Di sebuah sudut kota Kandangan, tepat di mana aliran Sungai Amandit memberikan kesejukan bagi penduduknya, terdapat sebuah pemukiman yang dikenal dengan nama Gang Taqwa. Kota Kandangan sendiri, yang merupakan ibu kota dari Kabupaten Hulu Sungai Selatan, selalu memiliki aroma khas di pagi hari: perpaduan antara aroma kayu ulin yang basah terkena embun, harum pembakaran arang dari warung Ketupat Kandangan yang mulai beroperasi, dan tentu saja, udara bersih dari pegunungan Meratus yang masih menyapa sayup-sayup. Di sinilah, dua keluarga dengan karakter yang bertolak belakang namun dipersatukan oleh dinding pagar kayu yang sama, memulai hari mereka setiap pagi.
Waktu menunjukkan pukul 04.45 WITA. Suara azan subuh dari Masjid Taqwa yang megah baru saja usai menggetarkan angkasa. Di rumah nomor 12, Bapak Rahman Hakim sudah rapi dengan sarung samarinda berwarna hijau lumut dan koko putih bersih yang disetrika licin oleh istrinya, Ibu Aminah. Pak Rahman adalah seorang Guru PNS senior yang mengabdi di sebuah Madrasah Aliyah Negeri. Kehidupannya adalah cerminan dari ketelitian matematika yang ia ajarkan di kelas: teratur, tenang, dan penuh perhitungan. Namun, jika ada satu hal yang bisa membuat seorang guru matematika yang kaku ini tersenyum sendirian, itu adalah koleksi anggreknya.
Sesaat sebelum melangkah ke masjid, Pak Rahman menyempatkan diri singgah di teras samping. Di sana, berderet pot-pot gantung yang berisi Dendrobium, Phalaenopsis, hingga anggrek macan (Grammatophyllum speciosum) yang legendaris. Bagi Pak Rahman, anggrek adalah analogi dari seorang murid. "Dia tidak butuh banyak tanah, dia hanya butuh udara yang bersih dan kesabaran untuk melihatnya mekar," bisiknya pelan sembari menyentuh kelopak anggrek bulan yang putih bersih. Baginya, merawat anggrek adalah bentuk zikir pagi yang menenangkan jiwa sebelum menghadapi hiruk-pikuk puluhan murid di sekolah.
Namun, ketenangan spiritual Pak Rahman biasanya hanya bertahan tepat sampai ia mendengar suara pintu pagar sebelah terbuka dengan kasar.
Gubrak!
"Astagfirullah!" Pak Rahman mengelus dada.
Dari rumah nomor 14, muncul sesosok pria dengan langkah yang gagah namun terburu-buru. Itulah Bapak Ahmad Subarjo. Jika Pak Rahman adalah personifikasi dari ketenangan anggrek, maka Pak Ahmad adalah perwujudan dari semangat membara bunga mawar. Pak Ahmad bekerja di Kantor Pemda (Pemerintah Daerah) Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Sebagai seorang pejabat eselon yang sering berurusan dengan protokoler dan rapat-rapat mendadak, hidupnya selalu dalam ritme "cepat, tepat, dan tuntas".
"Eh, Pak Guru! Masih asyik pacaran sama tanaman ya?" seru Pak Ahmad dengan suara baritonnya yang khas, sambil membetulkan letak peci hitamnya yang sedikit miring.
Pak Rahman menoleh dan tersenyum tipis, jenis senyum yang hanya dimiliki oleh orang yang sudah terbiasa sabar menghadapi tetangga yang super aktif. "Ini namanya tadabbur alam, Pak Ahmad. Menenangkan hati sebelum mengajar. Bapak sendiri, kok kelihatannya semangat sekali pagi ini?"
