarang biarkan aku menolongmu. Anggap saja ini balas budi. Lain kali kamu ajak aku main perahu di Martapura," bujuk Sofia.
Akhirnya Lev mengalah. Sofia mengirimkan sejumlah uang yang cukup untuk mengurus koper itu. Lev pun mengurus semua dokumen dan pembayaran. Ia merasa lega, koper kesayangannya akan segera kembali.
Beberapa hari kemudian, koper Lev akhirnya tiba. Lev menerimanya dengan senyum lebar, seolah menerima hadiah Natal. Ia langsung menghubungi Sofia, memberi tahu kabar baik.
"Tuh kan! Aku bilang juga apa. Semuanya akan baik-baik saja," kata Sofia. "Sekarang, koper kamu sudah kembali. Apalagi? Kamu harus eksplor Chelyabinsk!"
Lev merasa sangat berterima kasih. Ia tahu, tanpa bantuan Sofia, ia pasti sudah panik dan kesulitan. Persahabatan mereka, meskipun terpisah oleh ribuan kilometer, terasa semakin kuat. Mereka tidak hanya berbagi tawa, tetapi juga berbagi kesulitan. Lev belajar bahwa bantuan bisa datang dari siapa saja, bahkan dari sahabat yang baru dikenal. Dan Sofia belajar bahwa petualangan bisa terjadi di mana saja, bahkan dari cerita sahabatnya di seberang benua. Koper yang salah itu, ternyata, adalah pengingat bahwa di setiap kesulitan, selalu ada kebaikan yang menanti.
