Fajar di Singapura tidak datang dengan tergesa-gesa; ia merangkak naik perlahan, membingkai siluet ikonik gedung pencakar langit dengan palet warna oranye, merah muda, dan ungu yang memesona. Di sebuah unit apartemen HDB yang menghadap langsung ke arah perairan Teluk Marina, alarm ponsel Pak Imran berdendang merdu—lantunan azan Subuh yang menyejukkan.
Imran, seorang insinyur sipil paruh baya dengan uban tipis di pelipisnya, membuka matanya perlahan. Napasnya teratur, menandakan istirahat malam yang cukup. Ia melirik jam digital di nakas: pukul 05:45 tepat. Sebuah waktu yang sempurna untuk memulai hari yang baru, penuh berkah, di kota yang tidak pernah tidur sepenuhnya ini. Singapura adalah rumah baginya dan keluarganya selama dua puluh tahun terakhir. Mereka adalah bagian dari minoritas Muslim yang hidup berdampingan secara harmonis di negara multikultural ini, dan Imran selalu bersyukur atas ketenangan dan keteraturan yang ditawarkan kota ini.
Dengan gerakan yang sudah terbiasa selama puluhan tahun, Imran beringsut dari tempat tidur, memastikan selimut sang istri, Aisyah, tetap menyelimuti tubuhnya dengan nyaman. Aisyah, seorang desainer busana Muslim lokal yang sedang naik daun, masih terlelap, kelelahan setelah menyelesaikan pesanan desain terbarunya hingga larut malam. Imran tersenyum maklum.
Setelah membersihkan diri dan berwudu di kamar mandi, Imran mengenakan baju kokonya dan menggelar sajadah di sudut ruangan yang telah ditata rapi. Cahaya fajar mulai merembes masuk melalui jendela besar, menawarkan pemandangan langsung ke arsitektur futuristik Marina Bay Sands yang megah, tampak seperti kapal raksasa yang bersandar di atas tiga menara. Di kejauhan, kubah emas Masjid Sultan di Kampong Glam samar-samar terlihat, sebuah pengingat visual akan akar sejarah Islam di pulau ini. Pemandangan ini selalu menginspirasinya; sebuah jembatan nyata antara modernitas yang gemerlap dan tradisi yang kokoh.
"Allahu Akbar..." takbiratul ihram Imran memecah kesunyian subuh, memulai percakapan spiritualnya dengan Sang Pencipta.
Beberapa menit kemudian, setelah salam penutup, Imran melipat sajadahnya dengan khusyuk. Tugas selanjutnya adalah membangunkan anak-anaknya untuk salat Subuh. Sebuah misi yang, jujur saja, terkadang membutuhkan kesabaran ekstra, terutama untuk anak lelakinya yang beranjak remaja.
Ia menuju kamar Adam, putra keduanya yang duduk di bangku SMA. Imran mengetuk pintu kayu berwarna krem itu perlahan. Tidak ada jawaban. Ia mencoba lagi, sedikit lebih keras kali ini. Tetap hening.
Imran membuka pintu perlahan. Kamar Adam berantakan khas remaja, dengan tumpukan buku pelajaran dan beberapa action figure berserakan di meja belajarnya. Adam sendiri, dengan rambut jabrik dan posisi tidur bak kepiting terbalik, tampak pulas di kasurnya.
"Adam, anakku, bangun. Subuh sudah masuk," bisik Imran lembut, sambil menepuk bahu Adam pelan.
Adam hanya menggeliat, mengeluarkan erangan samar yang lebih mirip suara kucing kecepit. "Lima menit lagi, Abi... mimpiin rendang Padang nih..." gumamnya, masih terpejam erat.
Imran menahan tawa. Selera humor Adam memang sering muncul di saat-saat paling tidak terduga, bahkan dalam keadaan setengah sadar. Kali ini, Imran menggunakan jurus pamungkasnya: sedikit kecupan di pipi dan sentuhan dingin ujung jarinya di telinga Adam.