Pak Ahmad tertawa lebar, sebuah tawa yang cukup keras untuk membangunkan ayam tetangga lainnya. "Tentu saja! Hari ini ada kunjungan kerja dari provinsi. Kita harus sat-set, Pak Guru! Seperti mawar saya ini," ia menunjuk ke arah halaman rumahnya yang dipenuhi mawar merah merona dan kuning cerah. "Lihat mawar-mawar saya ini, Pak. Mereka berani, mencolok, dan punya duri untuk melindungi diri. Tidak lembek seperti... ya, maaf saja, anggrek Bapak yang harus digantung-gantung manja itu."
Perdebatan kecil ini adalah menu sarapan wajib bagi warga Gang Taqwa yang lewat menuju masjid. Pak Rahman biasanya hanya akan membalas dengan kalimat bijak yang membuat Pak Ahmad terdiam sejenak untuk berpikir. "Mawar memang indah dengan durinya, Pak Ahmad. Tapi ingat, anggrek tidak butuh duri untuk dihormati. Dia cukup dengan keanggunannya, ia bisa tumbuh di tempat yang tinggi tanpa harus menyakiti tangan yang memegangnya."
"Wah, mulai sudah ceramah matematikanya dicampur sastra!" Pak Ahmad terkekeh, namun ia tetap melangkah beriringan dengan Pak Rahman menuju masjid.
Di belakang mereka, drama kecil lainnya terjadi. Ibu Aminah, istri Pak Rahman, keluar untuk menyapu halaman dengan sapu lidi. Tak lama kemudian, Ibu Fatimah, istri Pak Ahmad, muncul dengan selang air di tangan. Jika suami mereka berdebat soal filosofi bunga, para ibu ini berdebat soal hal yang lebih praktis: pupuk.
"Bu Aminah, itu anggreknya apa tidak kurang gizi? Kok kurus begitu? Ini lho, mawar saya saya kasih pupuk kandang asli dari peternakan di Padang Batung, gemuk-gemuk kan?" tanya Bu Fatimah dengan nada bercanda namun tetap ada unsur pamer yang halus.
Bu Aminah hanya tersenyum simpul sembari terus menyapu. "Anggrek itu dietnya beda, Bu Fatimah. Dia tidak suka yang terlalu 'berat'. Kalau mawar memang harus banyak makan supaya durinya tajam, ya?"
Kedua wanita itu kemudian tertawa bersama. Di Gang Taqwa, perbedaan pendapat adalah bumbu kehidupan. Di kota Kandangan yang agamis ini, mereka diajarkan bahwa tetangga adalah saudara terdekat. Meski Pak Rahman dan Pak Ahmad sering beradu argumen tentang bunga kesayangan mereka, atau tentang siapa yang paling rajin membersihkan selokan, mereka adalah orang pertama yang akan berlari membawa bantuan jika salah satu dari mereka kesulitan.
Pagi itu, di bawah langit Kandangan yang mulai membiru, dua keluarga ini memulai lembaran baru. Sebuah kisah tentang Guru PNS yang teliti dan Pegawai Pemda yang enerjik. Tentang anggrek yang sunyi dan mawar yang ramai. Sebuah harmoni yang tumbuh di sela-sela pagar kayu ulin, membuktikan bahwa di Bumi Antaludin, kebahagiaan sesungguhnya terletak pada bagaimana kita menghargai "warna" bunga di halaman tetangga kita sendiri.
Bab pertama ini barulah pembukaan dari 25 bab penuh tawa, haru, dan hikmah yang akan terjadi di Gang Taqwa. Sebuah tempat di mana doa-doa diucapkan di antara aroma tanah basah dan kelopak bunga yang bermekaran.
Catatan untuk Pembaca:
Kisah ini terinspirasi dari kearifan lokal masyarakat Kalimantan Selatan yang menjunjung tinggi nilai bauntung batuah. Untuk mengetahui lebih banyak tentang pesona wisata dan budaya di tempat novel ini beralur, Anda dapat mengunjungi laman resmi Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Selatan atau mempelajari jenis-jenis flora khas Kalimantan di Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan.
