Januari 2026 terasa lebih dingin dari biasanya, namun suasana di perbatasan pagar rumah nomor 12 dan 14 justru menghangat dengan cara yang unik. Muhammad Hifni, yang biasanya hanya peduli pada laporan kinerja bulanan dan akurasi tunjangan kinerja, kini punya hobi baru: mengintip dari balik gorden untuk memastikan apakah tetangga barunya benar-benar tidak punya kaitan masa lalu dengannya.
"Yah, itu gorden kalau ditarik terus bisa copot relnya," tegur Rina Rufida sambil melipat seragam sekolah Khalisah. "Lagian, kenapa sih Ayah kayak agen rahasia begitu? Takut drg. Dina itu mantan Ayah waktu kuliah di Banjar dulu?"
Hifni terbatuk kecil, merapikan kemeja batiknya yang sudah rapi. "Ngawur Bunda ini. Ayah itu cuma memastikan keamanan lingkungan. Sebagai ASN yang baik, kita harus tahu siapa warga baru kita. Lagipula, nama 'Salsabila' itu kan artinya 'Mata Air di Surga'. Ya wajar kalau populer."
Rina terkekeh. "Populer sih populer, tapi kalau nama belakangnya persis 'Salsabilla' dengan dua huruf 'L', itu namanya konspirasi semesta atau selera yang pas-pasan."
Sementara itu, di halaman depan, "diplomasi" yang jauh lebih jujur sedang berlangsung. Khalisah Salsabilla, yang akan genap berusia 6 tahun bulan Februari nanti, berdiri di atas bangku kecil agar bisa melihat ke balik pagar tembok.
"Namanya siapa?" tanya Khalisah pada anak perempuan di depannya.
"Naura. Naura Salsabilla," jawab anak itu sambil mengelus Snowy, kucing Persia yang hidungnya sangat pesek hingga terlihat seperti menabrak tembok. "Ini Snowy. Dia nggak suka debu, jadi harus di dalam tas kalau di luar."
Khalisah melongo. "Kucing kok nggak boleh kena debu? Kucing di pasar dekat kantor Ayah malah hobinya tidur di atas tumpukan karung beras. Namanya Si Belang."
Naura mengerutkan kening. "Si Belang? Itu kucing apa? Apa dia punya sertifikat?"
"Sertifikat?" Khalisah bingung. "Dia cuma punya ekor pendek dan suara yang keras kalau minta ikan asin. Dia nggak butuh surat-surat, dia kan bukan mobil Ayah."
Perdebatan filosofis tentang kasta kucing itu terhenti saat drg. Dina keluar membawa nampan berisi kue bolu. "Eh, ada Khalisah. Ini tante ada bolu karamel, mau?"
Hifni yang melihat momen itu dari jendela, merasa tidak enak jika tidak keluar. Dengan langkah tegap khas PNS yang akan menghadap atasan, ia membuka pintu. "Wah, repot-repot sekali Bu Dokter."
"Panggil Dina saja, Pak Hifni. Kita kan tetangga," ujar Dina ramah. "Ini Naura lagi pamer Snowy ya? Dia memang agak manja karena dari kecil di ruangan ber-AC terus."
"Anak saya, Khalisah, malah kebalikannya, Bu Dina," sela Rina yang tiba-tiba muncul di samping Hifni. "Dia lebih suka mengejar kucing kampung yang suka masuk lewat celah dapur. She prefers local cats, I guess," tambahnya dengan aksen guru bahasa Inggris yang tak bisa hilang.
Dina tertawa renyah. "Lucu ya, namanya sama, umurnya hampir sama, hobinya sama, cuma seleranya beda. Naura suka yang 'mahal', Khalisah suka yang 'merakyat'. Persis kayak profesi orang tuanya mungkin?"
Hifni tersenyum kecut, merasa tersindir halus karena ia memang PNS yang sangat menjaga pengeluaran. Namun, suasana cair saat tiba-tiba seekor kucing lokal berwarna oranye-putih (Si Belang) melompat ke atas pagar. Snowy yang di dalam tas langsung mengeong pelan, sementara Si Belang menatap Snowy dengan tatapan "senior" yang intimidatif.
"Tuh, lihat! Si Belang mau kenalan!" seru Khalisah kegirangan.
"Ih, jangan dekat-dekat! Nanti Snowy ketularan kutu!" Naura menarik tas kucingnya menjauh.
Di ambang pintu, kedua keluarga itu saling pandang. Ada tawa yang tertahan dan ada kecanggungan yang perlahan sirna. Di bulan Januari ini, mereka belum tahu bahwa sebentar lagi, saat hilal Ramadhan 2026 terlihat, kedua kucing dan kedua Salsabila ini akan menjadi pusat kehebohan di kompleks perumahan tersebut.
Hifni melirik jam tangannya. "Waduh, sudah jam 07.15! Bunda, Ayah berangkat dulu! Nanti telat e-Presensi!"
"Hati-hati, Yah! Jangan lupa beli cat food yang biasa buat Si Belang!" teriak Rina.
Dina tersenyum melihat kesibukan pagi keluarga Hifni. "Pak Hifni," panggilnya sebelum Hifni masuk mobil. "Nanti malam ada pengajian bulanan di masjid kompleks. Katanya mau bahas persiapan Ramadhan dan jadwal imam tarawih. Datang ya?"
"Insya Allah, Bu Dokter. Sebagai warga yang taat aturan, saya pasti hadir," jawab Hifni mantap, meski dalam hati ia mulai menghitung berapa hari lagi ia harus mulai melatih Khalisah bangun sahur—tugas yang biasanya lebih berat daripada menyusun Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP).
Fakta Menarik untuk Pembaca:
Kesehatan Hewan: Tahukah Anda? Interaksi anak dengan kucing dapat meningkatkan kecerdasan emosional (EQ) dan rasa empati. Pastikan kucing Anda sudah divaksinasi. Informasi lengkap mengenai vaksinasi hewan bisa ditemukan di Persatuan Dokter Hewan Indonesia (PDHI).
Pendidikan Anak: Memasuki usia 6 tahun seperti Khalisah adalah masa transisi penting menuju Sekolah Dasar. Orang tua bisa mulai mengenalkan konsep tanggung jawab melalui tugas sederhana merawat hewan peliharaan. Cek kesiapan sekolah anak di Panduan Kemendikbud.