"Astaghfirullah! Dingin, Bi!" Adam langsung melonjak kaget, matanya terbelalak. Dia melihat Abinya tersenyum simpul.
"Sudah siang, anak muda. Ambil air wudu sana. Jangan sampai rendang di surga keburu habis," goda Imran.
Adam mengucek matanya, akhirnya sadar sepenuhnya. "Siap, Komandan!" katanya sambil memberi hormat asal-asalan dan ngeloyor ke kamar mandi. Misi selesai.
Setelah memastikan Adam terbangun, Imran beralih ke kamar Zahra, putri sulungnya yang sedang menempuh studi arsitektur di universitas lokal ternama. Zahra selalu lebih disiplin soal waktu. Ketukan Imran disambut dengan suara lembut dari dalam: "Ya, Abi, Zahra sudah bangun."
Di kamarnya yang rapi jali, Zahra sudah selesai salat dan sedang duduk di meja belajarnya, menggambar sketsa. Di dinding kamarnya, terpasang poster besar peta jalur MRT Singapura dan beberapa foto proyek arsitektur ternama, termasuk The Helix Bridge yang melengkung indah di dekat Bayfront.
"Tumben sudah rapi, Kak? Ada kelas pagi?" tanya Imran, bangga melihat anaknya yang tekun.
"Iya, Bi. Ada revisi site plan buat proyek kampus. Mau cepat selesai biar bisa jalan-jalan ke Singapore Botanic Gardens akhir pekan nanti cari inspirasi," jawab Zahra, matanya berbinar penuh semangat.
"Bagus, Nak. Keseimbangan antara kerja keras dan rekreasi itu penting. Abi duluan ke dapur ya, mau buat teh."
Imran kembali ke dapur, hatinya dipenuhi rasa syukur. Kehidupan mereka di Singapura memang penuh dinamika, tetapi fondasi keluarga tetap kokoh. Tak lama kemudian, Aisyah juga bergabung di dapur, dengan jilbab instan yang sudah menutupi auratnya.
"Semua sudah bangun, Bang?" tanya Aisyah lembut sambil mulai menyiapkan sarapan sederhana.
"Sudah, Alhamdulillah. Adam sempat drama rendang sebentar," jawab Imran sambil tertawa.
Mereka berdua bekerja sama di dapur kecil mereka yang efisien, ditemani pemandangan kota yang semakin terang. Dari jendela itu, mereka bisa melihat lalu lintas mulai padat di East Coast Parkway (ECP), urat nadi transportasi yang menghubungkan berbagai penjuru Singapura.
Beberapa menit kemudian, seluruh keluarga berkumpul di meja makan. Aroma roti bakar dan telur setengah matang memenuhi ruangan. Hawa, si bungsu yang baru kelas lima SD, sudah duduk manis dengan seragam sekolahnya, siap melahap sarapan.
"Abi, kemarin di sekolah Hawa belajar tentang berbagai agama di Singapura. Ternyata seru ya, kita bisa hidup bareng-bareng sama teman yang beda-beda agamanya," celoteh Hawa riang.
"Tentu saja, Nak. Itulah indahnya Singapura. Keharmonisan itu bukan cuma kebetulan, tapi sesuatu yang kita jaga sama-sama," jawab Imran, menatap mata Hawa penuh kasih.
Adam, dengan mulut penuh roti, menyahut: "Iya, Bi. Kayak di kantin sekolah. Ada yang makan nasi lemak, ada yang makan mi goreng India, ada yang makan roti prata. Yang penting semua halal lor!" Logat Singlish Adam yang khas membuat semua orang tertawa.
Pagi itu, di bawah bayang-bayang arsitektur megah Singapura, keluarga Imran memulai hari mereka dengan penuh tawa, cinta, dan rasa syukur. Harmoni Bayfront, kisah mereka baru saja dimulai.
