Anatasya pulang dari kafe dengan perasaan yang tidak karuan. Ada rasa malu, tetapi juga rasa senang yang tidak bisa ia pungkiri. Ia merasa Lev Ryley telah melihat sisi lain dari dirinya, sisi yang tidak hanya serius dan teratur, tetapi juga ceroboh dan sedikit konyol.
Malam itu, Anatasya tidak bisa tidur. Pikirannya terus berputar pada percakapannya dengan Lev di kafe. "Aku suka drama... Kekacauan yang kau ciptakan... menarik." Kata-kata itu terus terngiang di telinganya.
Keesokan paginya, ia datang ke perpustakaan dengan resolusi baru. Ia akan lebih berani. Ia tidak akan lagi menghindari Lev. Ia akan mencoba untuk mengenalnya lebih jauh, bukan dengan cara yang dramatis, tetapi dengan cara yang tulus.
Ia memulai harinya dengan membersihkan mejanya. Ia melihat sebuah buku tebal berwarna cokelat, sama seperti buku yang dibaca Lev Ryley saat pertama kali mereka bertemu. Anatasya merasa ada sesuatu yang menarik di dalamnya.
Ia mengambil buku itu, dan membukanya. Di dalamnya, ia menemukan sebuah post-it kecil, sama seperti post-it yang ia temukan di buku The Republic. Kali ini, tulisan di post-it itu berbeda: "Apa yang kau cari di antara tumpukan buku, jika yang kau cari ada di dekatmu?".
Anatasya terkejut. Pesan itu terasa lebih personal. Ia melihat ke arah Lev Ryley. Pria itu masih duduk di kursinya, membaca buku. Anatasya merasa ia sedang dipermainkan. Ia merasa Lev Ryley sengaja meninggalkan pesan-pesan itu untuknya.
Ia memutuskan untuk tidak mengabaikannya. Ia berjalan ke arah Lev Ryley, dengan buku di tangannya.
"Lev," kata Anatasya.
Lev Ryley mendongak, matanya bertemu dengan mata Anatasya.
"Apa ini darimu?" tanya Anatasya, menunjukkan post-it itu.
Lev Ryley tersenyum. Bukan senyum geli, tetapi senyum yang ramah. "Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan."
Anatasya merasa frustrasi. "Jangan bermain-main denganku. Aku tahu ini darimu."
"Kau terlihat seperti sedang berada dalam film detektif," kata Lev Ryley, dengan nada yang geli.
Anatasya merasa kesal. "Aku serius. Aku ingin tahu."
Lev Ryley menutup bukunya. Ia menatap Anatasya. "Anatasya Karlsson, kau adalah pustakawan paling ceroboh yang pernah aku temui."
"Itu bukan jawaban," kata Anatasya.
"Dan kau juga adalah pustakawan paling penasaran yang pernah aku temui," kata Lev Ryley. "Apa yang kau cari?"
"Aku... aku mencari tahu tentangmu," kata Anatasya, dengan nada yang sedikit malu.
Lev Ryley tersenyum. "Kenapa?"
"Karena kau... menarik," kata Anatasya.
Lev Ryley tertawa. Bukan tawa yang ditahan, tetapi tawa yang lepas. "Menarik? Aku hanya pria yang suka membaca buku."
"Kau lebih dari itu," kata Anatasya, dengan nada yang lebih serius. "Kau... kau adalah pria yang meninggalkan petunjuk aneh di buku. Kau adalah pria yang membantuku membersihkan kekacauan yang aku buat. Kau adalah pria yang tertawa saat aku terjatuh. Kau adalah pria yang membuatku... merasa hidup."
Lev Ryley menatap Anatasya, matanya dipenuhi dengan kehangatan. "Anatasya Karlsson, kau adalah pustakawan paling jujur yang pernah aku temui."
"Jadi... apa yang akan terjadi sekarang?" tanya Anatasya.
"Sekarang," kata Lev Ryley, "kita akan pergi minum teh. Di luar perpustakaan."
Anatasya terkejut. "Kencan?"
"Kencan," kata Lev Ryley, tersenyum.
Anatasya merasa hatinya berdebar. Ia merasa hidupnya tidak lagi tentang buku yang tersusun rapi. Hidupnya kini tentang kencan, tawa, dan pria misterius yang ternyata tidak lagi misterius. Ia tahu, ini adalah awal dari kekacauan yang lebih besar. Dan kali ini, ia tidak takut. Ia merasa... siap.
